Menjadi Seorang Penulis Sejati

Illustrasi: latimesblogs.latimes.comPENULIS? Wow! Hebat banget, ya! Jarang-jarang, lho, ada yang bisa menulis! Apalagi menjadi seorang penulis! Keren banget, deh!!! Top markotop!!! Salut!!!

Sebagian pujian dan komentar dari banyak orang terhadap penulis. Ya, kan? Pasti banyak di antara para Kompasianer yang pernah mendapatkan pujian seperti itu. Terutama bagi mereka yang tulisannya memang bagus, bermanfaat, inspiratif, hiburan, dan memberikan banyak masukan bagi para pembacanya. Tak heran bila banyak sekali orang yang ingin bisa menjadi seorang penulis. Bagus, deh!!! Semakin banyak yang menulis, berarti semakin banyak pula orang yang bisa memberikan banyak manfaat bagi orang banyak. Lanjutkan!!!

Menjadi seorang penulis sejati, sebetulnya, susah-susah gampang. Menulisnya mungkin mudah, inspirasinya juga banyak, tetapi menjadi bisa menulis dengan bahasa yang baik dan benar itu sangatlah tidak mudah. Perlu waktu dan proses belajar serta mengasah keterampilan. Maaf nih, sebagai seorang mantan editor di majalah, saya sangat memperhatikan hal-hal yang sangat kecil termasuk dari tata bahasanya. Contohnya saja membedakan imbuhan “di-”. Masih banyak sekali yang tidak bisa membedakan, kapan imbuhan ini harus disambung dan dipisah. Dibenahi? Disambung apa dipisah? Di saat? Disambung atau dipisah? Belum lagi penggunaan kata majemuk dan kata pengulangannya. Masih banyak yang tidak mengikuti kaidah tata bahasa yang baik dan benar.

Penggunaan tanda baca juga masih banyak yang bingung. Kapan, ya, tanda koma dipakai? Bagaimana dengan tanda kutip? Tanda seru? Titik? Masalahnya, ini bukan sesuatu yang sepele bagi seorang penulis sejati. Tanda baca sangat berpengaruh terhadap bagaimana pembaca membaca tulisan. Bagaimana pembaca bisa menikmati tulisan. Bagaimana juga pembaca bisa mengerti tulisan. Salah penempatan tanda baca, bisa berakibat salah pengertian. Membuat capek pembaca. Membuat pembaca jadi malas membaca sampai tuntas. Coba, deh, perhatikan tulisan penulis-penulis yang sudah berpengalaman seperti Mbak Linda, Kang Pepih, atau Mbak Pipiet. Beliau-beliau ini semua sangat memperhatikan tanda baca.

Gaya bahasa juga menurut saya kurang diperhatikan. Masih banyak yang asal jiplak. Tidak sedikit yang tidak bisa membedakan gaya bahasa antara bahasa sehari-hari, bahasa SMS dan chat, dengan bahasa dalam sebuah artikel, novel, atau karya tulis lainnya. Memang betul, setiap orang harus memiliki gaya bahasa sendiri, tetapi jangan pernah melupakan etika dan tata bahasa, dong! Hargailah bahasa Indonesia! Ini bahasa kita, lho! Bahasa yang menunjukkan jatidiri kita sebenarnya. Coba lihat tulisannya Pak Pray dan Pak Chappy! Bahasa Indonesia beliau-beliau ini sangatlah baik dan benar. Bila ingin menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing, perhatikanlah tata bahasanya juga. Bila ingin dihargai lewat bahasa, hargailah dahulu bahasa yang ingin digunakan. Jangan sembarangan, ya! Jujur saja, saya suka sedih melihatnya!

Perhatikanlah setiap kata-kata yang ingin digunakan. Usahakan untuk tidak menggunakan pengulangan kata di dalam setiap paragrafnya. Jumlah kata yang dikuasai oleh penulis, menunjukkan kualitas dari seorang penulis. Semakin banyak jumlah kosa kata berbeda dalam sebuah tulisan, semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh seorang penulis. Makanya, banyak baca. Membaca akan sangat membantu menambah jumlah kosa kata dalam kamus di dalam otak kita. Tidak harus selalu menggunakan kata-kata yang ruwet biar kelihatan canggih dan hebat juga, terkadang kata-kata yang sederhana dan mudah dicerna akan lebih membantu pembaca untuk bisa mengerti apa maksud dari tujuan dari penulis. Lihat tulisannya Bang Andy Syoekry Amal dan Prof.Nurtjahjadi! Sederhana sekali tetapi memiliki daya tarik yang sangat kuat untuk bisa memprovokasi pembacanya. Tak heran bila setiap tulisan mereka berhasil mendapat tanggapan yang luar biasa dari para pembacanya.

Memisahkan paragraf juga terkadang sering rancu. Ini berarti, belum paham apa yang menjadi inti dan pokok dari pemikiran pada tulisan. Belum juga bisa membedakan mana kalimat yang deduktif, induktif, naratif, atau deskriptif. Makanya, kemudian, banyak penulis yang mentok di tengah jalan saat menulis. Awalnya sudah bagus, giliran di tengah dan akhirnya, jadi berantakan. Bingung duluan, sih?!

Buku karya Goryss Keraff, yang isinya tentang panduan menulis dengan tata bahasa yang baik dan benar, seperti harus menjadi pegangan setiap penulis, deh! Buku karya Muhaimin juga perlu! Buku-buku itu sudah lama terbitnya, dan harganya pun relatif murah. Hanya berkisar antara Rp. 20.000,- – Rp. 30.000,-. Banyak, kok, di toko buku!!! Sangat bermanfaat sekali bagi mereka yang memang ingin menjadi seorang penulis sejati.

Satu lagi, nih! Soal tanggung jawab. Seorang penulis sejati berani bertanggung jawab atas semua tulisan yang dibuatnya. Kenapa? Pengaruh dari tulisan bukanlah main-main, tetapi sangat besar! Salah-salah menulis, bisa membuat pembaca tergelincir ke area yang salah dan pemikiran yang salah. Berapa banyak orang bunuh diri hanya karena membaca sebuah tulisan? Tidak usah jauh-jauhlah! Bagaimana efek dari tulisan “Ceritapuri” terhadap Kompasianer? Besar banget, kan?! Oleh karena itu, cobalah selalu untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Menulis sesuatu dengan penuh tanggung jawab. Tidak asal!!! Tidak sembarangan!!! Jika berani menulis, harus berani juga mempertanggungjawabkan efek yang ditimbulkan dari tulisan yang telah dibuat.

Jangan pernah iri dengan para penulis sejati yang tulisannya selalu diminati oleh para pembaca. Justru seharusnya ini dipergunakan sebagai sarana untuk belajar bagaimana bisa menjadi seorang penulis sejati. Perhatikanlah cara mereka menulis. Tanyakanlah kepada mereka semua bagaimana mereka bisa sampai bisa menulis seperti itu. Pasti bukan hasil kerja sebulan dua bulan, tetapi tahunan. Berdarah-darah dan penuh dengan tangis pula. Namun semua itu tidak sia-sia, kan? Popularitas akan datang dengan sendirinya bila kita bisa menulis dengan baik dan benar serta bertanggung jawab. Tidak perlu repot-repot meminta tolong teman yang jagoan IT pula untuk mendongkrak popularitas. Untuk apa, sih? Lebih penting bisa menjadi seorang penulis sejati daripada hanya sekedar menjadi seorang penulis yang ngetop hanya untuk mendapat kritikan pedas dan tajam karena kualitas tulisan yang buruk.

Yakinlah kalau kita bisa!!! Pasti bisa!!! Harus bisa!!! Tidak ada kata tidak mungkin selama kita terus berusaha keras. Jangan pernah takut untuk salah, tetapi teruslah belajar dari kesalahan yang pernah kita buat. Asah dan latihlah terus kemampuan menulis!!! Satu hari nanti, Anda akan tercengang sendiri melihat hasil karya tulisan yang Anda buat!!!

Semoga saja tulisan ini bisa membantu para Kompasianer untuk bisa terus menulis dengan lebih baik lagi. Semangat, ya!!!

28 November 2009

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Sexy Writing Skill and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Menjadi Seorang Penulis Sejati

  1. Rara says:

    it’s inspire me to write and write….thanks…

  2. Urip.wp.com says:

    Sepertinya saya dapat guru untuk memahami teknik menulis yang benar dari bilik ini. Hatur nuhun…

  3. ardian sad says:

    walau tak ada sertifikat resmi, saya sudah menganggap mbak sebagai mentor saya . terima kasih mbak-ku mariska lubis, saya mencintai karya mbak.

    salam kompak selalu.

  4. avartara says:

    Terimakasih Mbak ML atas pelajaran singkatnya, ternyata menjadi “penulis sejati” itu tidaklah mudah, ada aturan mainnya dan banyak rambu yang harus dipatuhi, tapi harus tetap melangkah…..

    • bilikml says:

      Menjadi seorang penulis sejati harus memiliki “rasa” dan “kepekaan” yang tinggi… sangat tidak mudah dan banyak tantangannya… tapi di situlah seninya bukan? semangat!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s