Orang Tua dan Anak; Berbakti dan Pengabdian

Stop!!! Illustrasi: angelsthatcare.org

Seringkali kita tidak menyadari apa yang terjadi dengan lingkungan, bahkan dengan keluarga sendiri. Banyak sekali anak yang menjadi korban karena keegoisan orang tua dan keluarga sehingga harus menderita sekali. Tidak juga mau mencoba untuk mencari tahu akar permasalahan tetapi terus saja menuding dan menuduh. Anak pun bukannya semakin “sembuh” tetapi malah semakin parah meskipun merasa sangat sayang dan sangat cinta. Namun apa yang dilakukan justru malah menjerumuskannya ke dalam lubang yang lebih hitam dan dalam.

Seorang perempuan muda mengalami trauma yang sangat parah. Dia selalu merasa takut dan ketakutan. Saking takutnya, tubuhnya bisa menggigil, pucat, dan muntah-muntah. Bahkan sudah sering dia pingsan.

Keluarga yang sebelumnya tidak pernah melihatnya seperti itu menuduhnya menggunakan obat-obatan terlarang. Memang tidak bisa disalahkan juga, mengingat situasi dan keadaan sekarang ini ditambah lagi bila tidak memiliki pengetahuan yang mendalam soal penderita narkoba. Dia pun dipaksa untuk masuk ke panti rehabilitasi meskipun terbukti dari hasil tes darah bahwa dia bersih dari obat-obatan terlarang.

Yang membuat saya miris, semua sudah terjadi tetapi kenapa tidak juga ada yang mau memberinya cinta dan kasih sayang yang tulus?! Dia bahkan dituduh telah memberikan cinta yang palsu karena telah berusaha memberikan yang terbaik untuk adik dan keluarganya. Padahal, adiknya sendiri yang memohon agar kakaknya itu bisa sembuh dan sehat agar bisa tetap menjadi tempatnya untuk bersandar. Saya bingung sekali. Kok, bisa terbolak-balik begini, ya?! Siapa yang tulus siapa yang egois?! Lupa barangkali kalau menunjuk yang lain, ada empat jari lain yang menunjuk kepada diri sendiri. Semakin menunjuk dan menuduh, semakin ketahuan siapa yang menunjuk dan menuduh.

Masalah yang dihadapi perempuan ini memang sangat berat sekali. Dia adalah korban pelecehan seksual sewaktu usianya masih belia. Dia terlalu takut untuk mengungkapkan semua ini karena orang yang melakukannya dianggap ”baik” oleh yang lainnya. Meskipun yang dilecehkan bukan hanya dia saja, tetapi saudaranya yang lain pun ada yang mengalami nasib serupa. Saudara senasibnya lebih berani untuk melepaskan diri, sementara dia tidak bisa, apalagi selalu diajarkan untuk selalu mengabdi dan berbakti kepada orang tua. Mengabdi dan berbaktinya, ya, harus nurutlah. Benar atau salah tidak peduli, pokoknya harus nurut saja.

Ajaran agama yang ketat pun tidak kemudian membuatnya menjadi lebih baik. Justru orang yang menjadi pembimbing rohaninyalah yang kemudian menjerumuskannya lagi. Perempuan ini pun harus menjadi budak nafsu lagi dan menjadi penikmat sesama jenis. Dia ingin sekali bisa bercerita yang sesungguhnya, tetapi siapa yang mau percaya?! Mana ada, sih, orang yang taat beribadah melakukan perbuatan tercela?! Yang ada orang yang menuduhnya saja yang gila. Bukti-bukti pun bisa direkayasi. Pokoknya nggak mungkin!!! Bukankah begitu?! Lagipula, bila kebenaran itu diungkapkan apa sudah siap?! Jangan-jangan semakin disiksa lagi?! Semakin dianggap gila dan tidak waras sementara pelaku tetap saja tenang dan bisa melakukannya kepada yang lain. Memang susah, sih, ya, kalau sudah selalu merasa benar!!! Yang lain pasti salah semua!!!

Sadar bahwa semua ini tak mungkin, dia pun mencoba melarikan diri. Berhubung mentalnya tidak stabil dan masih memiliki banyak masalah, melarikan diri ini menjadi merusak dirinya. Dia menjadi semakin tidak terkontrol dan semakin liar. Dia pun terperosok dalam kehidupan yang membuatnya semakin hancur. Kondisi kejiwaannya semakin tidak stabil. Dia pun semakin takut dan ketakutan. Traumanya semakin sering kambuh dan muncul. Duh!!!

Saya mengangkat cerita perempuan ini untuk mengajak semua melakukan introspeksi terhadap diri kita masing-masing. Cerita ini bukanlah fiksi tetapi sebuah kisah nyata dan itulah yang menyedihkannya. Kita seringkali terlalu sombong untuk mau mengakui kesalahan kita lalu menutupinya. Siapa yang menjadi korban sudah tidak dipikirkan lagi. Anak sendiri pun dikorbankan. Sadar disadari, diakui tidak diakui.

Kita sering terjebak dengan kata cinta dan kasih sayang tanpa mau juga mengerti arti dan makna cinta yang sesungguhnya. Bila memang benar cinta kepada anak, kenapa bakti dan pengabdian kepada orang tua dijadikan pembenaran untuk boleh memaksa anak menuruti kehendak dan kemauan orang tua tanpa mengindahkan kemauan dan keinginan anak itu. Tidak juga mau mencoba untuk mengerti dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan dan diinginkan anak itu.

Apa karena dia anak yang telah dibesarkan lalu menjadi berhutang budi?! Apakah dia lalu menjadi berdosa bila tidak mengikuti kehendak dan kemauan orang tuanya?! Apakah bila tidak memberikan apa yang diinginkan orang tuanya maka dia tidak berbakti?! Apakah ini yang namanya cinta, kasih sayang, dan ketulusan?! Memangnya anak itu milik siapa?! Berbakti itu memangnya apa?! Apa berbakti sama dengan mengabdi?! Siapa yang ”abdi” siapa yang ”tuan”?!

Tidak perlu jauh-jauhlah. Coba pikirkan nama saja. Marga bisa menjadi sangat membanggakan tetapi bisa juga menjadi beban. Anak menjadi terikat untuk menjaga nama marga dan keluarga. Menikah pun harus pilih-pilih, tergantung dari marga mana yang sesuai dan pantas. Aneh!!! Memangnya manusia itu dibedakan berdasarkan marga, ya?! Kalau marga yang ini lebih berkelas, yang ini tidak?! Kalau alasannya sedarah, sih, mungkin masih bisa dimengerti, tetapi banyak, kan, justru yang dinikahkan dengan kerabat dekat dengan alasan marga?!

Cinta dan kasih sayang pun hanya dijadikan sarana untuk mengekploitasi kepentingan dan memenuhi hasrat dan keinginan pribadi.Apalagi kalau ujung-ujungnya duit juga. Anak dianggap menjadi tidak tahu diri bila tidak memberikan penghasilannya kepada orang tua tanpa juga mau mengerti bahwa itu semua adalah hasil kerja keras dan jerih payah anak itu. Kalau orang tua boleh bilang kerja keras untuk anak, kenapa anak tidak boleh kerja keras untuk dirinya sendiri dan keluarga serta anak-anaknya juga?! Apakah kita tidak pernah menggunakan uang kita untuk memenuhi kepuasan diri sendiri?! Benar semuanya untuk anak?! Berarti cinta hanya sebatas materi saja, dong?! Kalau nggak kasih duit dan materi, nggak cinta ya?! Apa berarti nggak membantu dan nggak memperhatikan?! Memangnya bantuan dan perhatian hanya bisa dilakukan lewat materi saja?!

Bila memang benar-benar cinta, kenapa tidak menjadikan anak itu sebagai dirinya sendiri?! Kenapa mereka harus menjadi kita?! Mereka berhak untuk menjadi diri mereka sendiri. Jangan berkata ini semua tidak adil bila tidak juga mau memahami apa adil dan keadilan itu sendiri. Jangan menuntut hak bila kewajiban itu belum terpenuhi. Mereka adalah kehidupan di masa depan. Biarkan mereka menjadi diri mereka sendiri.

Orang tua juga seringkali menjadi sombong dengan merasa paling tahu segalanya. Lebih tahu, lebih pintar, lebih pengalaman. Anak tahu apa, sih?! Sebuah konsep dan persepsi yang hanya merupakan pembenaran untuk tidak mau mengakui bahwa sebenarnya anak adalah seorang pribadi tersendiri. Mereka juga belajar dan banyak tahu hal-hal yang mungkin tidak pernah kita ketahui atau kita alami. Apa tahu rasanya dilecehkan seksual bila belum pernah dilecehkan seksual?! Apa memang lebih pintar dalam menangani masalah pemerkosaan bila tidak pernah belajar dan memiliki pengalaman soal ini?!

Jika memang ingin dihormati dan dihargai, hormatilah dan hargailah yang lain, termasuk anak sendiri. Hormat dan penghargaan itu tidak perlu dipaksakan. Hormat dan penghargaan akan datang dengan sendirinya bila kita memang melakukan perbuatan yang terhormat dan perbuatan yang berharga. Jangan pernah berharap hormat dan penghargaan itu datang bila kita memang tidak patut dan layak untuk dihormati dan dihargai. Akui sajalah!!!

Di dalam semua ajaran agama pun diberikan tuntunan bagaimana menjadi orang tua dan bagaimana menjadi anak, juga bagaimana menjadi seorang manusia yang seutuhnya. Bila dipisah-pisahkan tentu saja bisa membuat kerancuan, padahal semua tuntunan itu merupakan sebuah satu kesatuan yang utuh yang tidak bisa diartikan satu persatu dengan begitu mudahnya. Antara tuntutan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan begitu saja. Kita bisa saja dengan mudahnya mengambil kebenaran dari satu tuntunan tetapi cobalah gali apa yang tertulis dalam tuntutan yang sebelum dan sesudahnya untuk bisa lebih mengerti dan memahaminya. Jangan asal bisa baca, tetapi bacalah dengan “mata” dan “hati”. Jangan sombong dan angkuh dengan merasa “paling”. Tidak ada satu pun manusia yang bisa menjadi “paling” dan “ter” karena ada Yang Maha. Dialah yang “paling” dan “ter”.

Jujur saja, saya capek dan muak dengan semua ini. Bagaimana kita bisa memiliki kehidupan yang lebih baik bila kita terus saja melakukan ini semua?! Bagaimana kita bisa membuat masa depan lebih baik bila kita sendiri yang merusak kehidupan di masa depan?!

Ayolah belajar!!! Jujurlah dalam melangkah!!! Akui siapa dan apa kita ini?! Berikanlah selalu yang terbaik!!! Jangan sombong, ya!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

8 Juli 2010

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Freedom, Love, Shocking Sex Facts and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s