Sisi di Balik Penggemar Waria

Illustrasi: anastasyadestiara.blogspot.com

Cerita tentang waria sudah sering kita dengar. Kebanyakan selalu berisi tentang cerita miring yang seringkali menyudutkan mereka dan bahkan memperlakukan mereka seolah bukan manusia. Bagaimana kalau kita mencoba melihat dari sisi yang lain. Apa kabar para pria penggemar waria?! Di manakah kalian bersembunyi?

Saya pernah melakukan riset kecil-kecilan di sebuah sudut kota tempat di mana para waria menjajakan diri. Tidak lama, hanya satu minggu saja. Setiap malam saya ada di antara mereka. Menyaksikan semua tingkah laku dan perilaku mereka juga melakukan wawancara. Tidak lupa juga saya mengamati perilaku para penggemar mereka. Para pria yang sibuk mondar-mandir mencari dan membeli kepuasaan dari para waria. Saya pun mewawancarai beberapa orang diantaranya. Ada juga, sih, yang menawar?! Dikira saya jualan juga. Hahaha….

Seorang bapak berusia sekitar lima puluh tahunan adalah salah satunya. Dia sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak dan bahkan satu orang cucu. Dia bekerja di sebuah instansi pemerintah, yang tidak disebutkan di mananya. Saya juga tidak mau bertanya lebih panjang lagi, karena tidak terlalu menarik untuk saya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan, dan inilah sebagian dari hasil percakapan kami.

“Bapak sering ke sini, ya?”

“Sekali-kali. Kalau sedang iseng saja.”

“Iseng atau memang sedang ingin?”

“Kalau tidak ingin, ya, ngapain juga ke sini?”

“Hanya untuk lihat-lihat saja atau membeli kepuasan juga?”

“Lihat-lihat, sih, pasti, dong! Membeli kalau ada yang saya suka.”

“Sejak kapan bapak melakukan ini?”

“Sudah lama sekali. Sejak saya masih kuliah.”
”Oh, ya?! Jangan-jangan bapak pertama kali berhubungan seks dengan mereka, ya?”

Kok, kamu tahu?!”

“Saya hanya menduga saja. Apa yang mendorong bapak waktu pertama kali melakukannya?”

“Mereka cantik. Seksi. Sangat membangkitkan gairah.”

“Kenapa tidak dengan perempuan?”

“Wah ribet!!! Nanti kalau hamil bagaimana?!”

“Alasannya hanya karena takut hamil?!”

“Bisa dibilang awalnya, sih, begitu, tapi lama-lama saya ketagihan dengan mereka.”

“Tapi bapak menikah juga, kan?!”

“Iya.”

“Apa alasan bapak untuk menikah?!”

“Karena memang semua orang “normal” harus menikah bukan?”

“Baiklah. Lalu apakah keluarga bapak tahu tentang ini semua?!”

“Gila kamu!!!”
”Oke, bagaimana kalau mereka tahu?!”

“Celaka dua belas!!!”

“Pastinya, ya!!!”

Bapak ini hanya salah satu contoh saja. Pria-pria lain yang saya wawancarai rata-rata adalah para pria yang mengaku dirinya “normal”. Jarang dan bahkan hampir tidak ada yang mau mengakui bahwa ada sesuatu yang “berbeda” dengan mereka. Baik dia mahasiswa, karyawan swasta, jurnalis, dan bahkan ada juga yang guru. Kok, bisa, ya?!

Mereka pasti sadar benar bahwa mereka melakukan hubungan seksual dengan waria, bukan perempuan, bukan juga dengan pria. Waria bukan perempuan. Waria juga bukan pria. Waria adalah wanita pria. Apa karena mereka malu untuk mengakuinya?! Takut dinilai tidak jantan?!

Menutupi perilaku seperti ini dengan kemudian menikah dengan perempuan adalah hal yang sangat lazim untuk dilakukan. Memang selalu saja ada alasan untuk tidak ketahuan. Kalau memang berhenti setelah menikah, sih, ya, lain ceritanya. Kalau masih terus berlanjut, bukankah ini tidak bisa dibenarkan?! Bagaimana kalau tertular penyakit kelamin?! Oral seks atau fellatio juga bisa terjangkit dan menyebarkan penyakit kelamin, kan?! Apa nggak tahu juga, ya?! Hmmm….

Bisa saja, kan, pria-pria seperti ini ada di antara kita. Mereka bisa saja teman, sahabat, keluarga atau bahkan kekasih dan juga suami sendiri. Buktinya, tempat para waria mangkal itu selalu penuh. Apalagi kalau akhir pekan. Antri!!! Sampai bikin macet!!! Mengaku kalau mereka memang suka, hampir bisa dipastikan sulit. Saya yakin sekali malah kebanyakan dari mereka juga suka menghina para waria itu. Yah, ini, sih, bicara dari kecenderungan perilaku psikologis saja. Seringkali mereka yang paling menuding, mereka sendiri justru yang menjadi pelaku utamanya. Ya, nggak, sih?! Sadar nggak sadar, ya!!!

Saya sengaja menuliskan ini semua agar kita semua bisa melihat dari sisi pandang yang berbeda. Kenapa waria selalu disudutkan sementara mereka yang membeli kepuasan tidak pernah diungkap?! Ini masalah keadilan. Kita tidak boleh menilai segala sesuatunya dari satu sudut pandang saja. Semua ini juga demi kita semua agar segala masalah dapat diselesaikan dengan baik. Tidak hanya satu sisi saja yang diperbaiki sementara sisi yang lain dibiarkan terus merusak. Bagaimana bisa beres kalau tidak semuanya diperbaiki?!

Saya juga menghimbau kepada semua. Lebih baik mengakulah pada diri sendiri. Siapa diri yang sebenarnya. Jujur pada diri sendiri memang sangat sulit dan tidak mudah. Namun segala kebohongan pasti akan terkuak pada waktunya nanti. Mungkin tidak sekarang, tetapi ingatlah selalu bahwa pasti ada yang melihatnya.

Semoga bermanfaat bagi semua.

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

24 Maret 2010

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Sex Education, Shocking Sex Facts and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Sisi di Balik Penggemar Waria

  1. Pingback: Waria Bukan Manusia?! Kata siapa?! | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s