Seks: Barat Vs Timur

East Vs West Illustrasi: asuisocak.blogspot.comSETIAP kali bicara tentang seks, kita dengan sebegitu mudahnya menyalahkan bangsa Barat. Apalagi kalau urusan seks bebas. Ya, kan? Sebegitu sombong dan tinggi hatinya kita menganggap diri sebagai manusia dan bangsa yang lebih bermoral. Lebih beriman. Lebih berbudaya. Lebih baik. Kenapa kita tidak pernah berkaca terlebih dahulu. Apa sebetulnya yang terjadi dengan bangsa kita ini?


“Mbak, anak muda sekarang kacau banget, ya?”
Kenapa?
“Seks sepertinya sudah terlalu bebas.”
Bisa ya, bisa tidak.
“Teman-teman saya rata-rata sudah pernah berhubungan seks.”
Hmmm….
“Padahal mereka belum menikah.”
Oke.
“Sudah seperti orang Barat saja!”
Begitu, ya?
“Di sana, kan, bebas banget!”
Bebas seperti apa dulu?
“Buktinya banyak yang kumpul kebo, kan?”
Lalu?
“Di sini bisa digebukin orang sekampung.”
Iya.
“Apa karena terlalu banyak nonton film asing, ya?”
Huh.
“Kita jadi kebawa-bawa, deh!”
You’re right!!!

Tidak bisa dipungkiri kalau ada perbedaan budaya terutama masalah pandangan terhadap seks antara dunia Barat dan dunia Timur. Dunia Barat yang lebih terbuka untuk urusan ini, menganggap bahwa seks adalah sebagai urusan pribadi masing-masing dan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Tanggung jawab dan bebannya pun menjadi urusan pribadi masing-masing dan merupakan kewajiban asasi manusia. Sedangkan di Timur, di Indonesia, seks dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya sangat tertutup. Sangat pribadi juga, tetapi menjadi urusan keluarga dan merupakan hak keluarga, hak masyarakat, dalam menentukan urusan yang satu ini. Tanggung jawab dan bebannya pun menjadi urusan bersama dan kewajiban bersama.

Dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menurut saya, kelebihan dari dunia Barat adalah bisa melihat bahwa seks bukan hanya urusan moral, etika, dan agama saja. Tetapi melihatnya lebih luas lagi. Seks dianggap memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keadaan sosial dan budaya masyarakat. Kekurangannya, adalah, seks menjadi sangat mekanis. Sekedar fungsi dan kebutuhan biologis serta psikologis semata.

Contohnya saja urusan perceraian. Di mana perceraian sangatlah sulit dilakukan di negara-negara Barat. Urusannya bukan agama, tetapi pertanggungjawabannya. Ayah tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya begitu saja terhadap istri yang diceraikannya maupun anak-anaknya. Seumur hidupnya, dia tetap harus bertanggung jawab. Ini bukan hanya berlaku untuk pernikahan resmi, lho!!! Yang kumpul kebo juga sama hukumnya!!! Tetapi kemudian, membuat masyarakat menjadi berpikir dua kali untuk terikat dalam sebuah ikatan. Merasa akan memiliki beban seumur hidup dan kebebasannya terusik.

Kelebihan dari dunia Timur adalah, seks sangat dijaga nilai-nilai spiritual dan keagamaannya. Moral dan etika sangat mempengaruhi perkembangan dari pandangan terhadap seks itu sendiri. Makanya, perkawinan sangatlah penting. Kekurangannya, adalah, karena seks dianggap sangat tabu dan ditutup-tutupi, sehingga tidak bisa melihat seks secara lebih luas lagi. Dianggap hanya sebagai bagian dari ritual hubungan badan, dan tidak memiliki hubungan apapun dengan sosial maupun budaya dan keadaan masyarakat.

Contohnya saja urusan pernikahan. Perkawinan sangatlah penting untuk mensyahkan hubungan sebuah pasangan. Kalau tidak memiliki ikatan, dianggap tidak sah. Tetapi kemudian sekarang ini, banyak yang menganggap perkawinan sebagai sebuah status belaka. Nilai-nilai dari perkawinan itu sendiri diabaikan. Buktinya, banyak, tuh, yang nikah siri’ atau di bawah tangan? Hukum dan statusnya pun menjadi tidak jelas. Bagaimana dengan nasib anak yang terlahir dari pasangan seperti ini? Bagaimana bila terjadi perceraian.

Sekarang ini, baik dunia Barat maupun Dunia Timur, baik yang terbuka maupun tertutup, sama-sama memiliki masalah utama. Yaitu, perilaku seks yang tidak sehat. Penyakit kelamin, HIV, AIDS, serta penyimpangan seksual ada di mana-mana. Penyebab utamanya, oleh para pakar, diyakini adalah soal pendidikan. Di Barat, pendidikan seks yang diberikan, sifatnya terlalu logis dan mekanis. Mengandalkan fungsi anatomi tubuh saja. Sementara di Timur, pendidikan seks sangatlah kurang. Ditutup-tutupi dan lebih ditekankan kepada sisi agama dan peraturan serta norma, etika, dan moral yang berlaku.

Kalau menurut pendapat saya, masalahnya sama. Pendidikan seks dari nilai-nilai spiritual yang hilang dan lenyap begitu saja. Baik di Barat maupun di Timur. Filsafat dan ajaran luhur tentang seks yang lebih mendalam, lebih ditekankan kepada jiwa, spirit, dan hati kurang diperhatikan. Apalagi kemudian budaya dan nilai yang sebenarnya sudah ada sejak lama, sejak zaman nenek moyang kita, seperti lenyap ditelan bumi. Jarang yang mau mempelajarinya secara lebih mendalam. Dianggap primitif dan tidak modern sama sekali. Kalaupun yang dipelajari, paling-paling hanya Kamasutra doang!!!! Ya, kan? Itu pun hanya soal posisi bersetubuh saja. Di balik itu semua, siapa yang mengerti?

Saya sangat tertarik dengan teori Julius Evola, dalam bukunya yang berjudul Revolt Against the Modern World, yang terbit pada tahun 1958. Di dalam karyanya ini, dia menjelaskan teori metafisika tentang seks, yang tentunya berdasarkan hasil risetnya mengenai seks. Dia mengkirik bahwa pendekatan biologi, sosiologi, psikologi, dan seksologi dalam mempelajari seks sangatlah terlalu “cetek”. Begitu juga bila dilihat hanya dari sisi moral, agama, ataupun etika yang berlaku. Soalnya, setiap disiplin ilmu ini, hanya mempelajari satu aspek dari seksualitas saja. Tidak secara utuh dan menyeluruh. Menurutnya, seks adalah bukan hanya urusan tubuh ataupun spiritual saja. Tetapi dua-duanya. Tindakan seksual seharusnya merupakan bentuk dari penggabungan jiwa dan raga yang disatukan untuk menjadi sebuah kesatuan. Oleh karena itulah, seks memiliki kemampuan untuk membuat seseorang atau satu pasangan menjadi “kosong” atau “penuh”. Dan akar dari semua ini adalah apa yang disebutnya sebagai cinta. Intinya, cintalah yang seharusnya membuat seks menjadi sesuatu yang sifatnya utuh.

Nah, tulisan ini dimaksudkan untuk membuka hati dan pikiran, juga menggugah hati, agar mau melihat dan mempelajari seks yang baik dan benar dan secara utuh serta menyeluruh. Tidak sepotong-sepotong. Mengolah makna, isi, dan sari pati dari seks untuk kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua ini, demi masa depan kita bersama juga. Masa depan yang lebih baik, tentunya.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

29 Oktober 2009

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Passionate Revolution, Sex and Politics, Sex Education and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Seks: Barat Vs Timur

  1. Bambang Gareng Nilwarto says:

    “Di Barat, pendidikan seks yang diberikan, sifatnya terlalu logis dan mekanis. Mengandalkan fungsi anatomi tubuh saja. Sementara di Timur, pendidikan seks sangatlah kurang.”
    Mosok sih jeng. Setahu kang Gareng juga ditekankan “cinta”, “memberi”, “menerima” dsb. Memang penjelasan secara “logis” dan “mekanis” memegang peranan penting dalam pendidikan seks. Tetapi bukan hanya itu. Ini setahu kang Gareng sebagai seorang yang sudah hidup beberapa puluh tahun di “barat” dan sudah berasimilasi.
    Dan setahu kang Gareng semuanya ini juga tergantung pada taraf pendidikan dan status keluarga tersebut.
    Kalau kita membicarakan masalah penyakit yang bisa ditularkan lewat hubungan seks, seperti AIDS, kita seharusnya bertanya juga: kok insidensi dan prevalensi AIDS di “timur” itu jauh lebih tinggi dari pada di “barat” dan perbedaan ini akan lebih meningkat.
    Lho….???
    Monggo, jeng.

    • bilikml says:

      Hai Kang Gareng! Apa kabar? KEmbali lagi kita ke topik yang dulu pernah dibahas ya… Semua ini memang secara generalisasi dan pada umumnya, terutama di wilayah-wilayah tertentu seperti di Amerika Serikat contohnya. Tingkat pendidikan memang mempengaruhi, fakta dan kenyataan, di USA, mayoritas penduduknya memang berpendidikan kurang dari SMA.

      Tulisan ini saya maksudkan untuk memberikan pandangan bahwa baik di Timur maupun Barat, dengan pandangan apapun juga sekarang ini, masalahnya tetap sama. Penyakit menular danpelecehan seksual adalah yang menjadi masalah bersama. Jadi, jangan berpikir masalah perbedaannya tetapi dicari apa akar permasalahan yang sebenarnya agar bisa diselesaikan. Toh sama-sama bermasalah.

      Terima kasih ya…

  2. aku pernah belajar mata kuliah tentang seksualitas dan gender ya mbak dan waktu itu pernah ngebahas tentang sejarah seksualitas barat dan timur.
    ternyata pada jaman dahulu keadaan itu terbalik. masa sebelum revolusi industri dan kristen ortodoks masih mendominasi belahan bumi eropa, keadaan hampir sama seperti di Indonesia. Setiap perempuan harus memakai baju tertutup, tidak boleh keluar malam, terus kalo nikah, malam pertama harus memakai seprai putih terus paginya mertua datang ke kamar untuk melihat apakah si wanita itu masih perawan atau tidak dilihat dari ada atau tidaknya bercak darah.
    Beda dengan timur, dimana agama-agama barat belum berkembang, mereka sangat memuja seks dan seni dalam hubungan seks yang akhirnya lahir kama sutra, serat centhini sama buku mengenai seks dari jepang (aku lupa judulnya).
    tapi, kenapa skrg malah jadi kebalik ya? atau ini terjadi hanya di indonesia dan amerika aja (jadi contoh timurnya itu indonesia dan contoh baratnya amerika)

    • bilikml says:

      nah itu dia! kita seharusnya belajar dari sejarah dan kesalahan pada masa lalu dan bukan membuat kehidupan kita sekarang berhenti. bagaimana kita bisa maju dan meneruskan evolusi serta peradaban bila pemikiran itu berhenti?!

    • indra jaya says:

      Menurut saya bukan masalah ketimuran atau ke baratan masah sex. Tapi lebih kepada kita masih menerapkan nilai dan ajaran agama kita, seperti islam, kristen maupun yahudi. Yang mana ketiga agama ini asal usulnya sama, maka kalau kita atau keluarga kita masih menjalankan norma-norma yang ada diagama maka sex bebas tidak akan terjadi. Di indonesia saja saya melilhat sex sudah sangat bebas dan bahkan sama bebasnya dengan dibarat. Bahkan tidak hanya sekarang dari dulu pun tahun 1980 sex di indonesia sudah bebas namun tidak terexpos dan dibesar-besarkan. Pelaku sex bebas ini sangat merahasiakan kelakuan sex nya, bahkan antar keluarga pun terjadi Oom dengan keponakan nya sediri dan lain-lain. Ini semua terjadi kepada mereka yang tidak menjalankan nilai dan ajaran agamanya.

      • Nyu says:

        Yg saya lihat d atas mayoritas membahas kesalahan, perbedaan antara barat dan timur.
        Belajar dr sejarah dan latar blkg mnurut saya adl hal yg tepat.
        Namun, akan lbh bermakna lg jika kita sbg generasi muda juga membahas cara yg tepat untuk menanggulangi free sex..
        Dan salah satu yg tepat menurut saya adl, mengembalikan kecintaan personal terhadap norma agamanya. Merubah budaya bebas dan lebih memperketat hukum. Makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s