Gadis Malam

Illustrasi: gomedan.com

“GADIS malam… berjalan pelan… lalalala… lalalalala…”. Pernah dengar nggak lagu yang sempat ngetop dan populer tahun ‘90-an ini. Penyanyinya kelompok band yang bernama Java Jive. Ngetop banget, deh, waktu itu!!!

Lagu itu pernah dikirimkan untuk saya lewat radio oleh seorang pria. Hehehe… Waktu itu masih jamannya kirm-kiriman lagu lewat radio soalnya. Anak muda gaul suka banget!!! Masih ingat, kan, masa-masa itu?

Waktu itu, saya sama sekali tidak senang menerima kiriman lagu itu. Apa maksudnya, nih?! Kenapa harus lagu itu?! Apalagi yang mengirimkannya adalah seorang pria yang pernah “menembak” saya, tetapi saya tolak. Saya memang tidak suka dia. Biarpun dia kaya banget juga, tetap saja saya tidak suka. Masa harus dipaksain, sih?! Lagian saya sudah pacar waktu itu. Jadi, nggak mungkinlah, ya!!!

Eh, karena diputarnya di radio gaul, jadi banyak teman-teman yang tahu!!! Mereka ketawa-ketawain saya!!! “Mampus, lu! Dibilang gadis malam!”. Reseh!!!

Memang, sih, saya waktu itu sering banget pulang malam. Pulang pagi malah!!! Yah, namanya juga anak muda. Masih doyan hura-hura!!! Baru bebas pula!!! Kan, sudah kuliah!!! Sudah punya KTP dan SIM!!! Hehehe…. Sudah sering, sih, diomelin. Tapi dasar anak bandel!!! Teuteup saja!!! Sudah kayak anak macan lepas dari kandangnya. Liar banget!!! Waktu itu saya cuma pikirnya senang-senang melulu!!! Yang penting, IP di atas tiga terus, kan?! Jadi, nggak apa-apa, dong!!! Kewajiban, toh, tetap dijalankan!!! Lagian saya nggak pernah pergi sendiri. Pasti sama pacar atau ramai-ramai sama teman. Aman, dong?!

Tidak terpikir sama sekali oleh saya waktu itu akan mendapat predikat sebagai seorang “Gadis Malam”. Jelek banget, nggak sih?! Memangnya saya ngapain? Jualan? Jangan sampai, deh!!! Pacar saya juga sempat angot sama pria itu. Bawaannya sudah pengen nonjok, tuh, orang saja!!! Untung nggak pernah ketemu!!! Kalau sampai kejadian, repot, deh!!!

Saya tidak pernah memikirkan lagi lagu itu. Saya anggap sebagai selingan dalam hidup saja. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Saya pikir, waktu pasti akan menghapus semuanya itu dengan sendirinya. Sampai kemudian, saya mendengar cerita bahwa ada salah seorang teman saya diperkosa. Diperkosa oleh teman-temanya sendiri. Mereka mengira kalau teman saya itu adalah seorang Gadis Malam. Bukan perempuan jalanan, tetapi perempuan yang biasa “dipakai”. Kenapa? Hanya karena perempuan ini suka pergi malam. Dugem. Mabuk. Itu doang!!!

Waktu kemudian pemerkosa pertamanya itu sadar kalau perempuan itu masih perawan. Dia juga menyesal setengah mati. Dia juga semakin merasa bersalah karena kemudian perempuan itu “dipakai” beramai-ramai oleh teman-temannya yang lain. Giliran!!! Di depan mata kepalanya pula!!! Dia meminta maaf dan bertanggung jawab dengan menikahi teman saya itu. Namun semuanya sudah terlanjur.

Sakit hati dan dendam begitu saja. Saya dengar, biarpun memiliki status sebagai seorang istri, teman saya itu justru menjadi perempuan liar beneran. Suaminya? Orang yang pertama kali memerkosanya itu? Dia tidak bisa apa-apa. Dia tetap tidak mau menceraikannya. Kenapa? Dia merasa semua itu adalah salahnya dan dia patut serta layak menerima semuanya sebagai sebuah hukuman dari Tuhan.

Apa yang terjadi pada teman saya itu membuat saya berpikir. Mengintrospeksi diri. Biarpun jaman telah berubah, tetapi yang namanya “persepsi” memiliki dampak yang sangat luar biasa. Bisa jadi negatif, bisa jadi positif. Tetapi yang namanya Gadis Malam, tidak akan pernah memiliki persepsi yang positif. Negatif terus!!! Sampai kapan pun juga!!!

Sebagai seorang perempuan baik-baik, pasti tidak akan pernah suka dinilai negatif. Apalagi kalau memang karena tuntutan pekerjaan dimana memang membuat perempuan harus bekerja malam atau pulang pada malam hari. Hari gini?! Masa, sih, nggak boleh pulang malam?!!!

Tidak ada larangan. Tidak bisa juga dilarang. Ini semua adalah pilihan saja. Hanya tolong diingat kalau “persepsi” itu ada. Jangan sampai ada lagi kejadian yang sama seperti apa yang dialami teman saya itu.

Saya sebagai perempuan yang identik dengan seks dan cinta, apa berarti saya adalah seorang perempuan murahan yang mau melakukan hubungan seks dengan siapa saja?! Bercinta dengan banyak orang dan memiliki banyak kekasih?! Apalagi saya senang berpakaian “terbuka”, apa berarti saya lebih buruk dari yang “tertutup”?!

Buat saya, dicintai banyak pria bukanlah sesuatu yang aneh ataupun harus menjadi sebuah kebanggaan. Bukan juga sesuatu yang kemudian membuat saya harus takut untuk tetap menjadi diri sendiri meski banyak hinaan dan cemooh itu datang. Saya tahu siapa diri saya dan saya tahu benar siapa saya. Saya tidak akan pernah berubah menjadi yang lain karena saya pun tidak pernah meminta yang lain untuk menjadi saya.

Saya sadar penuh dengan apa yang saya tampilkan dan yang saya umbar. Semua ada tujuannya dan hanya saya serta mereka yang mengerti tentang saya, yang tahu apa maksud dan tujuannya. Jikapun ada yang tertarik dengan saya hanya karena penampilan luar saya saja, untuk apa juga?! Begitu juga jika ada yang menilai. Nggak penting sama sekali!!! Penampilan bisa menipu. Lebih baik kenali apa dan bagaimana saya dulu yang sebenarnya sebelum bicara. Berkaca saja dulu.

Bagi mereka juga yang memiliki “persepsi” ini, cobalah untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Pilah-pilahlah!!! Jangan mengeneralisasi semuanya!!! Pikirkan matang-matang akibat dari sebuah persepsi yang salah, yang bisa membuat orang lain menjadi celaka. Semua pikiran itu, baik atau kotor, ada di dalam pikiran kita sendiri.

Semoga bisa memetik hikmah dari cerita saya ini.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

10 November 2009

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Love, Lust, Passionate Revolution and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Gadis Malam

  1. paperbag says:

    betul mbak persepsi harus dibetulin. karena persepsi beda dengan kenyataan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s