Cinta Orang Tua

Illustrasi: audiobook2u.com

Cinta orang tua tidak akan pernah bisa dibalas dan dibayar dengan apapun juga. Hutang budi seorang anak kepada orang tua sedemikian besarnya. Apakah benar semua itu adalah cinta orang tua?! Bila memang benar itu cinta, kenapa anak menjadi berhutang budi dan wajib menuntut balas?! Kenapa anak juga harus mengikuti semua keinginan orang tua?! Apa salah mereka?!

Sperma dan sel telur menyatu dan melebur menjadi kehidupan yang baru. Berkembang dan tumbuh berupa janin di dalam rahim seorang ibu hingga kemudian beberapa bulan kemudian terlahir ke dunia. Menjadi seorang anak yang diasuh, dirawat, dididik hingga sampai pada waktunya tiba. Waktu untuk membalas semua jerih payah yang telah dilakukan oleh orang tua. Semua itu atas nama dan mengatasnamakan cinta.

Adalah tanda tanya besar bagi saya tentang cinta dan kasih sayang orang tua terhadap anaknya bila cinta dan kasih sayang itu diberikan tanpa ketulusan hati. Pengasuh, perawatan, dan didikan itu hanya menjadi sebuah kewajiban hingga pada akhirnya ada tuntutan atas hak sebagai orang tua. Anak pun tidak pernah menjadi seorang pribadi yang seutuhnya melainkan menjadi pendusta yang hanya mengikuti keinginan dan kemauan orang tuanya. Bila keinginan itu tidak dituruti, kata-kata dosa, kualat, dan kutukan itu pun terlontar. Apakah orang tua memang sebagai pemilik surga yang bisa menentukan siapa yang berhak mendapatkannya?!

Lihatlah betapa banyak anak yang menjadi korban atas ambisi orang tua mereka. Diberi les ini itu, dipaksa menjadi ini dan itu, padahal semua itu belum tentu yang diinginkannya. Begitu giliran anak tersebut menginginkan menjadi apa yang diinginkannya, semua itu ditolak mentah-mentah karena tidak sesuai dengan ambisi orang tua.

Anak seringkali dijadikan sarana untuk memenuhi apa yang tidak pernah bisa diraih dan didapatkan oleh orang tua. Anak menjadi pengisi kekosongan jiwa para orang tua yang selama ini tidak didapatkannya. Sungguh sangatlah menyedihkan. Anak dibuat sedemikian rupa dan hanya dijadikan boneka hidup dan mainan oleh orang tua.

“Saya ingin menjadi penulis, tapi ayah tidak suka dan melarang saya berhenti menulis.”

“Saya ingin bekerja di perusahaan swasta tetapi orang tua saya melarangnya karena mereka ingin saya berstatus pegawai negeri.”

“Saya ingin sekali menikah dengan orang yang saya cintai, tetapi orang tua melarangnya karena mereka tidak suka dengan dia.”

“Saya dianggap anak durhaka karena saya tidak pernah mengikuti keinginan orang tua dan mengatakan apa yang sebenarnya.  Mereka tidak percaya dengan fakta dan kenyataan yang ada meskipun bukti-buktinya jelas sekali.”

“Saya sebetulnya ingin sekali bisa menabung untuk melanjutkan sekolah tetapi orang tua saya selalu meminta uang dari saya dan bila saya tidak memberinya mereka marah sekali. Padahal uang yang sudah saya berikan itu cukup bagi mereka. Mereka bisa hidup enak dan membeli pakaian baru serta jalan-jalan, sementara saya?!”

“Saya sering ribut dengan pasangan saya karena orang tua selalu ikut campur dalam hubungan rumah tangga kami.”

“Saya tidak mengerti kenapa semua yang saya lakukan selalu salah di mata mereka. Apakah orang tua selalu benar?”

Ah! Ada banyak sekali keluhan anak yang tidak pernah habis-habisnya terurai. Ini belum termasuk kisah dan cerita anak yang dijual oleh orang tua mereka dan dijadikan pelacur seperti yang pernah saya tuliskan, “Bercermin Pada Pekerja Seks Komersial”. Juga bagaimana seorang anak terpaksa berhenti sekolah dan menjadi pekerja dan Tenaga Kerja Indonesia hanya untuk memenuhi kewajibannya kepada orang tua. Masih ada banyak lagi cerita bagaimana anak menjadi penuh dengan kebohongan dan menjadi pendusta hanya karena orang tua.

Semua terjadi karena apa yang disebut sebagai balas budi dan bakti seorang anak kepada orang tua. Apa salah mereka sehingga mereka menjadi terbebani oleh semua ini?! Apakah pernah mereka meminta untuk dilahirkan di dunia ini?! Apakah sedemikian sulitnya menjadi orang tua yang memiliki cinta untuk diberikan bahkan kepada darah dagingnya sendiri?!

Orang tua beralasan bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi anak itu sendiri. Mereka tidak ingin anak-anak mereka menjadi susah dan menderita. Tidak perlu juga harus mengalami apa yang pernah mereka alami. Semua itu karena cinta dan kasih sayang orang tua kepada anak mereka. Oh, ya?!

Yah, saya sungguh tidak habis pikir dengan semua ini. Terkadang saya berpikir bahwa cinta dan kasih orang tua itu hanya sebatas materi. Bila ada banyak materi yang diberikan sebagai balas budi, maka akan ada banyak doa dan kasih sayang. Bila tidak ada materi yang diberikan atau hanya sedikit saja, maka anak hanya akan dianggap sebagai beban saja.

Bilapun tidak dalam bentuk materi, anak pun sudah banyak yang dibebani  oleh nama dan keluarga. Tuntutan untuk mengikuti adat dan istiadat serta kebiasaan dalam keluarga itu menjadi sebuah kewajiban dan keharusan. Sehingga cinta orang tua itu pun menjadi terbatas kepada nilai-nilai manusia saja. “Apa kata keluarga? Apa kata orang nanti? Siapa yang malu?!”, begitu, kan?! Sungguh, rasa takut dan nilai-nilai manusiawi itu menjadi lebih penting biarpun mengaku yakin bahwa Dia adalah Sang Maha Kuasa.

Tuhan pun sering dijadikan alasan sebagai pembenaran karena semua ajaran dan tuntunan mengajarkan anak untuk berbakti kepada orang tua. Pertanyaannya, pengabdian dan bakti anak terhadap orang tua apakah hanya diartikan dalam bentuk pemenuhan semua keinginan dan ambisi orang tua?! Apakah ajaran dan tuntunan itu pernah menyebutkan bahwa anak menjadi durhaka dan dosa bila menjadi diri mereka sendiri?! Apakah ajaran dan tuntunan itu juga ada yang menyebutkan bahwa anak tidak memiliki hak untuk memilih dan menentukan hidupnya sendiri?!

Surga ada di bawah telapak kaki ibu. Bagi saya, ini bukan berarti seorang anak harus menyembah dan menuruti semua kehendak ibu untuk bisa mendapatkan surga. Pepatah ini bagi saya berarti bahwa seorang anak sangat tergantung kepada bagaimana seorang ibu mengasuh, mendidik, dan merawatnya. Setiap langkah yang dilakukan seorang ibu di dalam tindakannya adalah ibarat sebuah kompas yang mengarahkan anaknya untuk bisa mendapatkan surga atau sebaliknya. Surga itu sendiri pun merupakan kebahagiaan dan neraka itu adalah kepedihan. Dapat diartikan secara singkat bahwa anak bisa menjadi bahagia atau penuh dengan kepedihan karena seorang ibu dan orang tua.

Bila orang tua tidak memberikan cinta yang tulus kepada anaknya, maka kepedihan itu akan diderita oleh anaknya karena dia tidak mendapatkan cinta. Bila orang tua memberikan cinta yang tulus kepada anaknya, maka kebahagiaan itu menjadi miliknya. Apakah memang kebahagiaan itulah yang diinginkan orang tua untuk anaknya atau kebahagiaan itu “diambil” dari anaknya untuk orang tua?! Orang tua berhak mendapatkan kebahagiaan di atas penderitaan anaknya, begitukah?!

Biar bagaimana pun juga, anak tidak memiliki kewajiban apapun kepada orang tua untuk membalas apapun juga. Namun adalah sebuah tanggung jawab yang harus dilakukan oleh orang tua kepada anaknya untuk mengasuh, mendidik, dan merawat mereka. Kenapa?! Setiap anak yang terlahir ke dunia ini merupakan hasil dari perbuatan orang tua mereka sendiri. Hasil dari apa yang memang ditakdirkan kepada orang tua itu sendiri. Sehingga menjadi sebuah resiko dan konsekuensi bagi orang tua untuk mempertanggungjawabkannya, dan semua ini bukanlah beban seorang anak.

Hormat dan penghargaan seorang anak kepada orang tua bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan karena semua itu sangat tergantung kepada bagaimana orang tua sendiri bersikap dan berperilaku. Takut, sangatlah mungkin, tetapi apakah ketakutan itu sama dengan hormat dan penghargaan? Setiap manusia memang sudah seharusnya memiliki rasa hormat kepada semuanya sebagai bentuk dari rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh-Nya termasuk kepada orang tua dan juga dari orang tua kepada anaknya. Namun demikian semua bisa diberikan dengan caranya masing-masing dan hanya cinta yang bisa membuat semua ini ada.

Cinta seorang anak juga tidak perlu harus dipaksakan ataupun diminta. Anak yang dipenuhi cinta akan selalu memberikan cinta kepada siapapun juga apalagi kepada orang tuanya. Namun harus disadari bahwa bentuk dari cinta dan kasih sayang seorang anak sangat tergantung pada dirinya sendiri. Adalah cinta yang tulus dari orang tua bila memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menjadi diri mereka sendiri. Menjadi seseorang yang memiiliki kepribadian yang kuat, mampu menentukan pilihannya sendiri, mandiri, dan memiliki keberanian untuk bertanggungjawab atas semua yang telah dipilihnya.

Orang tua adalah manusia yang juga tidak luput dari kesalahan dan tidak selalu benar. Hanya orang tua yang sombong dan tinggi hatilah yang selalu merasa benar dan tidak juga mau mengakui ataupun memperbaikinya. Cinta orang tua itu tidak pernah ada bila cinta itu hanya untuk diri sendiri dan bukan diberikan untuk anaknya meski sadar penuh bahwa anak adalah kehidupan di masa mendatang yang akan terus meneruskan kehidupan di masa mendatang.

Manusia harus terus berkembang dan menjadi lebih baik agar kehidupan dan masa depan itu pun menjadi lebih baik. Hanya dengan menjadi diri sendirilah semuanya akan menjadi lebih baik. Hanya dengan cinta yang sesungguhnyalah semua menjadi keindahan.  Penuhilah diri dengan cinta dan berikanlah cinta agar kehidupan ini dipenuhi dengan cinta yang merupakan keindahan. Jadilah orang tua yang benar-benar memiliki cinta.

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Love and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Cinta Orang Tua

  1. minglie kwee says:

    Tulisan yang sangat bagus dan membuka mata sebagai orang tua, bahwa cinta bukan untuk minta balasan, melainkan untuk berkorban bagi yang di cintai. saya kirim satu tulisan yang patut ditiru oleh orang tua, semoga bermanfaat. Oh ya karena amsih dalam email saya forward kan saja ya !
    Gbu
    Minglie Kwee

    • bilikml says:

      makasih banyak pak… semoga saja semua ini bisa membantu perubahan pada bangsa dan negara…

      GBU and all!

      salam hangat selalu untuk bapak dan keluarga

  2. minglie kwee says:

    Maaf, emailnya sudah terhapus, namun dasarnya adalah bahwa menjadi orang tua tidak seharusnya minta balasan apapun dari anak, bahkan harus memberi yang terbaik, kemudian dikatakan bahwa keberhasilan orang tua mendidik bukan dinilia dari keberhasilan anak, melainkan keberhasilan cucu. Tulisan ini sangat dalam artinya.
    Bagi saya ini adalah suatu cinta yang sama sekali tidak ada unsur egois, namun keadilan Tuhan akan dibuktikan dari cinta yang tulus ini, bahwa orang tua demikian tidak akan mengalami kekurangan apapun selama ia masih hidup didunia.
    Gbu, Mariska !

    • bilikml says:

      Luar biasa kata-kata bapak ini… sangat mendalaam sekali artinya… seandainya saja kita semua mau belajar merendahkan hati, tentunya generasi yang akan datang itu akan menikmati lebih banyak keindahan…

      Salam hangat selalu

  3. pase says:

    tdk semua org tua seperti itu, yg menginginkan slalu kehendaknya. Tp walaupun seperti itu mereka hanya ingin membuat kepribadian seorang anak yg baik, and tentunya kta lah yg sbgai seorang anak yg menjalankannya. Org tua besikap seperti itu hanya untuk kebhagian kta juga. And kta jga sabgai seorang anak jg hrs sdar dri klo ingin membahagiakan orang tua.

    • bilikml says:

      di dalam konsep cinta orang tua tidak ada anak yang memiliki kewajiban membalas budi… apa yang dilakukan anak terhadap orang tua juga merupakan cintanya…

  4. SinggahLagi says:

    menarik sekali…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s