Seks dan Budaya: Budaya Seks Bagaimana Dulu?!

Seks tidak bisa dilepaskan dari budaya. Seks adalah bagian dari budaya dan sangat mempengaruhi budaya. Budaya juga mendapatkan banyak inspirasi dari seks. Seks pun juga menjadi budaya, kan?! Bagaimana dengan budaya seks sekarang ini?! Apa yang harus kita pikirkan kembali?!

Negara kita kaya sekali akan budaya seksnya. Setiap daerah memiliki budaya seks masing-masing yang menurut saya, sungguh sangat indah dan luar biasa. Kental akan nuansa spiritualnya. Sayangnya, sekarang ini hanya dipahami seputar permukaannya saja. Menjadikan apa yang sebenarnya penting itu menjadi tidak penting sama sekali. Menjadikan juga apa yang seharusnya menjadi tidak bermakna ataupun bernilai. Kembali ke masalah primitif dan modern. Merasa modern bila mengikuti perkembangan zaman walaupun yang diikuti hanya hiasannya saja. Pemikirannya sendiri yang sebetulnya menjadikan seseorang bisa dianggap modern masih tertinggal jauh di belakang.

Kita ambil saja contoh soal budaya saling berbalas pantun yang berisi segala macam petuah tentang seks menjelang pernikahan. Berapa banyak yang masih mengikuti dan menjalaninya?! Kalaupun memang dijalani, berapa banyak yang mengerti isi dari pantun itu sendiri?! Apa makna dari isi yang sebenarnya?! Padahal ini sangat penting untuk menjadi bekal sang pengantin dalam menjalani kehidupan rumah tangganya yang baru.

Selain itu juga, memungkiri fakta dan kenyataan yang ada tentang budaya yang sebenarnya ada, memperburuk dan memperkeruh semuanya. Malu, takut, dan menganggap tidak benar akan suatu budaya yang ada sehingga kemudian menyangkalnya. Bagaimana kalau saya bilang di daerah A, memerawani anak kandungnya sendiri adalah budaya?! Bagaimana reaksi masyarakat daerah A?! Bagaimana reaksi pemerintah setempat?! Bagaimana juga reaksi masyarakat daerah lainnya?! Apa yang kemudian muncul sebagai nilai dan persepsi?!

Menurut saya, bagaimanapun juga, menyangkal fakta dan kenyataan adalah sebuah perbuatan yang sangat keji dan kejam. Sangat merusak cara pandang dan pemikiran masyarakat hanya untuk kepentingan pribadi dan segelintir golongan ataupun kaum minoritas saja. Sudah terbukti, perbuatan ini sangat menjerumuskan, terutama di saat masyarakat sudah tidak memiliki rasa percaya dan tidak memiliki pegangan lagi. Kebenaran pasti akan muncul juga biarpun hanya waktu yang bisa bicara.

Satu contoh lagi kita ambil, ya. Bagaimana dengan budaya melakukan ritual berhubungan seks untuk mendapatkan berkah?! Apakah ini juga harus dipungkiri?! Kenapa harus dipungkiri bila memang pada fakta dan kenyataannya memang ada dan demikian adanya. Bukti pun sangat kuat. Aneh, kan, kalau kemudian disangkal?! Bila kemudian ada yang mengetahuinya, tetapi terus disangkal, pasti akan menimbulkan pertanyaan. Benar apa salah, ya?! Nah, sementara itu, tidak ada juga yang bisa memberikan sebuah jawaban yang pasti karena tidak ada yang mau bertanggungjawab bila memberikannya. Kalau sudah begini, jadinya repot?! Semakin bikin bingung saja!!!

Budaya, apapun bentuknya, adalah bagian dari proses yang menjadikan kita sekarang ini. Mengerti dan paham soal budaya akan sangat membantu seseorang untuk mengenal siapa dirinya. Menjadikan semua ini sebagai sebuah pegangan agar tidak terombang-ambing dalam segala keraguan dan ketidakpastian. Memiliki jawaban atas semua yang memang seharusnya diketahui dan dipikirkan. Masalahnya hanya kemudian bagaimana budaya ini diarahkan. Semua bisa menjadi benar, bisa juga menjadi salah. Semua tergantung bagaimana kita menggiringnya saja. Mau ke arah mana?!

Di lain sisi, kita juga cenderung dengan mudahnya menggunakan budaya sebagai alasan dalam melakukan perbuatan. Menjadi alasan juga untuk diam saja dan tidak mau melakukan sesuatu. “Sudah budaya, bagaimana lagi, dong?!” Kenapa, sih?! Takut?!

Ini dia, nih, yang seringkali membuat seseorang menjadi terjerumus. Harus kita akui bahwa budaya untuk “berani berbeda” adalah sesuatu yang masih bisa dilakukan dalam batas-batas tertentu saja. Paling umum, sih, berbeda dalam soal penampilan saja. Pemikiran dan selera, sama-sama saja, tuh. Masih banyak rasa takut untuk mau melakukannya, sehingga dengan mudahnya semua kembali terseret pada arus yang sama, meskipun arusnya itu sangat menghanyutkan dan membahayakan.

Kita semua sepakat bahwa yang namanya perilaku seksual sekarang ini sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Penyebaran penyakit kelamin dan penyakit yang ditularkan oleh hubungan seksual secara bebas tak beraturan semakin meluas dan merajalela. Berhubung seks bebas ini sudah seperti menjadi budaya, dan banyak yang mengakuinya sebagai budaya, apakah lalu kita harus diam saja?! Bagaimana dengan masa depan?!

Kita bisa memang melepaskan semua tanggung jawab ini dengan begitu saja. Mudah, kok!!! Benang Kusut!!! Cukup!!! Sayangnya, kalau bicara seperti itu, saya tidak bisa terima. Saya pasti akan bilang, “Memangnya benang kusut tidak bisa dirapihkan kembali?” Kalau sudah ketemu awalnya, dan telusuri pelan-pelan, maka sedikit-sedikit bisa menjadi rapih. Butuh waktu dan kesabaran, sih. Tapi kalau memang niat, pasti bisa!!!”. Makanya lebih baik bilang malas atau tidak peduli sekalian. Biar sekalian juga saya cubit!!! Hehehe….

Budaya tidak seharusnya dihilangkan namun bila memang budaya itu sudah tidak selaras dengan moral dan etika yang berlaku, ada baiknya untuk dipikirkan dan dipertimbangkan kembali. Belajar dari apa yang sudah ada, baik lalu maupun kini, dan pikirkan baik-baik apa yang harus dilakukan untuk masa depan. Memahami semuanya secara utuh dan tidak separuh-separuh. Mencari benang merah yang bisa menyatukan semuanya agar saling mendukung, karena pada dasarnya semua saling terkait. Begitu juga dalam soal seks. Sama juga.

Seks dan Budaya, budaya seks seperti apa yang diinginkan?! Apa dan bagaimana yang paling benar?! Budaya seperti apa?! Seks yang mana?! Pikirkan baik-baik dengan benar semuanya karena ini sangat menentukan langkah selanjutnya yaitu bisa melakukan yang benar. Jangan sampai, deh, kita memang benar-benar berhenti atau malah jalan mundur. Mengakhiri peradaban dan kehidupan dengan menghancurkan semuanya. Bagi saya, kalau memang sudah begini, berarti memang sudah akhir dan saya tidak mau sampai berakhir seperti itu. Kita harus maju terus ke yang lebih baik lagi!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

23 April 2010

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Passionate Revolution, Sex and Politics, Shocking Sex Facts and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Seks dan Budaya: Budaya Seks Bagaimana Dulu?!

  1. Ad benar juga ya …tapi apakah adat itu harus di jalani pdahal kita punya dasar hukum dan agama yg sudah diterima di masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s