Dari Cinta, Oleh Cinta, dan Untuk Cinta

Illustrasi: /dostis.ibibo.com/blogs

Tak mudah bagi yang ditinggalkan, sulit bagi yang meninggalkan, biarpun sama-sama tahu bahwa semua itu tak akan selamanya. Ada waktunya untuk bersama dan ada juga waktunya harus kembali kepada kehidupan masing-masing. Menjalani setiap saat dan waktu dan menghadapinya dengan segala cinta dan ketulusan yang dimiliki sebagai diri sendiri dan juga “Kita”.

Menanti detik-detik dan saat keberangkatan tiba. Tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Gejolak dan gemuruh rasa yang ada di dalam hati terlalu kuat untuk bisa membuat bibir ini bisa berucap. Terlalu banyak yang ingin diutarakan, semuanya tentang cinta dan rindu.

“Jangan pergi, sayang!!!”

“Saya tidak ingin pergi, saya ingin selalu bersamamu di sini. Tapi…..”

“Ya, saya mengerti. “

Mendesah dalam dan panjang sambil saling menatap. Kecupan di bibir dan kening menjadi sangat mendalam terasa.  Pelukan dan dekapan tak ingin dilepaskan dan terlepas.

“Kita hadapi semua kerikil yang menghadang ini bersama, ya!”

“Semua ini bukanlah kerikil yang membuat susah tetapi hanyalah bagian dari proses perjalanan kehidupan bercinta yang justru merekatkan cinta dan rindu kita.”

“Hingga pada saatnya nanti bahagia itu menjadi milik kita selamanya.”

“Sekarang pun bahagia itu sudah menjadi milik kita bukan?”

Senyum itu pun terurai dan langkah menjadi lebih ringan. Tidak ada yang perlu ditakutkan ataupun dikhawatirkan saat semua mengerti posisi, waktu, dan tempatnya masing-masing, dan sama-sama juga tahu bahwa semua yang dilakukan adalah untuk bersama.

“Kita sama-sama usaha, ya, sayang!”

“Sabarlah dan teruslah berusaha. Kita pasti bisa.”

“Ya, sayang. Dari cinta, oleh cinta, dan untuk cinta.”

Terkadang kita merasa tak sanggup dan tak mampu sementara diri sendiri seringkali terlalu manja untuk mendorong diri hingga pada batas kesanggupan dan kemampuan. Mencoba untuk menjadi lebih keras terhadap diri sendiri agar apa yang menjadi mimpi itu bisa menjadi nyata pun hanya sekedar kata yang terucap. Penyesalan pun akan datang di kemudian hari, padahal segala kemungkinan terburuk bisa diminalisir bila memang semuanya dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Di sisi lain, tidaklah mudah untuk bisa membedakan mana cinta dan mana ambisi. Memaksakan pemikiran untuk mempertahankan ikatan dan keinginginan dengan memperkosanya agar percaya dan yakin bahwa semua itu adalah cinta hanyalah obsesi semata. Memaksakan benar bahwa semua itu dilakukan atas nama cinta biarpun tahu bahwa sesungguhnya cinta itu tak ada dengan berbagai alasan dan pembuktiannya, tidaklah menjadikan semuanya indah. Mimpi itu pun tidak akan pernah terwujud karena ada banyak dusta lewat pembenaran di dalamnya.

Apa yang sebenarnya adalah ketakutan atas ketidaksiapan diri untuk menghadapi sebuah perpisahan. Ketidakmampuan untuk menerima segala fakta dan kenyataan yang sebenarnya dengan terus merasionalisasikannya sehingga membuat segalanya menjadi lebih menakutkan dan menyeramkan lagi. Mimpi yang indah itu pun semakin terkikis meski usaha terus dilakukan untuk mempertahankannya. Untuk apa?!

“Barangkali dalam hal ini, saya jauh lebih siap.”

“Tentunya.”

“Pada awalnya saja semua itu tampak menakutkan dan mengerikan, tetapi setelah dihadapi dan dijalani, tidak ada yang berubah. Semuanya sama saja.”

“Waktu itu, saya berpikir bahwa dia harus saya tolong. Bagaimana tidak?! Dia pernah meminta saya untuk membawanya keluar dari kehidupannya.”

“Tidak usahlah bicara bahwa dirimu ingin menolongnya, dan tidak perlulah beralasan dan juga selalu berusaha memberikan bukti atas dan untuk pengakuan. Bagi saya, yang paling penting adalah dirimu menyadari sepenuhnya dan mau mengakuinya dengan jujur apa yang sebenarnya telah dirimu lakukan terhadap dirimu sendiri. Benarkah semua itu dirimu lakukan karena memang benar ingin menolong ataukah karena dirimu ingin membuktikan apa dan siapa dirimu beserta segala janji dan komitmen yang sudah dirimu buat sendiri?!”

“Hmmm…. Begitukah penilaianmu terhadap saya?!”

“Tidak ada maksud untuk menilai. Semua ini adalah bagian dari instrospeksi atas apa yang telah kita jalani bersama, baik dalam suka maupun duka, tawa dan tangis, senyum dan segala kemarahannya. Kita menjadi lebih kenal satu sama lain, dan saya ingin kita menjadi lebih mampu untuk bisa saling berkomunikasi dengan baik dan mengekspresikan segala rasa dan pikiran dengan sejujurnya dan sebenarnya. Pengalaman bicara dan kita harus selalu siap di dalam menghadapi serta menjalani apa yang telah kita pilih dengan segala resiko dan tanggungjawabnya masing-masing.

Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menjadi malaikat karena hanya diri sendirilah yang bisa mengubah dan menolong diri sendiri. Tak perlu memberikan pertolongan bila yang meminta pertolongan pun tidak memiliki kesungguhan dan keberanian untuk menolong dirinya  sendiri, dan janganlah menolong bila semua itu sudah menjadi sebuah obsesi. Mereka yang bertanya pun seringkali tak bertanya karena sesungguhnya mereka sudah memiliki jawabannya sendiri dan hanya membutuhkan konfirmasi untuk meyakinkan segala pembenaran atas diri mereka sendiri.

Setiap orang memiliki kebahagiaannya masing-masing, bahagianya belum tentu bahagianya kita, begitu juga sebaliknya. Biarlah mereka belajar dan menjadi mandiri karena mereka sendiri jugalah yang akan mempertanggungjawabkannya dan merasakan segala resiko dan akibatnya.”

“Semoga saja semua ini juga bisa membuatmu lebih bisa mengendalikan diri untuk tidak menjadi lebih sabar dan tidak cepat marah serta mengambil keputusan mendadak tanpa dipikirkan secara matang. Saya tahu apa yang menjadi keinginanmu dan saya bisa merasakan apa yang dirimu rasakan. Kita adalah satu. Saya tidak ingin ada penyesalan pada dirimu di kemudian hari hanya karena dirimu tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri. Saya ingin dirimu bahagia dan kita bahagia.”

Awal yang sulit akan menjadi mudah dijalani dan dihadapi karena apa yang menjadi tujuan sebenarnya adalah akhir. Lebih baik semuanya diawali dengan keberanian untuk memulai dan menjadi jujur di dalam menghadapinya, daripada kemudian ada dusta dan susah. Kebahagiaan baru benar ada bila dusta itu tiada dan segala pembenaran itu tidak perlu ada. Banyaknya alasan dan pembuktian justru menjadi pertanda tiadanya kebahagiaan itu sendiri.

Bila memang benar cinta, maka tidak ada yang perlu menjadi batas yang membuat diri menjadi terbatas. Tidak ada juga yang bukti dan alasan atas keterbatasan yang dimiliki. Cinta tak memiliki batas dan dari cinta, yang paling utama adalah memberi dan menerima dengan segala ketulusannya. Oleh cinta, semua itu dibuat, disentuh, dan diisi dengan sepenuhnya cinta dan dengan yang sejatinya. Untuk cinta, adalah tujuan akhir yaitu kebahagiaan yang senantiasa abadi, penuh dengan kedamaian, dan kemerdekaan yang sesungguhnya.

“Jiwa mendorong dan mengarahkan semua yang dilakukan. Dia yang Sang Maha Cintalah yang memberikan semuanya. Diri ini hanyalah perantaranya. Semua yang berawal dan bermuara dari dan pada cinta, maka akan menjadi indah, terus indah, dan memberikan keindahan.”

Proses tidak akan pernah berhenti di dalam perjalanan kehidupan bercinta. Ditinggalkan dan meninggalkan adalah  pembelajaran untuk bisa lebih matang serta yakin atas apa yang menjadi tujuan akhir itu sendiri. Pilihan itu ada, tinggal bagaimana kita berani bukan untuk mengambil pilihannya, tetapi untuk menghadapi segala resiko dan konsekuensinya di masa nanti. Kini adalah nanti.

Hari bahagia itu bukanlah hanya sekedar mimpi bila memang itu yang menjadi tujuan di dalam proses pencarian dan perjalanan. Tak ada yang perlu dipaksakan ataupun dijadikan sebuah keharusan karena cinta bisa mengalahkan segalanya. Keindahan hanya akan ada bila apa yang dirasa, dipikirkan, dan dilakukan adalah benar  dari cinta, oleh cinta, dan untuk cinta.

“Saya mencintaimu dan hanya cinta yang saya miliki untukmu.”

 

Salam hangat penuh cinta selalu,

 

Mariska Lubis dan Edysa Tarigan

24 Juni 2011

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Freedom, Love, Lust and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dari Cinta, Oleh Cinta, dan Untuk Cinta

  1. Bahagia Arbi says:

    “Saya mencintaimu dan hanya cinta yang saya miliki untukmu.”

    Memiliki Cinta utk semua adalah filosofi yg begitu berguna. Terimakasih telah ajarkan saya byk hal lewat tulisan2mu. Semoga suatu hari saya bisa meraih apa yg saya impikan. Dengan perjuangan tanpa henti tentunya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s