Perempuan, Seks, Emansipasi, dan Feminisme

Illustrasi: google search

Sudah lama saya ingin sekali mempublikasikan apa yang selama ini menjadi pemikiran saya sebagai seorang perempuan dan pandangan saya terhadap perempuan, seks, emansipasi, dan feminisme saja. Bisa dibilang sebagai ungkapan rasa keprihatian atas apa yang terjadi sekarang ini dan korelasinya terhadap yang tehadap perempuan, seks, emansipasi, dan feminisme.

Beberapa tahun terakhir ini, banyak yang meributkan masalah dan menghubungkannya dengan emansipasi dan feminisme. Masalahnya apa, yang diributkannya apa. Aneh. Menurut saya, tidak ada hubungannya sama sekali, kecuali yang dilihat hanya seputar permukaannya saja. Malah saya, sebagai perempuan, merasa sangat terhina. Sebagai manusia, saya juga merasa direndahkan.

Saya bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang perempuan, dan seks adalah kehidupan saya. Saya juga menjunjung tinggi hak dan kewajiban, namun bukan sebatas gender. Bagi saya, hak dan kewajiban adalah bicara soal manusia. Begitu juga soal feminisme. Saya suka, bangga, dan mengagumi feminitas perempuan namun saya tidak sepaham dengan pandangan feminisme. Bagi saya, saya tetap seorang perempuan dengan takdir dan kodratnya sendiri. Dengan segala kelebihan dan kekurangnnya, sebagai manusia.

Bagi saya, seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri, sehingga kita semua tidak pernah lepas dari apa yang disebut dengan seks. Apapun itu, bagaimananapun itu, dan siapapun itu. Semua ada hubungannya dan sangat saling terkait antara satu dan lainnya. Perempuan dan pria memiliki peranan penting dalam kehidupan ini. Begitu juga dengan jantan dan betina. Semua memiliki peranannya masing, masing. Oleh karena itulah, bila bicara tentang seks dan perempuan, maka saya juga harus bicara tentang seks dan pria, seks dan betina, seks dan jantan agar semuanya menjadi adil dan seimbang.

Emansipasi, bagi saya, adalah hak yang dimiliki oleh setiap manusia. Manusia memiliki hak untuk berkembang dan menjadi dirinya sendiri. Tidak ada yang boleh menghalangi ataupun membatasinya. Namun, bila bicara tentang hak, kewajiban pun harus mengimbangi. Bila terus bicara soal hak tetapi tidak juga memenuhi kewajiban, untuk apa?! Sekali lagi, bicara memang mudah, tetapi apa benar sudah dipikirkan secara benar?!

Feminisme juga membuat saya, sebagai seorang perempuan, merasa menjadi tidak masuk ke dalam bagian sebagai manusia. Saya dikotakkan ke dalam sebuah kategori yang kemudian menjadi sebuah ekslusifitas tersendiri. Berontak untuk mendapatkan pengakuan atas kategori itu sementara tidak mengindahkan kategori-kategori lainnya. Kalau perempuan boleh teriak soal feminisme, berarti pria teriak tentang maskulinitas dan chauvinisme juga wajar, dong?! Apa harus diprotes juga?!

Dalam hal dan pandangan soal emansipasi dan juga feminisme, saya malah memiliki teori konspirasi tersendiri. Jangan-jangan memang ini dibuat oleh pria yang mengkategorikan diri sebagai pria dan merasa lebih dibandingkan dengan kategori manusia lainnya, terutama perempuan. Bisa saja, kan, mereka yang membuat untuk kemudian tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Tuh, kan!!! Perempuan!!!”.

Hubungan antara seks dan emansipasi serta feminisme, saya mengambil contoh soal anak yang bagi saya merupakan manusia yang di masa depan. Sekarang ini, banyak yang berteriak seolah-olah perempuan yang memiliki andil dan peranan lebih besar soal anak. Padahal, anak tidak mungkin ada bila tidak ada pria juga dan dalam membesarkan serta mendidik anak, juga diperlukan dua-duanya. Bukan hanya salah satu. Tidak ada yang lebih penting dan berperan di sini. Idealnya, ya!!! Kalau pun memang pada prakteknya sulit diterapkan, tetapi bila memang memiliki landasan pemikirannya benar, maka pada pelaksanaannya akan lebih mudah untuk menjadi benar juga.

Eksploitasi soal seks dan perempuan, bagi saya ini adalah masalah yang harus dibenahi dari semua sudut pandang. Tidak bisa hanya dari perempuan yang dijadikan korban lalu berteriak untuk tidak dikorbankan. Kenapa tidak mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang lainnya. Apakah pria juga sering menjadi korban eksploitasi perempuan?! Dipaksa untuk bekerja keras dan menghidupi perempuan dan anak-anak dengan dalih kewajiban seorang suami dan juga kepala rumah tangga?! Apa benar ini adalah kewajiban?! Kalau memang itu adalah kewajiban, lanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, apa hak mereka?!

Perempuan dan pemberdayaan perempuan. Aduh!!! Saya sangat malu setiap kali membaca atau mendengar yang satu ini. Kenapa?! Saya sebagai perempuan dibuat dan diperlakukan seolah-olah seperti memang makhluk yang tidak berdaya saja. Maaf, ya!!! Bisa saja saya menganggap diri saya seperti itu, tetapi saya tidak mau. Saya memiliki kelebihan sendiri, begitu juga yang lainnya. Saya juga memang memiliki kekurangan sendiri, begitu juga yang lainnya. Oleh karena itu, bila memang ingin berdaya, jangan hanya terbatas soal gender, dong. Kenapa tidak semuanya?! Toh, semua memang saling membutuhkan?!

Sama juga dengan soal emansipasi dan feminisme, soal pemberdayaan perempuan, menurut saya, bisa juga bagian dari konspirasi. Di mana kemudian menjadi sebuah sarana untuk melecehkan perempuan. Membuat semuanya tetap terkotak-kotak dan masuk dalam kategori masing-masing. Tidak melihat secara jelas dan benar apa itu manusia.

Sudah jelas memang perempuan dan pria memang berbeda. Ini terlihat dari sisi fisik dan psikologisnya yang memang menurut saya, sudah diatur sedemikian rupa oleh Yang Menciptakan untuk bisa saling mendukung dan saling mengimbangi. Percaya, nggak, sama hukum keseimbangan alam?! Yin dan Yang?! Namun bila kita semua selalu mempermasalahkan soal perbedaan antara perempuan dan pria, menurut saya tidak akan pernah bisa menjadikan solusi. Membicarakannya memang perlu, tetapi bukan untuk dipersoalkan, tapi dicari titik keseimbangannya, yang menurut saya adalah manusia.

Berpikir dan bertindak sebagai seorang manusia akan memberikan lebih banyak manfaat baik untuk diri sendiri maupun yang lainnya. Tidak hanya untuk kategori tertentu saja karena masalah yang ada di dunia ini bukan hanya masalah satu kategori saja ataupun hanya diselesaikan oleh dan untuk kategori tertentu saja. Kapan kita mau maju dan melangkah ke depan bila terus berkutat kepada satu titik saja sementara titik-titik ini sudah menjadi sebuah lingkaran besar?!

Saya juga yakin sekali, setelah saya mempelajari tulisan Ibu Kartini, bahwa apa yang dimaksudkan olehnya bukan hanya sekedar perempuan tetapi mewakili apa yang tertindas. Sebuah perlawanan terhadap kolonialisme dan budaya serta arus yang ada. Beliau “lebih” dari apa yang selama ini dipahami.

Sekali lagi, ini adalah pemikiran saya. Tidak perlu setuju dengan pemikiran saya ini. Saya justru ingin semua memikirkannya dan menemukan pemikirannya sendiri.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

20 April 2010

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Freedom, Passionate Revolution and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Perempuan, Seks, Emansipasi, dan Feminisme

  1. syanghwara says:

    memang dunia ini sudah gila tepatnya orang-orang penghuni dunia ini memang sudah pada sinting walau masih ada yang tidak sinting salah satunya ya Mariska dan selanjutnya saya pun berharap untuk tidak ikut-ikutan sinting, hehehehehe…
    banyak orang meributkan kata Feminisme, seolah-olah feminisme adalah dewa yang akan menyelamatkan seseorang bila orang tersebutnya memujanya. padahal tidak demikian justru apa yang diangggap dewa itu justru adalah jebakan setan untuk memutus jalinan indah antara perempuan dan laki-laki. meributkannya adalah sebuah kebodohan!!

  2. Herizal Alwi says:

    I love it Sis

  3. memang masalah perempuan dan eksploitasi seks membuat miris mbak, ekslusifisme perempuan juga menjatuhkan nilai perempuan itu sendiri, perempuan sendiri harus memahami dirinya, keberadaan serta potensi yang ada pada dirinya sendiri. tulisannya bagus mbak,,, saya suka

  4. bucan says:

    kirain cuma aku (pria) yg py pendapat spt ini.. ternyata tidak.. aku suka.. salut.. dan inilah kartini yang sebenarnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s