Pasang Surut Dalam Bercinta

Illustrasi: tastelikehersheys.blogspot.com

Tidak selalu senang, tidak juga selalu susah. Senang selalu diinginkan namun sering dilupakan. Susah selalu dijauhi namun selalu yang diingat. Ego menghasilkan marah dan marah membuat sakit. Penyelesaian bersama bukan yang diutamakan. Keinginan untuk memuaskan diri sendiri yang menjadi prioritas utama. Mau sampai kapan?!

Seorang perempuan mendesah dalam dan panjang. Air mata terurai dan membasahi wajahnya yang cantik. Suaranya yang lembut menjadi parau penuh kepiluan. Dia sedih karena merasa apa yang dilakukannya tidak memiliki arti dan manfaat sama sekali.

Sudah beberapa bulan ini dia bekerja mencari nafkah untuk keluarganya karena suami yang sangat dicintainya sedang tidak memiliki pekerjaan. Beruntung pada saat yang sama dia mendapatkan kenaikan jabatan sehingga bisa mendapatkan penghasilan yang lebih dari sebelumnya sehingga dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Namun semua itu membuatnya juga menjadi susah karena harus menghabiskan waktu lebih banyak di tempat kerja dibandingkan dengan di rumah. Sering lembur dan mendapatkan tugas ke luar kota.

Kewajiban sebagai seorang istri dan ibu selalu diusahakan dipenuhinya. Cuci dan setrika pakaian sampai menyiapkan makanan pun tetap dilakukannya meskipun tubuhnya sudah sangat lelah. Yang diinginkannya hanyalah pengertian dari sang suami tercinta bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk keluarga. Kalau dia tidak bekerja, lalu siapa yang memberi makan anak-anak dan menyekolahkan mereka?! Kenapa harus selalu ada rasa curiga dan cemburu bila tahu kalau tidak pernah terjadi apa-apa di kantor selain bekerja?! Apakah memang seorang istri tidak memiliki hak dan hanya memiliki kewajiban?!

”Mbak, saya nggak mengerti, kenapa dia harus marah dengan saya hanya karena saya bekerja?! Uang hasil penghasilan saya bekerja pun tidak pernah saya pakai sendiri tanpa seijin darinya. Ini semua untuk menghormati dan menghargainya, karena dia seorang suami dan saya seorang istri. Saya bekerja lembur pun karena memang pekerjaan sedang sangat menumpuk. Siapa, sih, yang suka kerja lembur?! Saya juga capek kalau terus-terusan pulang larut. Saya rindu dengan anak-anak dan saya ingin punya banyak waktu bermain dengan mereka. Kalau saya keluar kota, itu semua karena tugas yang harus saya jalankan. Saya pun pergi tidak diam-diam. Saya selalu memberitahukannya ke mana dan untuk apa. Dia pun bisa telpon ke kantor dan bertanya apa yang saya lakukan, karena saya juga tidak pergi sendirian. Lalu, kenapa dia harus cemburu?! Kenapa dia tidak mau mengerti dan memahami semua ini?! Kenapa dia tidak mendukung apa yang saya lakukan?! Apakah saya memang salah?!”

Sebuah potret kehidupan bercinta yang sekarang ini banyak terjadi. Keadaan ekonomi yang sulit membuat banyak perempuan harus bekerja. Ditambah lagi memang pada fakta dan kenyataannya, perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan pria. Menjadi sebuah dilema dalam bercinta bila tidak ada saling pengertian. Menjadi masalah bila ego terus dikedepankan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak perempuan yang lalu menjadi lupa akan dirinya yang tetap merupakan istri dan ibu rumah tangga. Asyik dengan bekerja dan bekerja pun dijadikan alasan untuk melupakan kewajibannya di rumah. Menjadi sombong karena merasa telah menjadi penguasa dan berkuasa. Memanfaatkan situasi dengan menyalahkan suami yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan menginjak harga diri suami. Malah tak sedikit juga yang pada akhirnya memang berselingkuh. Sayangnya, kebanyakan selingkuhannya itu yang biasanya lebih banyak membuat susah. Niatnya mau lebih ringan, yang ada malah semakin semrawut tak karuan. Susah juga, kalau sedang gelap mata, siapa yang ingat?!

Bisa dimaklumi juga bila pria memiliki ego tersendiri atas “kejantannya” yang salah satunya dinilai dari kemampuannya untuk bisa memenuhi kewajiban dalam keluarga. Memberikan nafkah yang bisa menghidupi keluarga adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi pria, sehingga bila semua ini tidak bisa dipenuhi, egonya pun tersentuh. Dia merasa lemah, tak berdaya, dan tidak “jantan” sama sekali. Malu dengan keadaan dan biasanya kemudian ditutupi dengan kemarahan yang tidak jelas. Rasa cemburu karena tidak merasa “aman” pun meningkat. Sadar disadari, diakui tidak diakui.

Lain lagi ceritanya kalau memang pria yang memang manja dan malas. Banyak juga pria yang memanfaatkan pasangannya untuk bisa selalu enak tanpa harus bekerja keras. Istri capek bekerja banting tulang, dia malah asyik dengan dunianya sendiriKebutuhan anak yang utama pun dilupakan. Bilapun bekerja, uang penghasilannya dihabiskan untuk kesenangannya sendiri. Toh, sudah ada istri yang memenuhi semua keperluan rumah tangga. Giliran istrinya malas memenuhi kebutuhan biologis, ngamuk-ngamuk!!! Dijadikan alasan pula untuk mencari selingkuhan dan pengganti. Duh!!!

Di sinilah pentingnya komunikasi terjalin. Sebaiknya setiap pasangan sama-sama mau mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan dan diinginkan masing-masing. Diam tidak akan menyelesaikan masalah. Memangnya semua orang seperti Dedy Cobuzer yang bisa membaca jalan pikiran orang lain?! Kalau tidak diutarakan, mana bisa tahu?!

Usahakan untuk selalu menceritakan apa yang ada di dalam pikiran dan juga di dalam benak. Keluarkan semua dengan sejujur-jujurnya meski harus ribut. Lebih baik ribut lalu sama-sama saling introspeksi diri dan kemudian duduk mencari penyelesaian daripada diam dan didiamkan sampai menumpuk. Meledak di kemudian hari bisa lebih berbahaya. Kalau sudah tidak bisa dibendung biasanya lebih tidak bisa dikontrol.

Bila memang sulit untuk bicara, langkah awal yang mungkin bisa dilakukan adalah duduk dan mengadakan kesepakatan untuk menuliskan apa yang diinginkan oleh masing-masing. Tulislah dalam lembaran kertas, lalu saling bertukar. Bila memang perlu, tuliskan juga semua hal yang memang disukai dan tidak disukai dari pasangan masing-masing. Misalnya, 10 hal yang buruk dan 10 hal yang baik tentangmu di mata saya. Ini akan sangat membantu.

Sangat diperlukan sekali kontrol emosi dalam menyelesaikan masalah seperti ini. Harus benar-benar bisa memposisikan diri dalam keadaan tenang dan netral. Siap dengan segala konsukuensi yang akan terjadi. Mental sangat teruji di sini. Akan sangat tampak jelas siapa yang egois dan siapa yang tidak. Akan tampak jelas juga siapa yang tidak jujur dan siapa yang jujur. Pembelaan dan pembenaran diri akan selalu ada. Untuk menghindari semua ini, tarik nafas yang panjang dan tenangkan diri. Fokuslah pada keinginan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik dan lebih nyaman.

Jika memang sulit, mintalah bantuan yang lain yang posisinya netral. Bisa menjadi penengah untuk mengatasi masalah. Ini juga bisa dilakukan, tetapi tetap sebelumnya harus ada kesepakatan bersama dulu Kesepakatannya?! INGIN MENYELESAIKAN MASALAH.

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

Catatan:

Sabar ya, sayang!!! Jangan menangis!!! Tabahkan dan kuatkan hatimu. Semua pasti ada jalan keluarnya. Jangan menyerah, ya!!!

9 Juli 2010

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Love, Lust and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pasang Surut Dalam Bercinta

  1. Yes!
    Cinta itu pasang surut,
    Dibangun menuut urutannya

    Jika kita lari dgn selingkuh,
    Akan berlanjut dua lingkuh dst
    Hingga lumpuh! hh.

    Salam Kenal Bil!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s