Permainan Cinta?!

Ilustrasi: googgle search

Bermain dengan hati dan rasa terkadang membuat sulit membedakan mana cinta dan mana nafsu. Kesenangan di dalam melakukan permainannya, yang bisa jadi menyenangkan dan memuaskan, tetap saja memiliki resiko dan konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Masalahnya, seringkali tidak mau memikirkannya sehingga tidak siap atau melepaskannya begitu saja. Sungguh sulit menemukan seseorang yang benar dipenuhi cinta, mau memberikan cinta dengan tulus, dan serius di dalam cinta.

Seringkali berpikir bagaimana cara seseorang dapat berbagi rasa dengan banyak pasangan dalam satu waktu. Begitu juga dengan begitu mudahnya memulai dan mengakhiri sebuah hubungan, sehingga memiliki banyak sekali “mantan”. Sebenarnya, apakah itu hanya main-main ataukah memang serius mempermainkan? Jangan-jangan malah sebenarnya justru dipermainkan, karena memang tidak ada yang serius.

Yang lebih membingungkan lagi apabila tidak ada posisi yang jelas. Mau disebut pacar atau kekasih pun tidak bisa karena statusnya memang tidak tahu. Namun bila ditanya sayang atau cinta, ya, sayang dan cinta. Untuk mengakhiri hubungan pun sulit karena tidak mampu melepaskan diri. Sementara untuk memiliki status dan posisi yang jelas juga sulit. Bukannya tidak mungkin, hanya sulit saja.

Seorang perempuan mendesah dalam dan panjang. Dia mencintai seorang pria yang ternyata masih memiliki istri. Tak heran bila setelah sekian lama, semuanya selalu seolah disembunyikan dan banyak sekali keterbatasannya. Apalagi  masing-masing sudah memiliki anak dan tentunya hal ini menjadi sebuah pertimbangan yang harus dipikirkan masak-masak.

Tentunya menjadi tidak mudah baginya menempatkan diri. Di satu sisi, dia serius sekali di dalam menjalin hubungan tersebut. Dia sudah mentapkan hatinya hanya untuk pria itu dan tidak mau dengan yang lain meski kesempatan itu besar. Di sisi lain, dia pun takut dengan hatinya sendiri. Dia tak ingin disakiti ataupun menyakiti, sebagai perempuan, dia tahu bagaimana rasanya dikhianati dan dipermainkan. Menjadi dilema tersendiri, apakah sebaiknya yang dilakukan?!

Sebuah bisikan menyarankan untuk tidak terlalu serius mengingat ketidakjelasan posisi dan statusnya. Membuka diri dan hati untuk yang lain akan jauh lebih baik daripada tersakiti dan menyakiti. Toh, dunia ini tak selebar daun kelor. Ada banyak kesempatan bila memang mau. Kesempatan bukan keberuntungan tetapi karena dibuat dan diadakan sendiri. hanya soal mau atau tidak. Untuk apa juga serius, belum tentu pria itu juga sama, kan?!

Yang lain menyarankan untuk lebih baik fokus pada pekerjaan dan anak-anak karena itu jauh lebih penting. Perlahan menata diri dan hati untuk lebih siap dan menjadi lebih baik ke depan. Kebutuhan seorang perempuan harus mampu dikendalikan karena semua tergantung pada pikiran saja. Siapa yang pernah tahu bila ke depan ada yang lebih baik datang memberikan cinta dan serius di dalam membina sebuah hubungan.

Dia berkata bahwa dia tidak ingin bertengkar. Bisa menjalin sebuah hubungan dengan damai merupakan sebuah anugerah yang patut disyukuri. Kata-kata itu membuat saya jadi merasa seperti dilempar dari langit. Saya seolah diingatkan kembali bagaimana dia memilih untuk bersikap. Buat saya, itu sama artinya dengan sebuah keputisan penting, dia tidak akan pernah memilih saya. Dia akan terus melanjutkan hubungannya bersama istrinya karena dia tidak suka dengan pertengkaran.

Tidak mungkin sebuah perceraian dapat dilalui dengan mudah tanpa kesal dan marah. Ego kekuasaan itu selalu ada, walaupun itu merupakan sebuah proses untuk menyelesaikan masalah dan menjadi lebih tenang dan nyaman, tetap saja menjadi momok yang ditakuti oleh banyak orang. Terutama lagi bila ada prinsip dan nilai-nilai baik secara pribadi maupun agama dan masyarakat yang diyakini, tak heran bila banyak yang memilih hidup dalam dusta daripada terbebas dan merdeka.

Saya tidak menginginkan dia berpisah dari istrinya bila itu baik untuknya dan membuatnya bahagia. Bahkan saya lebih suka bila dia membina lagi hubungan dengan lebih baik dengan menyelesaikan masalah yang ada secara baik-baik. Bila memilih untuk bertahan, bukankah lebih baik memperbaikinya? Mana enak hidup berpasangan tapi tidak harmonis?

Saya sebetulnya tidak tahu persis karena dia tak pernah mau bercerita dan sangat tertutup. Saya selama ini justru menduga dia telah sendiri. Saya pun terkejut sewaktu mengetahui dia masih memiliki istri. Terus terang saja, saya malu hati. Saya tidak mau menjadi perempuan penghancur rumah tangga orang lain, apalagi orang yang sangat saya cintai. Saya benar-banar patah hati dan patah arang sebetulnya, karena sungguh tidak mudah mencintai pria beriatei. Saya tidak akan pernah menjadi yang utama dan sulitlah untuk dapat membina hubungan yang serius. 

Barangkali saya memang egois, saya tipe perempuan yang membutuhkan perhatian terus menerus. Saya tak mau menjadi nomor dua atau diduakan. Saya memiliki  kelemahan di dalam rasa percaya diri dan banyak hal lainnya yang membuat pria pasti kesulitan dan kebingungan di dalam menghadapi saya. Terutama bila sudah berhadapan dengan ego pria itu sendiri dan chauvinisnya. Oleh karena itu, saya tidak mau main-main karena saya sendiri tak suka dipermainkan. 

Hanya saja, hati ini sulit sekali untuk melepaskan diri dan menjauh. Saya amat teramat sangat mencintainya. Dia satu-satunya pria yang mampu membuat saya memiliki kembali mimpi dan keinginan, sebuah keyakinan atas cinta. Saya tak mau yang lain dan sama sekali tidak terpikir untuk mencari yang lain, walaupun sekarang saya sudah tidak lagi berani untuk bermimpi tentang cinta itu sendiri. Yang pasti, saya yakin saya mencintainya dan saya tak mau berdusta kepada yang lain juga pada diri saya sendiri. Terlalu lelah buat saya bermain-main, saya tak suka juga.

Rasa bersalah acap kali muncul karena saya menjadi tidak nyaman sendiri. Penuh dengan bingung, ragu, yang membuat saya menjadi labil. Pertentangan dengan diri sendiri muncul terus menerus dan saya pun menjadi semakin tidak tahu harus bagaimana. Saya sendiri tidak pernah tahu pasti, apa dan siapa saya bagi dia. Di mana dan apa posisi dan tempat saya. Itu juga barangkali yang membuat saya semakin tak karuan. Saya takut sekali dengan perasaan saya aendiri, saya benar-benar takut. Saya tak boleh merusak dan menghancurkan siapa pun juga, dan saya pun berhak untuk menjaga diri saya sendiri agar tidak hancur atau dihancurkan.

Bila pun saya harus bersabar, mau sampai kapan? Saya hanya manusia biasa yang memiliki batas kesabarannya. Atau, jangan-jangan saya yang terlalu kegeeran, ya? Saya yang memang bodoh dan tak tahu diri saja. Untuk apa juga dia mau serius dengan saya, ya? Memangnya saya ini siapa?! Banyak yang lain yang lebih cantik, baik, penuh dengan cinta yang tulus, dan  mampu memberikan semua yang terbaik serta mau lebih menerima apa adanya. Duh, malunya!

Mungkin saya harus lebih menerima apa yang sudah menjadi kelebihan dan kekurangan saya sendiri. Saya sudah siberikan banyak anugerah yang lain, jadi, seharusnya saya tak pernah boleh menginginkan lebih lagi. Saya mungkin memang tidak diberikan pasangan seperti yang lain, cukup hanya sebatas mencintai saja.

Ada banyak bentuk pasangan, tak perlu harus selalu menjadi kekasih, sebagai sahabat dan pasangan kerja pun itu sangat luar biasa. Sama-sama tetap bisa saling mengisi, berbagi, dan menolong. Bukankah saya sendiri yang ingin melihatnya bahagia? Tak mungkin dia bisa bahagia dengan saya. Saya ini hanya masalah dan masalah untuk urusan berpasangan sebagai kekasih. Tak pantaslah saya dijadikan pasangan oleh siapapun juga. Saya malu!”

Tak tahu apakah ini semua dapat dikatakan permainan cinta atau bukan. Kesenangan dan kepuasan yang didapat pada akhirnya berbanding lurus dengan duka dan kesedihan. Mau dibilang nafsu pun, bisa iya bisa tidak. Yang tahu persis hanyalah diri sendiri, itu pun jika berani mengakuinya secara jujur. Sangat tidak mudah untuk berani jujur dan mengakui yang sebenarnya walaupun sadar penuh kejujuran itu adalah pintu gerbang menuju kebahagiaan.

Ribut dengan pasangan juga sebenarnya bukan sesuatu yang patut untuk selalu dihindari. Daripada semuanya disimpan dan dipendam hingga menjadi bom waktu yang meledak tak karuan?! Lagipula, selalu ada kejujuran yang muncul  di dalam setiap pertengkaran karena ada emosi kuat yang terlibat. Ada sisi baiknya dati pertengkaran dengan pasanfan, yaitu bisa lebih saling kenal dan tahu diri sendiri dan masing-masing. Intropeksi sebenarnya jadi lebih mudah untuk dilakukan, tergantung apa yang pada akhirnya dipilih untuk dijalankan.

Berganti pasangan dalam jumlah banyak dan berganti banyak pasangan pun sebenarnya lebih banyak untuk menutupi kekurangan dan pemuasan atas kebutuhan keyakinan pada diri sendiri. Bila mau mengakuinya, belum tentu semua itu membuat bahagia, bahkan malah banyak yang jadi terjebak dan sulit untuk keluar lagi. Yang ada di dalam hati, tetap tidak akan pernah berubah ataupun tergantikan. Jika merasa semuanya sama saja, maka  barangkali patut untuk berpikir bahwa ada banyak sekali kekurangan diri yang ingin ditutupi. Kenapa ditutupi, sih?!

Serius dan tidak serius itu pun merupakan pilihan saja. Sama-sama memiliki resiko dan konsekuensinya masing-masing. Begitu juga dengan meneruskan ataupun menghentikan. Tidak ada bedanya saat ketika mau memulainya. Diperlukan ketegasan dan komitmen penuh yang kuat di dalam menjalani dan menghadapinya. Mampu dan siapkah?! Jangan menyalahkan pasangan atau orang lain bila menghadapi masalah, resiko, atau konsekuensinya. Salahkan diri sendiri dulu dan bercermin.

Permainan cinta bukanlah sebuah permainan biasa. Ada banyak sekali yang harus dipikirkan karena menyangkut langkah untuk menuju masa depan. Apa yang dituju dan apa yang sebenarnya diinginkan? Posisi, tempat, dan waktu yang benar akqn membuat lebih nyaman bila pasti dan jelas. Bila benar ingin bahagia maka penuhilah diri dengan cinta yang sesungguhnya. Berikanlah cinta dengan setulusnya tanpa pernah menginginkan apa pun sebagai imbalannya.

“Biarlah dia selalu menjadi cinta di dalam hati saya, dia tak akan pernah tergantikan. Cinta tak berarti harus selalu bersama, kan? Saya tak akan pernah juga meninggalkannya, saya akan menjadi sahabat dan pasangan dalam kerja dan karya. Cukup hanya sampai di sana, biarlah saya saja yang mencintainya. Saya tetap akan ada mendampinginya untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, semampu saya. Dia, bahagialah dengan cinta sejatinya, kekasih hatinya, kesepasangan hidup dan jiwanya. Saya ingin dia bahagia. Dia adalah anugerah terindah yang bukan untuk saya, tetapi untuk semua.”

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
8 Agustus 2012

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Love, Lust and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Permainan Cinta?!

  1. Bang Uddin says:

    (>””’<)
    ( ' ; ' ) Be Smart!!!
    (@)(@)

  2. remizyivonny says:

    Maaf numpang mampir.Saya jg dlm dilema yg hampir sama. Kekasih saya ternyata sudah menikah, dia mengatakan sudah bercerai. Namun hanya perceraian talak dan belum resmi dipengadilan. Saya sgt mencintainya. Dan dia terlihat jg sgt mencintai saya. Namun terkadang saya takut. Saya takut bahwa ini hanya hiburan sesaat, dan nanti dia akan kembali pd istrinya. Namun cara dan sikapnya pada saya meyakinkan diri saya bahwa ini cinta, dan bukan hiburan sesaat, bukan pengisi kekosongan krn pertengkaran. Itu yg saya rasakan. Namun sejujurnya tidak ada satu org pun yg setuju dg hubungan kami. Org tuanya, org tua saya, tmn2 nya bahkan teman2 saya. Sekuat apapun cinta, namun bila tdk ada satupun dukungan akan lemah jg. Apa kah itu bnr? Entahlah. Saya hanya berusaha bertahan. Never give up sampai dia yg menyerah pd saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s