Belajar Seks, Yuk!

Terbayang senyum-senyum dan mata melotot pembaca judul tulisan ini. Belum apa-apa pikiran dan imajinasinya sudah ke mana-mana. Tak jauh dari seputar urusan ranjang dan selangkangan yang membuat degup jantung dan nafas tak beraturan. Menjadi bukti betapa pentingnya belajar tentang seks yang benar agar bisa berpikir dengan baik dan memiliki wawasan yang lebih luas. Tidak hanya terkurung oleh “ranjang” dan “selangkangan”, tapi bisa terbebas dari semua kotak dan memiliki banyak pengetahuan. Masalahnya, berani nggak belajar?! Tanpa nyali, tidak mungkin ada yang bisa menjadi lebih pintar!!!

Kita semua tentunya memiliki keprihatinan tersendiri terhadap perilaku seksual dan masalah seks yang saat ini harus kita hadapi bersama. Khawatir akan masa depan dan tak sedikit juga yang menjadi paranoid sendiri akibat tidak adanya lagi kepercayaan dan keyakinan atas masa depan. Semuanya kelihatan buram, semakin kelam dan kelabu. Terlalu banyak fakta dan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri ataupun dihindari, sehingga kita pun larut tenggelam di dalamnya dan merasa tak lagi berdaya.

Kita juga sudah muak dengan doktrin dan kata-kata manis ataupun petuah-petuah yang ada. Semua itu sudah seperti hanya bualan dan kepalsuan belaka. Mereka yang kita anggap baik dan “suci” pun ternyata terbukti melakukan banyak perbuatan kotor yang jauh dari kebaikan. Dusta dan kemunafikan kian merajalela. Lain di mulut lain diperbuatan, apa yang ditutupi dan apa yang dibuka sudah tidak konsisten. Entah siapa lagi yang patut dipercaya dan diyakini?! Siapa juga yang bisa menjadi panutan dan contoh?!

Apa yang kita pikirkan itu, bukan hanya dipikirkan oleh generasi yang lebih tua saja, tetapi juga oleh generasi muda saat ini. Semua kemuakan, ketidakyakinan, dan ketidakpercayaan itu ada di dalam diri mereka. Jangan heran bila mereka tidak lagi mau “mendengar” karena mereka juga bisa melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi. Dusta dan kemunafikan ada di mana-mana. Mereka diajarkan untuk jujur dan tidak munafik, tetapi mereka tidaklah sepolos dan sebodoh itu. Mereka bisa dengan mudahnya menunjuk jari dan memberi contoh.

Jika pun generasi muda kita sekarang cenderung manja, maunya serba instan, dan terjerumus dalam industri, komersialisasi yang ujung-ujungnya selalu urusan duit, ya, jangan langsung salahkan mereka. Mereka belajar dan mencontoh dari generasi-generasi sebelumnya, kok! Siapa yang mengajarkan mereka dan mendidik mereka untuk menjadi “komersil” dan selalu berpikir tentang uang?! Seolah uang itu segalanya meski diajarkan bahwa uang itu bukanlah “dewa”, sehingga itulah yang mereka yakini. Bahkan harga diri saja bisa dinilai oleh uang, kan?! Siapa tuh yang memberi contoh?!

Soal percaya diri?! Wah itu yang paling parah! Kompetisi eksistensi di mana-mana saja sudah memberi contoh betapa rendahnya rasa percaya diri. Kualitas yang tidak dipentingkan, menunjukkan lemahnya rasa percaya diri. Belum lagi didikan dan ajaran yang selalu membandingkan dengan orang lain. Begitu juga dengan petunjuk dan arahan agar selalu bisa “menjadi” umum dan kebanyakan, dengan berbagai alasannya. Keistimewaan pribadi masing-masing dihilangkan dan tidak dibantu untuk “diangkat”, malah kalau ada yang berani, lantas dimaki-maki, dihina, atau dicela dan dianggap aneh dan gila. Bagaimana mau percaya diri bila tak memiliki kepribadian dan jati diri?!

Semua ini berhubungan erat dengan perilaku seksual remaja pada saat ini. Mereka tidak mendapatkan pendidikan seks yang benar, dan mereka belajar serta mencontoh dari apa yang ada dan sudah ada. Mereka diajarkan hanya urusan penyakit, salah, dosa, dan tabunya saja sementara mereka melihat dan mencontoh pengabaian atas semua itu oleh generasi sebelumnya dan masyarakat serta lingkungannya. Wajar bila kemudian mereka berontak dan berpikir pendek, “Bagaimana nanti saja!”. Jika dimarahi pun, mereka bisa memberikan banyak contoh yang kita sendiri tak bisa pungkiri. Lantas, bagaimana, dong?! Apa harus balik marah?!

Yang paling mudah saja. Berapa banyak ayah yang tahu dan mengerti atau mau bicara kepada anak prianya tentang penis dan sperma. Bagaimana penis itu harus dijaga dan dirawat, dan bagaimana juga sperma itu memiliki arti yang sangat penting bagi masa depan. Sayang bila disia-siakan, dibuang, dan dipermainkan begitu saja karena hingga saat ini, manusia terpintar pun belum ada yang mampu membuat sperma buatan. Semua itu adalah anugerah Ilahi yang sudah sepatutnya dihargai dan dihormati, sebab tanpa penis, pria bukanlah pria. Tanpa sperma yang baik, maka tidak ada generasi depan yang baik juga.

Begitu juga urusan rahim dan selaput dara. Berapa banyak ibu yang tahu, mengerti, atau mau berbicara kepada anak perempuannya soal ini? Ketika anak putrinya bertanya mengapa dia sakit perut saat menstruasi pun, ibu belum tentu bisa menjelaskannya dengan baik dan benar. Mereka pun kemudian menjadi penasaran dan mencari tahu dari sana sini, yang belum tentu informasinya benar. Tidak perlu heran bila mereka terjerumus ke dalam banyak hal yang negatif. Orang tua sendiri juga tidak mendidik dan memberikan informasi yang benar, kok!!! Paling-paling urusan hamil, dosa, dan membuat malu keluarga. Itu saja, kan?! Sementara mereka juga banyak mencontoh dan dididik secara sadar atau tidak sadar bagaimana memanfaatkan tubuh mereka untuk mendapatkan keinginan dan memenuhi kebutuhan mereka. Betul, nggak?!

Perlu kita sadari bahwa seks itu dipengaruhi oleh seluruh faktor dalam kehidupan ini dan seks juga memiliki pengaruh besar di dalam seluruh aspek dalam kehidupan ini. Tidak ada seorang filsuf di dunia ini yang tidak pernah berpikir tentang masalah seks, bahkan tidak ada juga kitab suci di dunia ini yang tidak membahasnya. Seks itu sendiri pun tidak mudah untuk dipelajari sehingga pernah ditabukam untuk dipelajari sembarang orang. Bukan tabu karena porno, tetapi tabu karena dibutuhkan kedewasaan, kematangan dalam berpikir, wawasan yang luas, serta mental yang kuat dan jiwa besar untuk mempelajarinya. Mereka yang sudah sering berhubungan seksual dan sangat pengalaman tidak berarti pasti mengerti, malah kebanyakan tidak mengerti sehingga mereka melakukannya. Oleh karena itu, butuh nyali untuk belajar seks, bukan hanya sekedar mau!

Dengan belajar seks, kita akam lebih kenal apa dan siapa diri kita. Membuka tabir “rahasia” terdalam yang tersembunyi atau selama ini disembunyikan tentang diri kita sendiri. Seringkali membuat kita menjadi malu hingga tidak lagi berani bercermin, karena sadar penuh betapa diri ini kecil, lemah, kotor, dan sesungguhnya banyak tak tahunya. Namun hal ini jugalah yang membuat kita menjadi bisa bergerak maju ke depan dan menjadi lebih lagi terdidik serta memiliki lebih banyak ilmu serta pengetahuan. Membuat kita menjadi lebih yakin di dalam melangkah dan mengerti apa yang harus dilakukan di dalam setiap langkahnya. Seks adalah anugerah terbesar Ilahi bagi manusia dan seluruh makhluk hidup, kita bisa banyak belajar dari seks. Seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri.

Jadi, janganlah ambil jalan pintas dan membuat kesimpulan dengan mudah di dalam mengatasi masalah seksual ini. Tak usah banyak beralasan dan mencari pembenaran. Bercermin saja dulu, apakah kita sendiri sudah tahu tentang seks yang benar? Sudahkah kita menempatkan seks sebagai subjek dan tidak melecehkannya menjadi objek seputar kepornoan, ketabuan, ranjang, dan selangkangan saja?! Sudahkah kita sendiri jujur dan tidak munafik sehingga bisa menjadi contoh yang baik?! Bisakah kita juga menjadi lebih rendah hati dan tidak menjadikan uanh sebagai dewa yang di atas segalanya? Sudahkah kita juga memiliki jati diri dan kepribadian yang kuat sehingga bisa “berdiri” di antara kerumunan tanpa terbawa dan terseret arus?!

Hanya mereka yang tahu apa dan siapa dirinyalah yang lebih kenal dan dekat dengan Allah, bukankah itu yang difirmankan?! Mengapa tidak dilakukan?! Bukankah belajar juga merupakan amanah penting yang sepatutnya dijalani dan dilakukan tanpa henti?! Mengapa terlalu angkuh untuk mau melakukannya?! Inginkah masa depan menjadi lebih baik?! Inginkah kita melihat anak cucu kita memilki kehidupan yang indah dan bahagia?! Bila ya, belajarlah dan berikanlah contoh! Ajarkan yang benar dan didiklah dengan cara yang benar.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

21 Agustus 2013

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Freedom, Passionate Revolution, Sex and Politics, Sex Education and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Belajar Seks, Yuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s