Surat untuk yang Tercinta

Illustrasi: pemikirterfikir.blogspot.com

Sekali lagi, saya ingin sekali mengajak semua untuk mengingat betapa indahnya menulis surat. Apalagi surat untuk yang tercinta. Memang sekarang sudah banyak sarana lain untuk mengungkapkan segala rasa, namun surat memiliki arti yang sangat berbeda. Surat dapat disimpan dan dijadikan kenangan sepanjang masa. Tidak akan pernah terhapus oleh waktu dan juga masa. Selalu ada dan tersimpan.

Sebuah perbedaan antara pria dan perempuan perihal masalah cara berkomunikasi yang seringkali menjadi masalah. Sudah banyak tangis dan air mata terurai hanya karena masalah yang satu ini. Memang sulit bila sama-sama tidak mau mencoba. Mungkin surat bisa menjadi salah satu sarana untuk menemukan titik temunya.

Sepucuk surat untuk yang tercinta dituliskan sebagai ungkapan rasa rindu kepada yang sangat dicintai sekaligus juga sebagai permintaan maaf. Biarpun mungkin surat ini tidaklah ada arti baginya. Bahkan mungkin tidak akan pernah dibaca olehnya. Biarlah surat ini hanya menjadi arti tersendiri bagi yang menuliskannya. Sebagai pengingat bahwa memang pada saat dituliskan, cinta dan rindu itu memang ada padanya. Begitu juga rasa bersalah dan penyesalan.

“Sayang,

Malam ini, saya sedang mencoba menikmati keindahan alam dan kota dari teras di lantai dua sebuah rumah kayu. Ditemani sedikit bintang namun tak ada bulan. Tertutup awan gelap dan kabut tebal. Udara dan angin terlalu dingin untuk bisa disambut. Lampu-lampu pun berpendar temaram. Mungkin ini yang disebut dengan keindahan yang syahdu.

Sama seperti rasa dalam hati yang sedang saya nikmati. Cinta dan rindu itu ada. Selalu ada dan ada selalu. Namun entah kenapa sepi dan sendiri juga mengiringi. Seperti ada yang hilang dan menjadi kosong di dalam sana. Saya bahagia dan juga sedih.

Bahagia karena memiliki cinta dan juga rindu. Sedih karena cinta dan rindu itu harus diselimuti kesadaran akan sebuah perbedaan. Ya, saya dan kamu memang berbeda. Meskipun perbedaan itulah yang membuat segalanya indah.

Tidak ada yang lain yang saya inginkan untuk saat ini selain bisa berbincang-bincang denganmu. Bicara dari hati ke hati seperti yang pernah kita lakukan. Paling tidak, dengarlah apa yang sedang ingin saya utarakan. Saya ingin sekali bercerita dan menceritakan semuanya.

Saya mengerti mungkin karena dirimu sedang sibuk dan tidak memiliki cukup waktu. Capek dan letih juga. Saya sangat bisa memakluminya. Namun entah kenapa saya merasa sepertinya dirimu juga bosan dengan semua cerita saya. Mungkin memang membosankan karena selalu saja begitu, ya?! Maafkan saya, ya, sayang.

Bagimu mungkin perbincangan bukanlah sesuatu yang juga bisa menjadikan bukti atas apa yang dinamakan cinta sesungguhnya. Bagi saya, bukan perbincanganlah yang menjadi bukti. Saya tidak pernah meminta dirimu untuk membuktikannya juga. Saya hanya ingin dirimu tahu semuanya saja. Saya berusaha agar dirimu lebih mengenal saya dan tahu saya lebih banyak lagi. Saya hanya ingin tidak ada kesalahpahaman di antara kita nantinya. Saya harus selalu jujur dan menceritakan semuanya.

Tidak pernah ada tempat untuk saya bisa bercerita panjang dan lebar tanpa ada beban ataupun tujuan selain dengan dirimu. Membuat pikiran dan rasa selalu menjadi tak karuan bila dirimu tidak ada. Mungkin saya terlalu berbahagia dengan dirimu sehingga saya tidak bisa menahan diri. Sekali lagi, maafkan saya, ya, sayang. Maafkan saya.

Biarlah semua seperti adanya saja. Saya tidak ingin juga memaksakan dirimu ataupun juga memaksakan diri saya. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan untukmu. Itupun bila dirimu mau menerimanya. Bila tidak pun, tidak mengapa.

Saya akan juga berusaha untuk tidak menjadi orang yang egois dan tidak banyak menuntut darimu. Sebaiknya saya menjadi saya seperti biasanya saja, tidak boleh berlebihan. Menikmati semuanya agar tidak ada lagi sepi dan kosong itu. Biar yang tertinggal hanya cinta dan rindu dan juga dirimu apa adanya.

Janganlah pernah ragu ataupun segan bercerita apapun kepada saya. Susah atau senangmu adalah untuk saya juga. Biarlah saya selalu mendampingi dirimu dan membantumu semampu saya. Ini semua adalah kebahagiaan untuk saya juga.

Saya sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu. Teramat sangat. Maafkan saya, ya!”

Lega pasti rasanya untuk yang menuliskan surat bila semuanya sudah tertuang lewat tulisan di dalam surat ini. Sedih dan air mata mungkin masih ada tetapi paling tidak ada sedikit rasa lega karena sudah mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan juga pikiran.

Bagaimana tanggapan surat ini, sepertinya tidak harus dipikirkan. Biarlah mengalir apa adanya. Tidak perlu ada harap dan juga mimpi. Biarkan hati yang bicara.

Semoga saja surat ini bisa membuat semua untuk bisa memulai menulis surat lagi dan juga menjadikan surat sebagai salah satu sarana untuk mengungkapkan segala rasa yang tersimpan di dalam hati dan pikiran.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

4 Mei 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s