Kala Malu Bicara Seks

Seorang gadis kala memasuki usia 17 tahun dengan mantap menegaskan pada kawannya: “Jangan ngomong seks dong. Saya malu bicara soal seks. Belum siap. Itu kan ngomongan dewasa. Jangan nyerempet-nyerempet ke situ dulu ya. Jangan membangunkan macan tidur. Sekali bangun ia akan sulit untuk tidur lagi. Ntar juga tahu sendiri pas tiba waktunya.”

Tidak jauh beda dengan sang gadis, seorang perempuan dewasa juga memilih menghindar untuk bicara seks. Alasannya juga tidak jauh beda. Bedanya adalah seks dipahami sebagai sesuatu ketrampilan bawaan yang pasti bisa dilakukan dengan benar dan karena itu tidak harus dibahas dan dieksplore lewat pembahasan (komunikasi, diskusi, dan omongan bebas).

Tentu tidak ada yang salah dengan pilihan atas sikap di atas. Pasti ada alasan mengapa seks sampai begitu menakutkan walau sekedar untuk dibicarakan. Juga ada alasan mengapa menjadi sangat yakin seks sebagai sebuah ketrampilan bawaan. Pada sisi lain fakta-fakta kejahatan seks dan yang diakibatkan oleh seks juga terus bermunculan dan media terus saja mengabarkan kepada kita hingga sampai pada kesimpulan betapa pentingnya pendidikan seks. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, pendidikan seks yang bagaimana? Apakah seks sebagai sebuah kumpulan tips dan trik atau seks sebagai cara pandang atau lainnya.

Jika dunia dan kehidupan ini ibarat rumah maka seks adalah sebuah pintu dari sekian banyak pintu yang ada. Sebagai sebuah pintu tampaknya pintu seks bagian depan terus menerus disegel dengan berbagai peringatan. Misal: dilarang masuk bagi yang belum dewasa. Pintu Dosa. Awas Godaan Syaitan. Dan lainnya.

Meski pintu depan tersegel dan masih terus disegel dengan berbagai kekuatan namun dari pintu belakang berbagai usaha untuk menjadikan dinding kamar seks menjadi transfaran terus dilakukan. Dan, sejak awal para pengunjung yang melirik, mengintip, dan memasuki kamar seks tidak juga berkurang jumlahnya walau berbagai usaha sudah dilakukan. Seks tetap saja menggoda dan karenanya masih terus banyak yang tergoda.

Mengapa? Salah satu jawabannya (bukan satu-satunya) karena seks masih didekati hanya sebatas tips dan trik untuk keperluan kepuasan. Jadi seks masih sebatas alat atau media atau objek saja. Karena itu tidak heran jika suguhan seks melalui media menjadi sangat diburu oleh banyak orang secara individu dan secara sendiri atau berpasangan atau berkelompok dipraktekkan untuk menguji dan atau membuktikan pengetahuan yang diperoleh. Beruntung bagi mereka yang memiliki pikiran dan jiwa yang sehat karena bisa mempraktekkannya dengan sehat pula. Namun apa jadinya semua suguhan seks yang ada manakala dikonsumsi oleh mereka yang memiliki pikiran dan jiwa yang kotor? Duh, ngeri.

Jadi, jika ada banyak orang malu bicara seks dalam artian menolak untuk mendiskusikan soal seks itu semata karena seks hanya berujung pada rangsangan, ajakan, dan akhirnya hmmmmm. Begitu pula dengan malu dalam artian menikmati seks dengan diam-diam karena informasi yang ada tentang seks lebih sebagai informasi yang juga berujung pada pemuasan belaka.

Berbeda dengan semua malu yang ada di atas maka malu yang satu ini memang sama sekali tidak malu serta malu-maluin dalam membahas seks karena menurutnya “Seks tidak harus porno.” Malu yang saya maksudkan adalah Mariska Lubis (Malu).

Mariska Lubis atau akrab dipanggil ML sama sekali tidak malu membicarakan seks meski ada orang yang secara diam-diam atau secara malu-malu menempatkan tulisannya sebagai perusak anak-anak. Ucapan “gimana ya jika blog ini nanti dilihat sama anak saya?.” Bahkan ada yang melihat bahwa ML hanya seorang yang pikirannya sebatas selangkangan. Namun kalau dicermati justru ada banyak tulisan mereka yang juga bicara soal selangkangan dan hmmm jangan-jangan tangannya juga kerap menyentuh selangkangan karena sadar kalau kita semua memang punya selangkangan dan kehadiran kita tidak jauh dari selangkangan itu.

Mengapa ML tidak malu membicarakan seks dan terus saja membahas serta mengupas seks bahkan secara sangat dalam melihatnya ke sisi-sisi yang belum pernah terlihat dan akhirnya menjadikan seks sebagai suatu kendaraan kesadaran menuju-Nya? Semua jawabannya ada dibuku kumpulan tulisannya yang berjudul “Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar Dari Seks Dong!!”

Kok pemimpin yang harus belajar dari seks? Ada apa? Apa memang pemimpin sudah tidak sempat lagi bermain seks karena begitu sibuk dengan urusan harta, tahta, dan wanita? Atau, jangan-jangan semua pemimpin negeri sudah tidak lagi mengerti soal seks sehingga ML merasa penting menulis buku dengan judul himbauan? Kenapa pula kompasiana sebagai blog yang paling banyak diminati oleh blogger mau menjadikan tulisan seputar seks ML untuk dibukukan oleh Grasindo. Apapula kata blogger terpopuler Andy Syoekri Amal soal yang penuh dengan angka 3 ini: 136 halaman, 3 bagian, dan 38 judulini?

Semuanya bisa ditemukan jawabannya di buku “Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar Dari Seks Dong!! yang bersama STC akan dilaunching tanggal 21 Mei 2010 di Grand Indonesia, Jakarta dan juga diberbagai tempat lainnya seperti Bandung, Jogyakarta, Medan, Makasar, dan lainnya.

Terakhir, sebagai seseorang yang artikelnya juga dimuat di buku ini dengan judul Teologi Tubuh Mariska ingin mengatakan bahwa: “Buku ini pantas untuk dibaca karena ia tidak hanya menjelaskan fakta tapi juga merangsang instuisi kita untuk berani berpikir dengan benar sekaligus mengandung ajakan cinta yang begitu kuat terhadap negeri, Indonesia. Ini buku dari seorang Malu (Mariska Lubis) yang tidak perlu dibaca dengan malu-malu karena isinya sama sekali tidak malu-maluin dan bahkan mampu mendobrak mereka yang selama ini membahas dan memperlakukan seks dengan cara memalukan. “

Selamat menuju toko buku untuk mendapatkan buku “”Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar Dari Seks Dong!! seharga Rp 45.000,- atau segera kontak penulis dan teman-teman lainnya untuk mendapatkan harga special.

Oleh Rismanaceh

Posting di Kompasiana.com 03 Mei 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Mariska Lubis, Pendidikan Sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s