Mariska Lubis, Menemukan Tuhan di Buku Seks

SEKS adalah salah satu anugerah Tuhan. Dengan seks, manusia dapat berkembang biak dan mengembangkan keturunannya. Tak hanya itu, manusia juga dapat memperoleh kenikmatan yang luar biasa yang dapat membuat hidup lebih damai dan tenteram.

Sebagai anugerah, seks haruslah dikendalikan dengan benar agar tidak membuat manusia terjerembab dalam kehancuran. Sudah banyak fakta yang bisa dijadikan pelajaran, betapa seks yang tak terkendali seperti berhubungan seks di luar nikah atau zina, berganti-ganti pasangan, bisa menjadi malapetaka. Oleh karenanya, seks akan menjadi anugerah bila dilakukan dengan benar, tentunya setelah hubungan resmi di depan Tuhan.

Hubungan seks juga memberikan manfaat yang besar bagi tubuh. Berbagai penelitian membuktikan bahwa setidaknya ada sejumlah manfaat sehat dari hubungan seksual, seperti melepaskan diri dari stres, memperkuat sistem imunitas tubuh, membakar kalori, memperkuat saluran pembuluh darah, membuat percaya diri, mempererat hubungan, mengurangi rasa sakit, memperkecil risiko kanker prostat, memperkuat otot-otot panggul, dan membuat tidur lebih nyenyak, dan lain-lain.

Terlepas dari semua itu, seks selalu menarik untuk dibahas. Seru, menegangkan, dan mengasyikkan, namun tak jarang pula menyedihkan, dan bahkan menyakitkan. Ditinjau dari dari sudut pandang manapun juga, baik dari sisi kesehatan, budaya, sosial, ataupun sejarah, terlepas dari penilaian postif maupun negatif, dewasa ini ramai penulis, pengamat, dan peneliti masalah seks.

Di era sekarang ini, tulisan seputar seks pun tidak sulit ditemui di dunia maya. Bahkan jika ditelusuri, boleh dikata bahwa “seks” termasuk salah satu kata kunci pencarian yang banyak diminati di internet. Berbagai persoalan seputar seks banyak ditemukan dengan berbagai kemasan. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang banyak tulisan di internet yang kemasannya terkesan porno dan bahkan jorok, namun tidak kurang pula yang dikemas dengan santun, tidak porno, bahkan mendidik. Blog-blog yang mengupas soal seks yang mendidik ini juga tidak sedikit, baik blog pribadi maupun blog keroyokan (social blog).

Salah satu social blog yang memberi ruang bagi blogger untuk menulis masalah  seksologi yang “mendidik dan tidak porno” adalah Kompasiana. Di blog keroyokan ini – meminjam istilah Kang Pepih — salah seorang nama yang dikenal intens oleh para kompasianer (sebutan untuk blogger Kompasiana) menulis seputar seksologi adalah Mariska Lubis.

Mariska yang menjadi kompasianer sejak 13 September 2009 kini telah melahirkan lebih dari 180 tulisan di Kompasiana, di mana hampir seluruhnya bertemakan seks. Dari jumlah tersebut, 34 di antaranya insya Allah dalam waktu dekat ini akan diterbitkan melalui buku. Kebetulan saya dipercayakan sebagai editornya.

Dalam buku yang diberi judul “Menemukan Tuhan Lewat Seks”, Mariska memulai tulisannya mengenai latarbelakang ketertarikannya dengan seks. Sebagai seorang konsultan seks, Mariska menulis betapa awalnya orang-orang mencibir profesinya yang oleh banyak orang masih diangap aneh, bahkan tabu untuk dilakukan oleh seorang perempuan. Keluarganya sendiri pun seakan tak percaya kalau dirinya sebegitu “berani” menekuni profesi itu. Namun Mariska mengaku tak gentar, bahkan kadang tertawa bila ada yang bersikap seperti itu. “Saya merasa beruntung sekali mendapat kesempatan untuk bisa melihat sesuatu yang indah, menarik, dan perlu untuk dibicarakan.”

Mariska sebenarnya  menyadari sedari awal bahwa resiko menekuni profesi konsultan seks tidaklah ringan. Ada banyak sekali orang, baik pria maupun wanita yang menganggap dirinya sebagai perempuan liar, murahan, atau gampangan. Juga tak jarang istri dan pacar yang menuduh dirinya sebagai perempuan pengganggu rumah tangga orang. Akan tetapi, bagi Mariska hal ini bukanlah sebuah masalah besar yang harus dipikirkan. Dan Mariska pun berupaya melewatinya dengan manis. “Saya merasa cukup berbangga hati karena pada akhirnya ada banyak yang tertarik untuk melihat seks lebih dalam lagi,” katanya.

Seks memang menarik. Meski demikian tidak berarti semua orang terbuka dengan seks. Bahkan, tidak jarang yang berpura-pura tidak suka. Dalam buku ini Mariska antara lain menulis dengan judul yang sedikit “nakal”, “Kalau Suka Seks, Ngaku Aja, Deh!” . Di sini ia menceritakan pengalamannya ketika menghadiri sebuah pesta ulang tahun mantan pacarnya yang dirayakan di sebuah pantai di Australia. Menurut Mariska, saat itu dirinya sedang membuka kimono. Tentu saja ia tak bermaksud hendak telanjang, karena di balik kimono tubuhnya masih berbalut busana renang. Namun oleh teman-teman sang pacar, ia malah dimarahi karena dianggap tak punya sopan-santun. Pertanyaan yang bergelayut dalam benak Mariska: apakah dengan mengenakan busana renang di pantai itu termasuk tidak sopan? Dan benarkah para pria yang memarahinya itu memang benar-benar “moralis”?

Ternyata menurut Mariska, para pria-pria tadi tersebut munafik. Penilaian ini muncul, demikian tulis Mariska, setelah dirinya menangkap basah para pria tadi  sedang memelototi para wanita bertelanjang dada di pantai. Tak hanya itu, Mariska juga mendapati para pria itu keluar dari tempat esek-esek di Kings Cross, pusat pelacuran di daerah Sydney, dengan wajah penuh lipstick bekas ciuman. Ada apa?

Selain soal kemunafikan, Mariska dalam tulisannya juga menyoroti para pria yang suka berpikiran kotor. Oleh Marsika disebutkan sebagai “Bung Piktor”. Sosok Bung Piktor ini tulis Mariska, adalah pria yang di otaknya cuma ada seks, seks, dan seks. Yang dalam pikirannya bukan seks yang sehat, melainkan hanya seks dalam arti hubungan seksual semata. “Baru lihat betis putih mulus sedikit saja sudah pusing, mikirnya macam-macam….”

Dalam tulisannya yang lain, Mariska menceritakan seorang doktor lulusan luar negeri yang senang melakukan masturbasi otak. “Ia berkutat pada pemikiran yang luas dan yang dia yakini hebat, tetapi tidak mau melihat secara mendetail dan lebih fokus lagi. Dia terjebak dalam istilah pintar dan bodoh. Berkelas dan murahan,” kata Mariska.

Lalu ada juga tulisan Mariska mengenai pandangan tentang arti penting keperawanan. Mariska menggambarkan, di Amerika Serikat pada delade 80-an, masih banyak orang yang punya pikiran bahwa seorang perempuan yang sudah menginjak usia remaja tidak keren bila masih perawan. Bahkan dianggap memalukan. Ini menunjukkan betapa dalam pandangan mereka keperawanan itu tidak mempunyai arti. Akan tetapi seiring berjalannya waktu pandangan tersebut sudah berubah. Menurut Mariska, perubahan ini bukan dikarenakan faktor agama melainkan lebih kepada segi medis dan psikologisnya. “Sudah seperti trend di mana keperawanan menjadi simbol kekuatan seorang perempuan untuk menjadi seseorang yang memiliki pendirian, pintar, dan hebat. “

Hal ini sepertinya berbanding terbalik di Indonesia di mana keperawanan dianggap sebagai suatu keharusan. Begitu pentingnya, tak jarang pria menceraikan istri yang baru dinikahinya, setelah diketahuinya sudah tidak perawan lagi di malam pertama. Di sini Mariska mempertanyakan: sampai sebegitu hinanyakah perempuan yang sudah tidak perawan?

Seks memang luar biasa rasanya. Nikmat, bikin lebih rileks, dan membuat hidup lebih sehat. Mariska mengupas alasan: mengapa dirinya selalu menganjurkan seks yang sehat yang baik dan benar? Mengapa ia selalu berusaha membuat pembaca untuk tidak berpikiran kotor dan negatif tentang seks? Juga mengapa dirinya ingin pembaca melihat seks dari berbagai sisi pandang yang berbeda?

Fase perubahan tubuh dari anak-anak menjadi dewasa atau yang lebih dikenal dengan istilah puber juga tak luput dari perhatian Mariska. Dalam buku ini Mariska mengajak pembaca untuk bernostalgia, saat bagaimana pertama kali lihat ada rambut-rambut halus tumbuh di sekitar ketiak, suara berubah (untuk pria) dan menstruasi (perempuan), bagaimana waktu pertama kali naksir, nonton film porno, dan nyobain rokok.

Bagi pasangan yang sudah menikah, Mariska menyentil para suami agar bisa belajar menerima atau paling tidak mendengar ungkapan isi hati sang istri. Dalam hubungan suami istri, menurut Mariska, ungkapan istri apakah itu sifatnya remeh-temeh atau penting, bukanlah prioritas utama karena intinya bagaimana belajar mengerti keinginan pasangan agar lebih romantis.Masih berkaitan dengan romantisme hubungan, dalam tulisannya yang lain Mariska menuliskan perbedaan antara romantisme versi orang Indonesia dan orang Eropa. Selain itu juga menyinggung hasil penelitian Helen Fisher mengenai adanya hubungan cinta dengan reaksi kimia dalam otak.

Kebebasan berekpresi dalam bercinta juga tak luput dari perhatian Mariska. Mariska mengungkap aliran cinta sejumlah selebriti dunia, misalnya Jim Morrison yang mengumbar, liar, dan sembarangan, John Lennon yang bebas, politis, dan spiritual, Freddy Mercury yang tertutup, homoseksual, dan berontak, atau Will Smith yang banyak gaya, senang dipuja, dan lurus.

Soal pertumbuhan budaya di Indonesia dalam kaitannya dengan seks yang berhubungan dengan spiritual, juga dikupas di buku ini. Spritual di sini tentu saja bukanlah diartikan sebagai agama, melainkan suatu keindahan dalam bercinta yang diekspresikan lewat alunan spiritual yang sangat kuat dan kental untuk menyebarkan energi positif.

Ada juga tulisannya mengenai poligami. Mariska menuliskan pandangannya mengenai dampak negatif   yang ditimbulkan, baik kepada istri maupun anak, khususnya dilihat dari aspek kejiwaan. Selain itu, dari sisi kesehatan, Mariska mengingatkan bahwa sudah terbukti secara ilmiah orang yang suka berganti-ganti pasangan memiliki resiko yang besar tertular penyakit kelamin dan bahkan HIV dan AIDS.

Cerita tentang korban akibat gonta-ganti pasangan ini bukannya tanpa bukti. Teddy, salah seorang sahabat Mariska adalah salah satu contohnya. Dengan alasan ekonomi dan pendidikan, Teddy terpaksa gonta-ganti pasangan karena tuntutan profesi sebagai gigolo. Berawal dari kisah pertemuan Teddy dengan seorang tante yang memenuhi semua kebutuhannya, Teddy akhirnya terjerumus ke lembah maksiat: menjadi penjaja cinta, melayani tante-tante berduit. Namun pada saat sedang menikmati gelimang kemewahan yang dihasilkan selama ini, Teddy dinyatakan positif HIV. Mariska menulis, dalam kondisi yang syok berat , Teddy mengasingkan diri di sebuah Pulau dekat Bali merenungi nasibnya. Ia tidak bisa lagi dijadikan sebagai hadiah arisan seks tante-tante.

Soal arisan tante-tante, Mariska kemudian menuliskan pengalamannya diundang oleh salah satu kliennya, seorang ibu cantik dan seksi berusia sekitar 47 tahunan untuk menghadiri arisan yang bertajuk “Private Only. Wine Testing. Show bizz” . Arisannya, tulis Mariska, lumayan besar nilainya,. Rp. 10 juta setiap bulannya. Tempatnya di sebuah hotel bintang lima. “Saya pikir akan muncul seorang pakar yang bicara soal bisnis. Show bizz!!! Bizz is business, right?! Eh, nggak tahunya malah muncul seorang pria muda di tengah-tengah lingkaran meja tempat semua para tamu duduk. Ganteng!!! Preppy!!! Pakai jas pula!!! Saya terkejut banget waktu pria itu mulai berdansa. Ngapain, sih?! Saya sempat nanya sama klien saya itu. Dia cuma mesem-mesem aja, tuh!!!”

Sebagai seorang konsultan seks, Mariska tentu punya banyak pengalaman menangani masalah seksual. Salah satu di antaranya adalah pengalamannya menangani kasus anak seorang temannya yang suka masturbasi. Ceritanya, si anak dibawa ke Mariska oleh sang ibu karena tertangkap basah sedang masturbasi. Di dalam buku ini Mariska antara lain menulis bagaimana caranya mengatasi masalah ini secara mendidik dengan tanpa harus mempermalukan si anak. “Baguslah dia bisa mengerti, setelah itu tinggal saya bicara dengan ibunya, yang pastinya lebih panjang dan lebih ruwet lagi. Saya juga mencoba bicara dengan bapaknya supaya bicara “Man to Man” dengan anaknya. Soalnya sama-sama punya penis, kan? Sama-sama pernah bermain dengan penis juga, kan?”

Ada juga tulisan yang mengupas ritual bercinta yang aneh. Ada yang bercinta di kuburan, ada penjaja seks yang sengaja berdandan ala orang mati atau pakai dandanan ala pocong segala. Ini boleh dibilang aneh tapi nyata.

Peristiwa aneh tapi nyata juga dapat dilihat dari tulisan Mariska yang lain, mengenai bencana alam yang ternyata bukan hanya menimbulkan korban jiwa, harta, dan kepedihan yang mendalam, tapi lebih dari itu juga pelecehan seksual dan prostitusi pasca bencana. Di sini Mariska mengangkat hasil riset tentang temuan beberapa kasus pasca tsunami di Aceh, misalnya prostitusi terselubung yang dilegalkan aparat, terutama dalam hal kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Anak perempuan baik di bawah umur atau tidak, khususnya yang memiliki latarbelakang keluarga tidak mampu sepertinya rentan dijadikan korban. Dalam salah satu tulisannya, Mariska mengungkapkan hasil penelitian di sebuah daerah di Indonesia Timur di mana sekelompok anak usia belia yang terpaksa menjadi pekerja seks komersial karena tuntutan ekonomi. Mereka dibuang dan dijual oleh keluarga mereka sendiri karena sudah tidak mampu menghidupi dan membesarkan mereka lagi. “Saya yakin pasti ada rasa marah di dalam hati anak-anak itu. Tetapi pasti juga ada sebagian di antara mereka yang memang merasa tulus dan ikhlas menjalani semuanya. Merasa bahwa telah membantu orang tua dan keluarga walau dengan cara yang tidak biasa,”tulis Mariska. Untuk itulah Mariska mengajak untuk berkaca pada pekerja seks komersial.

Berbicara soal seks, tak bisa dipungkiri kalau ada perbedaan budaya terutama masalah pandangan antara dunia Barat dan dunia Timur. Dunia Barat yang lebih terbuka untuk urusan ini, menganggap bahwa seks adalah sebagai urusan pribadi masing-masing dan merupakan bagian dari hak asasi manusia, sedangkan di Timur, khususnya di Indonesia, seks dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya sangat tertutup. Dalam buku ini Mariska juga mengupas perbandingan pandangan seks antara keduanya.

Dalam tulisannya yang lain, Mariska mengajak untuk memperhatikan pasangan suami istri yang sudah lama menikah, di mana banyak yang menjadi mirip, baik dari wajah, sifat, tingkah laku, serta cara berpikir dengan menyatu dalam persetubuhan.

Menurut Mariska, seringkali kita kalau berpikir soal seks, terjebak dengan pemikiran bahwa seks yang menjadi rahmat dan pemberian Tuhan ini benar-benar harus dinikmati. Masalahnya: menikmati itu bagaimana? Apa kemudian dengan melakukan seks bayaran juga bisa masuk dalam hitungan sebagai sebuah bentuk dari “menikmati”? Apa memiliki banyak pasangan juga termasuk? Apa gonta-ganti pasangan juga? Kiri kanan juga termasuk oke? Depan belakang atas bawah gimana?

Pandangan Mariska selanjutnya adalah bagaimana seks yang sehat dan maupun seks yang tidak sehat dilihat dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda, misalnya dari sisi medis dan biologis, maupun psikologis dsb. Dan untuk bisa mengerti dan memahaminya lebih dalam, menurut Mariska, bukan hanya diperlukan wawasan yang luas, tetapi pemikiran yang lebih mendalam. Ada banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh seks. Makanya, diperlukan hati dan pikiran yang terbuka untuk menerima fakta dan kenyataan yang ada kemudian dipikirkan dan diolah sedemikian rupa agar menjadi sebuah kegiatan seksual yang sehat, lebih berarti, lebih bermakna, dan tentu saja memberikan ketenangan dan kedamaian.

Seks yang merupakan bagian dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki pengaruh yang sangat luas, termasuk terhadap kehidupan sehari-hari. Ini akibat pengaruh berita di media massa. Terkait dengan ini Mariska menuliskan kekhawatirannya mengenai dunia seks dalam berita yang ada, yang kebanyakan berisi tentang hal-hal yang negatif tentang dunia seks dan juga yang menjerumuskan. “Terkadang tidak dipedulikan efek negatifnya. Tak sedikit orang yang akhirnya terjerumus dan bukannya justru tambah yahud, tapi malah tambah hancur!!!”

Selanjutnya Mariska seolah hendak menggelitik pembaca dengan mempertanyakan, apakah pemimpin bangsa kita masih sempat melakukan seks. Selain itu, Mariska juga mencoba menjawab dalam tulisannya mengenai mahasiswa yang kebingungan soal seks. Juga ada yang mengupas perbedaan antara cinta dengan nafsu, selain mengajak bermain cinta dengan logika. Kenapa saya mengajak memainkan permainan ini? “Pastinya banyak yang ingin tahu, dong! Soalnya, semua manusia yang berpikir pasti inginnya mendapat kebenaran dan bahkan sedapat mungkin pasti.”

Seks memang menyenangkan. Luar biasa rasanya. Bisa bikin rileks dan membuat hidup lebih sehat. Dan untuk itulah Mariska kemudian membeberkan alasannya mengapa dirinya jatuh cinta dengan seks. Mariska juga mengajak perempuan untuk tidak takut bicara soal seks.

Seks bagi Mariska adalah sesuatu yang sangat menarik dan sangat luar biasa. Sesuatu yang tidak hanya memberikan sebuah bentuk kenikmatan tetapi memang benar-benar bisa membuat dunia ini jungkir balik tidak karuan. “Ya, hanya karena seks, segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat berubah dalam sekejap dan seketika dari yang tadinya ceria menjadi temaram, begitu juga sebaliknya, dari yang gelap bisa juga menjadi terang,”tulis Mariska.

Pada dasarnya, setiap tulisan yang dibuat oleh Mariska dalam buku ini merupakan bagian dari pencariannya terhadap apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi, yang pada akhirnya berujung kepada tak lain dan tak bukan, yaitu Sang Maha Pencipta. Mariska seolah berjalan mencari Tuhannya lewat salah satu anugerahnya, yaitu seks dengan melalui buku.

Dalam buku ini nantinya, juga ada Kata Pengantar dari Admin Kompasiana Pepih Nugraha dan Widarti Gunawan. Yuk, mari kita tunggu bukunya yang  insya Allah akan diterbitkan oleh Grasindo Gramedia.

Salam

Andy Syoekry Amal/Editor

Posting di Kompasiana.com 22 Februari 2010

Catatan:

  • Tulisan ini adalah Pengantar Editor dalam buku “Menemukan Tuhan Lewat Seks”
  • Bagi di luar Kompasianer yang ingin memberikan komentar silakan

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Buku Mariska Lubis and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s