Perjuangan Mariska Lubis Mendobrak Tabu

CACIAN, makian, umpatan dan sebangsanya adalah makanan sehari-harinya sejak ia mulai menulis di Kompasiana. Kala itu, seingat saya, tak jarang komentar kompasianer yang menudingnya dengan kata-kata yang tak pantas. Meski demikian, ia tetap sabar menghadapinya walau kadang harus menitikkan air mata. Itulah Mariska Lubis.

Mariska Lubis adalah sebuah fenomena. Sejak bergabung di Kompasiana 13 September 2009, mojang priangan kelahiran Bandung, 6 Agustus 1974 ini muncul dengan materi tulisan yang kala itu masih belum dapat diterima oleh banyak orang, yaitu seks. Seingat saya, kala itu belum ada kompasianer yang secara khusus membahas soal seks secara intens. Boleh jadi karena itu sejumlah komentar kompasianer memperingati jebolan Manajemen Keuangan Universitas Trisakti dan International Studies, University of Sydney Australia (jurusan International Studies dengan topik utamanya Politik Asia Tenggara) itu bahwa seks janganlah dibahas di ruang publik, khususnya di “rumah sehat” Kompasiana ini.

Akan tetapi, Mariska tetaplah Mariska. Konsultan seks yang aktif sebagai pembicara untuk seminar dan talkshow serta menjadi pengajar dan konsultan di beberapa perusahaan ini seolah tak gentar. Perempuan yang pernah menjadi duta untuk Harvard Model United Nations di Boston Amerika dan Harvard Project for International Affair di Seoul, Korsel di tahun 1996 ini, malah semakin tertantang. “Ini menjadi tantangan, dan saya akan buktikan bahwa apa yang saya yakini itu adalah benar,” kata Mariska ketika itu.

16 September 2009, Admin Kompasiana Pepih Nugraha menurunkan postingan yang berjudul “Kompasiana Perlu Mariska-Mariska Lainnya”. Dalam postingan tersebut, Kang pepih menulis:
“Terus terang, selaku admin saya agak protektif terhadap hal-hal yang berbau pornografi dan postingan berbau SARA. Soal pornografi, biarlah dia ada di situs atau blog lainnya, tetapi tidak di Kompasiana. Pada masa lalu, ada sebuah situs yang dominan bercerita mengenai kegiatan seks secara vulgar. Bahkan, pengalaman seks tadi malam dengan pasangannya diumbar secara gamblang, di-share kepada pembaca lainnya, yang hanya menggelitik syahwat orang lain. Luar biasa! Mariska yang saya lihat tidak demikian. Dengan kepakarannya, Mariska rela berbagi ilmu dengan Kompasianer yang mungkin membutuhkannya.”

Tulisan Kang pepih ini seolah memacu adrenalin Mariska untuk terus menulis seputar seks. Tentu saja, tulisan seks dalam pengertian yang sehat dan tidak porno. Tulisan yang memberikan pemahaman seks dari berbagai sudut pandang yang berbeda, misalnya dari sisi medis dan biologis, maupun psikologis.

Dalam perjalanan selanjutnya, tulisan-tulisan Mariska ternyata mendapat tempat di hati penggemarnya. Pandangannya terhadap seks seolah membuka cakrawala baru di Kompasiana.Tulisannya tidak hanya selalu diserbu pembaca, tetapi juga ramai dikomentari. Tak ayal, ruang komentar tulisannya menjadi ajang diskusi terbuka yang sehat, meski terkadang masih ada satu dua komentar yang sedikit nyeleneh.

Bagi Mariska, apa yang perjuangkan ini adalah sebuah proses perjalanannya mendobrak tabu. Ia berharap agar seks dapat dipelajari sejak dini sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru. Untuk itulah ia rela mengorbankan waktu dan pikiran, dan menuliskan di blog gratisan termasuk di Kompasiana ini. “Yang penting saya sudah bersyukur jika pemikiran saya bisa diterima orang banyak, dan seks tidak lagi dianggap tabu untuk dibicarakan.”

Perjuangan Mariska untuk itu tidaklah sia-sia. Hanya dalam beberapa bulan, Mariska sebagai blogger sudah mendapat pengakuan. Oleh Penerbit buku Kompas, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Mariska mendapat dijuluki sebagai blogger seks terpopuler di Indonesia. Karena itu pula, Gramedia lantas menawarkan untuk menerbitkan tulisan-tulisannya di Kompasiana melalui buku.

Juni 2010, buku karya perdana Mariska Lubis diterbitkan. Judulnya, “Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar dari Seks, Dong!!” Dalam buku ini, saya mendapat kehormatan sebagai editornya. Peluncuran buku setebal xxi + 136 halaman ini, pun telah dilakukan di Jakarta, Kamis (17/6), dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti KH Sholahuddin Wahid, Letjen Purn. TNI Kiki Syahnakri, Marsekal (Purn) Chappy Hakim, dan Marsekal Muda Prayitno Ramelan (Bapak Blogger Kompasiana). Sekarang, buku sudah beredar dan bisa didapatkan di toko-toko buku, khususnya Gramedia di seluruh tanah air.

Itulah perjuangan Mariska Lubis dalam mendobrak tabu seks. (tulisan ini juga dimuat di Tribunnews.com)

Salam mendobrak tabu,

Andy Syoekry Amal

Posting di Kompasiana.com 18 Juni 2010

18 Juni 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Buku Mariska Lubis and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s