Puasa, Kemerdekaan, dan Kebahagiaan

Illustrasi: dreamstime.com

Berpuasa untuk membersihkan hati dan diri. Merendahkan hati untuk merasakan cinta yang sungguh luar biasa dari-Nya. Memberikan banyak cinta untuk-Nya dan juga untuk semua. Memberikan kemerdekaan untuk diri sendiri dan juga yang lainnya. Bukan hanya untuk diri sendiri karena surga adalah milik semua. Semua berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Mimpi bersama untuk menjadi benar-benar merdeka dan bahagia kita wujudkan bersama. Benar-benarlah berpuasa. Puasa bukanlah hanya sekedar rutinitas ataupun semata-mata kewajiban.

Puasa identik dengan pesta memberikan pahala dan menghapuskan dosa. Berjubel manusia berusaha mendapatkan pahala yang sebesar-besarnya dan berusaha keras untuk menghilangkan dosa yang selama ini telah ”dikumpulkan”. Berlomba manusia memberikan amal dan banyak-banyak beribadah. Bulan puasa memang sangat istimewa, dan begitu istimewanya sehingga hanya bulan puasa saja kita melakukan puasa. Hanya pada bulan puasa saja kita banyak memberikan amal dan banyak beribadah.

Puasa juga identik dengan pesta diskon dan pesta bonus. Banyak sekali sepertinya diskon yang diberikan atas dosa setiap manusia yang menjalaninya. Banyak juga bonus pahala yang diberikan dan bahkan sangat berlipat ganda bagi setiap manusia yang menjalaninya. Apakah ini sebuah ketulusan dalam berpuasa?! Apakah memang manusia hanya mengejar pahala?! Dosa dan pahala semuanya dihitung dengan mudahnya. Meskipun sadar bahwa yang hanya bisa memberikan nilai hanyalah Yang Maha Kuasa.

Mungkin memang benar apa yang dikatakan dalam tuntunan bahwa semua itu memang diperhitungkan, namun bagi saya, semua itu disebutkan untuk menguji diri. Sampai sejauh mana ketulusan yang kita miliki dalam setiap menjalankan Ibadah?! Setiap kali melakukan perbuatan. Setiap kali bertindak dan bertingkah laku. Di dalam sebuah ketulusan, kita hanya memberi tanpa harus pernah berharap atas imbalan apapun. Ibadah bukanlah dagang. Ibadah adalah benar-benar sebuah cinta, ketulusan, dan kerendahan hati.

Terkadang kita sering menipu diri dengan kebaikan. Merasa telah berbuat baik karena tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk uang ataupun materi, namun sesungguhnya tidak selalu demikian. Banyak di antara kita yang masih berharap mendapatkan balas budi dan berbagai timbal balik dalam aneka bentuk rupa dan wajah. Baik itu berupa pujian, rasa hormat, maupun rasa tunduk dan takut. Bila memang demikian, di manakah kebahagiaan dan kemerdekaan yang seharusnya dirasakan oleh yang menerimanya?! Apakah semua itu harus dikembalikan lagi?! Pahala saja masih diminta untuk diberikan oleh-Nya, apalagi balasan yang diberikan oleh manusia, ya?!

Berkata dan berucap tentang kebenaran pun masih diperhitungkan dalam jumlah uang yang diterima. Mengaku telah menyebarkan kebaikan dan merasa telah menjadi sangat mulia. Sayang sekali bila hal ini terus berlanjut. Ternyata untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan atas kebenaran pun harus ”membayar” meski secara tidak langsung. Bila memang semua itu pantas untuk diberikan, ketulusan untuk memberikan kembali pasti ada. Tidak perlu berharap ataupun meminta. Setiap aksi pasti ada reaksi dan setiap reaksi pasti ada aksi.

Menulis pun tidak jauh berbeda. Mengaku dan merasa hanya menulis saja dan memberikan kepada yang lain, tetapi ternyata tidak demikian adanya. Mengaku menulis untuk kepentingan bersama tetapi tidak memiliki arti dan makna untuk bersama selain hanya untuk diri sendiri saja. Sanjungan, pujian, dan kehormatan serta harga diri menjadi tujuan utama. Sadar disadari, tidak disadari. Diakui maupun tidak diakui. Setiap tulisan yang tertulis memiliki maksud dan tujuan. Tidak ada seorang pun yang menulis tanpa memiliki tujuan. Tulisan berupa tulisan dalam artikel, puisi, dan berbagai bentuk tulisan lainnya juga komentar selalu memiliki tujuan. Akuilah dahulu apa tujuan sebenarnya, bila memang merasa memiliki hati. Hanya diri sendiri yang mengetahuinya.

Bila memang ingin memberikan banyak arti dan manfaat bagi yang lainnya, kenapa masih harus ada ego?! Kenapa masih saja menulis untuk kepentingan diri sendiri. Hanya untuk memuaskan hasrat dan nafsu untuk diri sendiri saja. Apakah benar telah memberikan banyak arti dan manfaat bagi yang lainnya?! Benarkah telah membuat yang lain bahagia dan bisa merasakan kemerdekaan?! Apakah benar-benar telah membuat diri bahagia dan menjadi merdeka?!

Kesombongan dan tinggi hati memang bisa membuat kita menjadi lupa akan kejujuran. Merasa ”lebih” dari yang lain memang sangat memberikan kesenangan dan membuat kita semakin hanyut dan larut. Lupa bahwa merendahkan hati dan terus belajar adalah sebenarnya yang kita butuhkan agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Hidup bukanlah hidup dan jalan pun pun bukanlah melangkah maju ke depan bisa semua ini masih ada. Semua itu hanyalah semu dan tipuan semata. Bila menggali lubang, bersiaplah untuk juga terperosok serta masuk ke dalamnya. Terimalah semuanya dengan ketulusan dan keikhlasan dan penuh tanggung jawab. Akuilah agar bisa keluar meski harus merangkak. Harapan selalu ada.

Yang lebih anehnya lagi, di dalam berpuasa masih ada juga yang menuntut untuk dihormati dan dihargai tanpa mau menghormati dan menghargai yang lainnya. Menuntut untuk tidak diganggu dan tidak digoda dengan melarang yang lainnya melakukan perbuatan yang dianggap menggoda dan mengganggu. Bukankah itu sama saja dengan telah menjajah dan membuat yang lain tidak memiliki kemerdekaan?! Bukankah itu sama saja dengan membuat orang lain menjadi susah dan tidak bahagia?! Lalu apa makna dari menahan nafsu di bulan puasa?! Bukankah kita yang menjalaninya yang harus bisa menahannya?! Godaan dan gangguan itulah justru ujiannya. Bila memang tidak boleh ada godaan dan gangguan, untuk apa kita diminta oleh-Nya berpuasa?! Hormati dan hargailah yang lainnya terlebih dahulu bila memang ingin dihormati dan dihargai.

Tidak heranlah bila memang demikian adanya bila puasa juga indentik dengan pesta belanja. Belanja segala macam kebutuhan dengan alasan untuk merayakannya. Apa yang sebenarnya dirayakan menjadi tidak jelas. Perayaan atas datangnya bulan penuh diskon dan bonus?! Perayaan atas banyaknya pahala dan pengurangan dosa?! Perayaan karena telah mendapatkan kehormatan dan penghargaan?! Perayaan telah bisa merdeka dan memberikan kemerdekaan?! Siapa yang berpuasa dan apa puasa?! Siapa yang merdeka dan apa kemerdekaan?! Di manakah sebenarnya surga itu berada?!

Saya tidak kemudian anti dan melarang semuanya agar kemudian sesuai dengan apa yang saya pikirkan ini. Semua adalah pilihan dan saya tidak memiliki hak dengan membelenggu kemerdekaan yang lainnya. Saya ingin semua merasakan kebahagiaan yang senantiasa dan bukan hanya sesaat. Bagi saya, puasa bukan hanya sekedar untuk menahan lapar, haus, dahaga dan juga nafsu. Bagi saya berpuasa adalah benar-benar untuk bisa belajar lebih mengenal apa dan siapa diri kita yang sebenarnya. Hanya dengan cara itulah, menurut saya, semua manusia bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Mendapatkan kebahagiaan yang selalu dicari dan dimimpikan.

Di dalam cinta, memberikan jauh lebih indah bila tanpa harus meminta dan mengharapkan. Berusaha untuk memberikan selalu yang terbaik agar surga itu benar milik semua sudah merupakan imbalan yang jauh lebih berarti dari apapun juga. Dia sudah memberikan segala yang terbaik, dan hanya dengan memberikan segala yang terbaik jugalah adalah syukur, hormat, dan penghargaan untuk-Nya.

Semoga kita semua bisa benar-benar berpuasa. Kemerdekaan itu ada di dalam ketulusan di dalam cinta yang sesungguhnya.

Semoga bermanfaat,

Mariska Lubis

10 Agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s