Sindrom Mariska

“Saya bukan pencuri, apalagi pembobol ATM Bank.”

“Jelas-jelas tadi kamu sedang beraksi di ATM pakai kartu palsu.”

“Tidak, saya tidak mencuri. Saya….”

“Cukup, berhenti untuk menyanggah. Aduh, sakit. Kamu mencekik saya.”

“Maaf. Saya tidak mencekik. Amarah mu lah yang mencekik dirimu sendiri.”

“Aduhhhhh. Kamu ini jahat. Pencuri. Teroris. Sudah jelas kamu mendekap saya dan mencekik leher saya tapi kamu masih saja membantah.”

“Maaf. Saya melakukan ini sangat terpaksa. Tapi saya tidak mencekik. Saya tidak mau amarah pasukan di luar menarik pelatuk alat kekerasan di genggaman mereka. Hanya dengan menjadikan  kamu sandera saya bisa menghentikan kesalahan mereka.”

“Kamu jahat. Tapi sok suci. Jelas sekali aku melihat kamu sedang membobol ATM, dan aparat di luar juga sudah mengintaimu tapi kamu masih tetap membantah.”

“Sekali lagi, maafkan saya. Saya bukan takut ditangkap. Saya melakukan ini hanya untuk menyelamatkan apa yang mesti saya selamatkan. Setelah saya menyerahkan ini padamu saya akan menyerahkan diri.”

“Demi Tuhan, saya tidak sudi menerima uang hasil rampokanmu. Haram, najis. Koruptor saja muak saya lihat apalagi pencuri yang menyandera macam kamu. Tidak. Cepat lepaskan saya. Serahkan dirimu pada aparat sebelum Tuhan menghukum kamu.”

“Saya mohon, dengarkan saya. Saya tidak memberi uang karena saya memang tidak punya uang. Saya hanya mau menitipkan kartu ini.”

“Tidak. Sekali pun saya mati di tangan kamu saya tidak mau menyakiti hati orang lain dengan ulah pembobolan ATM Bank, sekalipun itu uang para koruptor yang disimpan di bank. Saya bukan koruptor, saya bukan pencuri dan karena itu saya juga tidak sudi mencuri dengan kartu maling kamu itu.”

“Aku tahu kamu orang baik. Saya bisa merasakan kebajikan di balik amarah kamu. Tolong, rendahkan suaramu dan beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Jika kemudian menurutmu penjelasan ku tidak berguna maka aku akan membebaskan mu untuk kemudian menyerahkan diriku. Aku juga tidak mau mereka sampai menggunakan kekerasan untuk menangkapku. Aku bisa mati, kapan saja tapi kartu ini harus digunakan. Ini kartu yang sangat penting bagi bangsa ini.”

***

Di luar polisi anti teror terus mempersiapkan diri dan hanya perlu menunggu perintah untuk membebaskan sandera. Orang-orang yang tadinya tampak kacau kini sudah berada di luar garis polisi. Mereka menanti dengan penuh debar aksi pembebasan sandra perempuan yang sedang disekap oleh lelaki yang tadinya diduga sedang melakukan aksi pembobolan ATM Bank di Rumah ATM bersama.

Perempuan yang tadinya sangat marah dan berusaha untuk melawan akhirnya terpikir untuk mencari cara lain agar bisa lolos. Saat itu pula aliran kebajikan menggantikan peran amarah dalam hatinya. Dan, mulai berpikir tidak ada gunakan melawan penjahat. Bisa-bisa perlawanan justru menimbulkan tindakan nekat yang bisa berakhir fatal. Lagi pula apa hak saya menuduh dia sebagai penjahat? Dan, tidak semua yang saya lihat adalah benar adanya.

Saat ia membiarkan aliran kebajikan itu pula sebuah rasa aneh menyergap pikiran dan perasaannya apalagi saat ia mencoba menyelami mata lelaki di wajah yang kelihatan lumayan tampan. Tidak ada tanda-tanda kalau lelaki yang sedang mendekapnya adalah penjahat. Dan, benar sekali kalau dirinya tidak sedang dicekik. Sekarang, kala amarah berlalu justru ia merasakan ada kelembutan pada tangan lelaki yang kini sedang sibuk melihat ke arah aparat yang terus merapat. “Mungkin saja dia bukan lelaki jahat. Jangan-jangan dia hanya orang suruhan saja” bisik suara yang hadir di hati perempuan yang masih kelihatan cantik walau sedikit agak berisi.

***

“Bang. Sekarang katakan apa yang tadi hendak abang katakan. Saya akan mendengar walau saya tidak yakin apakah hati saya bisa mendengar dengan baik.”

“Terimakasih. Saya yakin kamu orang baik. Hati saya…..”

“Sudahlah bang, jangan suka membuktikan. Katakan saja apa yang mau abang katakan.”

“Ini kartu “Sindrom Mariska. Kartu ini….”

“Cukup. Hentikan….Saya ini Mariska. Jangan coba-coba bawa nama saya. Atau, jangan-jangan abang sudah mengikuti dan merencanakan semua ini.”

“Tunggu dulu. Saya tidak tahu siapa kamu walau dari sejak awal saya memiliki perasaan aneh dengan dirimu. Saya memang merasa dekat dengan tubuhmu, wajahmu, dan bau mu. Tapi saya anggap itu hanya perasaan saya. Jadi saya tidak mengenalmu secara fisik dan sama sekali kartu ini saya buat bukan karena saya sudah tahu namamu.”

Mariska yang tadinya sempat marah kembali menenangkan dirinya karena tiba-tiba teringat pengalaman batin yang dialaminya selama ini. Ia merasa memiliki beberapa perasaan yang sama dengan lelaki yang dekapannya mulai mempengaruhi hawa hatinya. “Jangan-jangan ini wajah yang selama ini juga saya lihat dalam mimpi saya” bisik hati Mariska.

“Apa maksudmu dengan perasaan aneh?” Sebuah pertanyaan yang justru membuat jantungnya berdebar menunggu jawaban. Jangan-jangan apa yang selama ini hadir dalam mimpi dan tanda-tanda alam yang melingkupi dirinya terbukti nyata.

“Begini, sebelum saya katakan tentang perasaan aneh, saya ingin kamu pegang dulu kartu “Sindrom Mariska” ini. Ini kartu yang tadinya hendak saya gesek di semua lubang ATM ini. Saya mau, jika nanti saya ditangkap kamu harus meneruskan tugas saya.”

“Memangnya ini kartu apa?”

“Ini kartu yang mengandung energi listrik plus emosi bermuatan Virus Mariska (VM) yang melalui sinar infra merah akan ditransfer ke sidik jari setiap pemegang kartu ATM. Melalui magnik yang terdapat di kartu ATM VM akan masuk ke dalam ibu jari dan dari situlah berawal penularan hingga mencapai pusat-pusat saraf utama di bagian otak kepala, otak hati, dan otak selangkangan. “

“Virus….Otak selangkangan. Kamu gila??!!”

“Ssssst…Kamu dengar saja dulu. Jika benar takdir yang saya yakini maka saya akan punya kesempatan untuk menjelaskan semua ucapan saya yang menurut kamu tidak masuk akal dan gila ini. Tapi saya yakin dengan takdir saya. Yakin sekali.”

Mariska yang tadinya sudah tidak mau mendengar tanpa sadar justru mempersilahkan lelaki yang belum sempat ditanyai nama.

“Katakan saja apa maumu. Termasuk takdirmu itu.” Ini sungguh ucapan yang mengalir dari hati terdalam Mariska dan setiap kali kata takdir terdengar maka setiap itu pula ia seperti sedang berhadapan dengan suara hati yang selama ini terus tersimpan di lubuk hati.

“Ini virus yang bisa memulihkan orang banyak dari krisis hati yang saat ini sedang melanda bangsa ini. Dengan virus ini rasa cinta, kasih, dan sayang akan kembali hadir dalam hati banyak orang. Sungguh jika hati mereka kembali dihiasi dengan cinta, kasih, dan sayang maka akan segera terjadi perubahan mindset yang akhirnya dapat mengubah perilaku dan keadaan. Dengan hati yang memiliki pintu cinta dan jendela kasih dan sayang maka agama, undang-undang, dan etika akan kembali dapat memainkan perannya sebagai sebuah cara pandang, pedoman, pegangan, dan aturan.”

“Lantas, mengapa pakai nama mariska? Itu kan nama saya?”

“Ini nama yang saya dapatkan lewat buku takdir saya. Dan, hanya takdir pula yang bisa menjelaskan kenapa hari ini saya bertemu kamu, yang juga memiliki nama Mariska. Tapi sungguh, kamu sudah lama saya kenali dalam alam imaji spiritual saya.”

“Apa…apa…apa…abang mau katakan tentang Jodoh Jiwa?” Mariska yang sedari tadi terdiam dan bagai diri yang sedang membaca buku batinnya tiba-tiba menjadi diri yang gugup karena sedang berada pada satu peristiwa diluar jangkauan pikiran sadar.

“Kamu benar, itu juga yang terbaca dalam buku takdir saya.”

“Abang…abang tidak boleh ditangkap. Tidak boleh.”

“Jangan kuatir. Meski saya ditangkap jiwa saya bebas. Selama tiga hari ini saya akan pergi untuk melakukan apa yang mesti saya lakukan. Percayalah, saya akan kembali kalau memang takdir diri saya benar adanya. Dan, ku harap kau mau meneruskan tugas yang tertunda ini. Gesekkan kartu ini ke semua mesin ATM dan biarkan ia menyebar,menjangkiti, dan meluas ke tubuh dan jiwa khususnya jiwa penguasa. Negeri ini tidak boleh terlalu lama mengalami krisis hati karena bisa berakibat fatal akibat huru-hara yang muncul terus menerus. Jadi tolong terus lakukan penyebaran virus cinta dan biarkan sindrom mariska berkerja dengan cepat.”

“Abang….”

***

Tidak ada satu pun peluru tumpah dan usai sudah amarah yang menyergap hati Mariska. Meski sedih karena harus terpisah tapi hatinya telah mengikrar janji untuk terus menebar cinta, kasih, dan sayang untuk semua, dan juga untuk si abang yang sudah diketahui namanya lewat bisikan matahari yang mulai menurun menjemput senja tiba.

Sekian

mariskamariska

Kisah ini bisa bersambung dan bisa juga tidak, dan bila bersambung maka judulnya mungkin saja “Bedah Buku Tubuh Mariska.”

Oleh: Rismanaceh

Diposting Kompasiana.com 29 Januari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Mariska Lubis and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s