Tiran dan Titanic (Catatan untuk Sahabat Mariska Lubis)


COBA terka kira-kira, apa yang akan dikatakan seorang Tiran, ketika hendak melakukan hubungan suami-isteri? Mungkin ada banyak jawaban, tapi seorang Tiran akan mengatakan kepada isterinya sebagai fore-play: “Push-up ten times, seat-up twenty times, and then take a rest! When my turn come, your right to shut-up!” Anda mencari jawaban lainnya. Atau, lebih baik bermenung, jangan-jangan, bahkan dalam kata-kata manis kita kepada pasangan, atau orang lain, unsur-unsur mutlak tiran itu dominan.

Filsuf Rene Descartes (baca: dekart, hidup 1596-1650) adalah salah seorang filsuf yang ingin bicara pada tingkat lebih maju nan sederhana, tentang peran ‘jiwa’ dan ‘badan/tubuh’ dalam diri manusia. Filsuf ‘kurang kerjaan’ ini mengatakan, ‘tubuh dan jiwa’ berhubungan seperti sebuah perahu dengan nakhoda kapal. Jika tubuh adalah perahu/kapal, maka jiwa adalah ‘kapten kapal’-nya. Jiwalah yang (mestinya) mengarahkan kapal ke mana perginya.

Pada waktu Descartes hidup, musibah kapal Titanic (1912) belum terjadi. Jika tidak, Descartes akan mengambil beberapa analogi lain tentang Titanic, dan dua makhluk yang terjebak romantika cinta (diperankan Leonardo Dicaprio dan Kate); atau, pembuat kapal William Pirie yang ‘dimabok’ narcsisme atas hasil arsitekturnya itu, dan seterusnya. Pelbagai analogi lain di situ, bisa dikembangkan, tapi Descartes mengingatkan, sederhana, amat sederhana: “badan ‘dikemudikan’ oleh jiwa”, atau “badan ‘disopiri’ oleh jiwa”. Bagi saudara kaum Muslim yang baru mengakhiri masa Puasa, pengalaman ‘kapal dan nakhoda kapal’ menjadi pengalaman nyata dan dalam, ketika haus-lapar dan tuntutan tubuh yang lain minta dikendalikan oleh nakhoda rohaniah.

Dalam tahapan relasi manusia yang matang-dewasa-nan-terarah, Martin Buber, filsuf berdarah Jerman-Yahudi, bicara tentang “beralihnya hubungan orientasi seksual menuju tingkat orientasi manusiawi-personalistis (pribadi, ya badan dan jiwa). Seksualitas, akhirnya suka tidak suka, bermakna penting bagi manusia sebagai manusia. Kelebihan manusia adalah berada sebagai manusia, berbadan, berjiwa, ya ber-roh. Inilah kelebihan berada sebagai manusia. Beda dengan dewa, malaikat atau bahkan Yang Ilahi. Tapi, kalau berhenti di situ, tubuh dan seksualitas sebagai “perahu”/”kapal” dapat tersesat atau karam, bila tak terkendali.

Makna ‘personalitas’, kepribadian, mengandaikan badan jiwa manusia, hadir secara utuh-bersama kepada sesamanya. Apalagi waktu pacaran dan ditingkatkan menjadi suami-isteri? Badan tanpa jiwa, bermakna ‘jenazah’, ‘mayat’, ‘onggokan tubuh’, tak beda dengan ‘bangkai’ (untuk hewan). Kepribadian yang dewasa dan matang, melibatkan seluruhnya, ya badan, ya jiwa, ya roh, untuk berdiri di hadapan sesamanya, ya pacarnya, ya isterinya, yang memiliki eksistensi, ya cara berada sebagai manusia. Kata bagus-berbobot yaitu “SESAMA”. Seorang Tiran, tidak mengenal sesama. Tiran senantiasa “uber alles” (super di atas yang lain). “Hanya aku penguasa tunggal: kamu yang lain, ABK, ya anak buah kapal. Hanya ikut arah telunjuk jariku!”

Ada yang salah kaprah, dan terjebak ‘ego’ sendiri ketika membaca tulisan Mariska Lubis (ML). Mereka terjebak, beranggapan Mariska Lubis sengaja menjadi Nakhoda Tiran dalam “kapten kapal” (Titanic) untuk mengkaramkan cara pandang (ideologi), cara menghayati (implementasi iman), dan akhirnya, “menabrakkan kapal” mereka di karang-es. Mencelakakan!?!? Kayaknya, sih, salah kaprah! Sebagai sebuah laporan sosial yang relatif ilmiah nan populer, disajikanlah sajian yang memang menjadi doyanan pembaca. Tetapi, kalau pembaca terjebak di situ, sebenarnyalah “Ideologi Seksualitas” manusia di bawah pengaruh ‘taboo’, ‘tak suci’, ‘menyesatkan’, sebagai hasil ’salah-asuhan’ muncul.

Bila cukup dewasa, tulisan-tulisan Mariska, dapat mengubah “ideologi seksual” sebagai relasi personalitas, yang penjelasannya lebih sedikit waktu lagi. Tapi, kita berkesempatan untuk terus mendalamnya. Dan, siapa tahu, berikut Mbak Mariska sedikit mengarahkan ‘haluan” ke WLAYAH AMAN: ya aman untuk badan, ya aman untuk jiwa; aman untuk kapal, aman untuk kapten kapalnya. Kita semua, pembaca, penulis, dari tempat kita, kita dapat menjadi ‘tiran’.

Umumnya, pria mudah menjadi tiran karena senantiasa ‘inferior’ terhadap wanita. Karena, jangan-jangan kita semua (pria) berbakat jadi ‘tiran’ dalam hubungan seksualitas suami-isteri, dan tidak sedikit isteri membiarkan diri menjadi korban, inferioritas terhadap ‘ke-minder-an kekal pria’. Orang terakhir berdiri sebagai yang kalah, katanya.

Bahkan, ketika ‘badai Mariska’ menerpa hebat, sebagai akibat misinterpretasi dan fatamorgana, di samudra arungan kita, masing-masing orang memang menjadi nakhoda atas kapalnya. Anda tidak dapat meminta orang dari daratan, atau para dewa untuk menakhodai kapalmu. Meskipun peran Yang Ilahi penting (dalam doa-shalat), peran serta sebagai manusia dewasa meminta partisipasi. Yang Ilahi berkomunikasi dengan Roh kita, tapi dari (hampir) semua keyakinan badan tetap ’suatu’ otonom. Sifat paradoksal dalam tubuh manusia: jiwa, badan dan roh.

Kalau jujur saya katakan, dengan ulasan-ulasannya Mbak Mariska menyiapkan savety-boat untuk para nakhoda yang ugal-ugalan mengarahkan kapalnya. Ketika, kapal karam, jangan tunjukan telunjuk ke wajah orang lain. Apalagi minta undang-undang pengaman ‘perahu’, dan bukannya menghentikan watak ugal-ugalan? Seorang Tiran tidak butuh Undang-undang. Nafsunya adalah Undang-undang, katanya.

Akhirnya, kalau ditanya lagi “Apa peran lain tulisan Mariska di samudera Blog Kompasiana?” Itu mercusuar di samudera lautan ketujuh! Ya, mercusuar. Pengingat setiap kapal yang lewat. Termasuk Titanic, mestinya. Dan, nasib setiap nakhoda ugal-ugalan atau Tiran yang tak patuh? Mereka suka menabrakkan kapalnya! Suicide! Bunuh diri. Dan, apa jawabnya ketika datang savety-boat ala Mariska menjemput? “Angkat bangkaiku!!!”

Oleh: Berthy B Rahawarin

(posting di kompasiana.com tanggal 25 September 2009)

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Mariska Lubis and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s