Anak-anak Daerah Tertinggal Itu Pun Membuat Buku Sendiri!!!

Anak-anak adalah kehidupan di masa mendatang. Mereka berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik yang tentunya merupakan kewajiban bagi kita sekarang ini. Mereka sudah sepatutnya mendapatkan semua yang terbaik yang bisa kita berikan. Dalam hal ini, bukanlah hal seputar materi dan fisik semata. Meski dibutuhkan tetapi bukan itu sebenarnya yang bisa menjadikan mereka menjadi lebih baik. Pendidikan dan ilmu adalah yang mereka butuhkan. Sesuatu yang sekarang mungkin belum tampak hasilnya dan seperti tidak realistis karena sangat tidak nyata, tetapi semua ini bisa menjadi bekal yang berarti dan bermanfaat sepanjang masa.

Sebuah kampung tertinggal di ujung teluk Jakarta dan penghujung kota Tangerang, Teluk Naga, kondisinya sangat memprihatinkan. Untuk menuju ke sana, perjalanan yang ditempuh dari pusat kota Jakarta memakan waktu sekitar tiga jam. Melewati jalan yang masih tidak layak tanpa aspal. Melintasi pemandangan sawah dan sungai di mana masih banyak yang mandi, mencuci baju, menyikat gigi, dan buang air di sana. Melampaui rumah-rumah berpagar bambu dengan kuburan di depan rumah dan pekarangan serta hewan ternak yang berkeliaran di mana-mana. Sungguh sebuah tempat yang bisa dikatakan jauh dari kata layak, bersih, dan sehat untuk dijadikan tempat pemukiman warga.

Di sana terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri 01 yang diasuh oleh Yayasan Pelita Hati. Di sana juga menjadi tempat anak-anak yang merupakan warga sekitar menuntut ilmu. Meski fasilitas yang mereka miliki bisa dikatakan sangat minim, namun di sekolah ini, ada banyak sekali kehidupan di masa mendatang yang merupakan tumpuan harapan bangsa dan negara.

Adalah sekelompok anak-anak muda yang juga memiliki kreatifitas tinggi bernama SPASI memiliki gagasan untuk memberikan sesuatu kepada anak-anak. Mereka yang bertemu, berteman, dan bersahabat di Kompasiana ini ingin membantu agar anak-anak Indonesia bisa menjadi sangat kreatif dan benar-benar menjadi diri sendiri. Mereka tidak perlu menjadi anak-anak yang memiliki banyak uang, pakaian yang bagus, makanan yang berlimpah, ataupun juga buku-buku yang hanya sekedar dibaca. Mereka benar-benar ingin anak-anak ini memiliki bekal yang bisa memiliki arti dan manfaat tanpa ada batas waktu.

Gitaditya, DeeDee, Pungky, Sabrina, Fikri, Adityo, Reka, Gibb, Andi Gunawan, Putra, Endra, Meiliani yang mendapat asuhan dari paman mereka, petani Cijapun Syam (Mays) , menjelaskan kepada saya semua rencana mereka. Saya pun setuju untuk bergabung dan mewujudkan apa yang mereka inginkan. karena sesuai sekali dengan program yang telah saya buat dan juga jalankan. Datang dari berbagai tempat berbeda, Pekalongan, Yogya, Medan, Jakarta, dan Bandung, kami semua berkumpul pada tanggal 31 Juli yang lalu dan pergi dengan satu tujuan, memberikan sesuatu yang benar-benar berarti dan bermanfaat

Di sana kami bernyanyi, berolahraga sambil bermain dengan 20 anak-anak yang hebat. Pada kesempatan itu, saya mengisi acara dengan memberikan materi pelajaran menulis kepada mereka. Sebagai dasar dan landasan awal, mereka diarahkan untuk memiliki alur dan pola pikir yang memudahkan mereka untuk berimajinasi dan mewujudkan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Dua buah buku pertama hasil karya mereka sendiri pun berhasil dibuat dengan sangat cepat. Bahkan bagi para panitia yang mengikuti pelajaran, yang sudah terbiasa menulis, justru yang lebih kewalahan. Sungguh membuat mereka bangga dan tentunya lagi lebih membanggakan bagi kami semua yang melihat dan menyaksikannya.

Meski dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, dan juga keterbatasan sarana dan prasarana yang kami berikan, namun tidak menghalangi mereka untuk bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Di buku pertama, mereka bisa menuliskan cerita tentang impian petualangan mereka. Ada yang ingin main di sawah, ada yang ingin membuat dan bermain layang-layang, ada yang ingin pergi ke kebun buah dan memasak, dan masih banyak lagi. Dengan berbagai kejadian lucu dan menarik perhatian tentunya. Mereka memang saya ajak untuk bisa menjadi ”liar” dalam berimajinasi. Bahkan membuat mereka sendiri tertawa-tawa dan itu semua sungguh sangat menyenangkan.

Kami sangat terharu sekali ketika ada seorang anak perempuan yang bercita-cita menjadi seorang pelukis terkenal. Dia menceritakan apa yang diinginkannya dan apa alasannya ingin menjadi seorang pelukis. Yang lebih hebatnya lagi adalah menceritakan usaha apa yang harus ditempuhnya untuk mewujudkan semua itu berikut janji dan komitmen yang dituliskannya sendiri. Luar biasa!!!

Tidak ada yang kami lakukan selain hanya memandu mereka saja untuk mengerjakannya sendiri. Untuk urusan teknis seperti memotong dan menjepit kertas saja yang kami lakukan. Menulis, bercerita, dan menggambar ilustrasinya semua dilakukan oleh masing-masing anak. Setiap anak menghasilkan karya yang berbeda, sesuai dengan diri mereka masing-masing. Ini tentunya sebuah bukti bahwa mereka semua memang bisa.

Ini juga membuktikan bahwa yang namanya lingkungan, situasi, dan kondisi sebenarnya bukanlah halangan bagi seseorang untuk bisa menghasilkan sesuatu yang berarti dan bermanfaat. Di mana ada usaha pasti ada jalan. Di mana juga ada kesempatan, di sana juga semua bisa dimanfaatkan.

Pemberian dalam bentuk materi dan fisik memang sangat berarti, tetapi mungkin hanya untuk saat itu saja bila tidak dimanfaakan secara maksimal. Menurut saya, pribadi, pemberian buku bacaan tanpa memandu mereka bagaimana cara membaca yang baik dan benar serta pengetahuan untuk mengartikan setiap kata yang tertulis di dalam buku bacaan itu akan menjadi sekedar membaca. Sementara pemberian bekal yang memang membantu mereka untuk mengolah pikiran, mengasah rasa dan hati, serta membuat mereka memiliki kemampuan untuk melihat berbagai sisi pandang yang berbeda tidak akan pernah lekang oleh waktu. Mereka tidak perlu menjadi yang lain, yang lebih berkecukupan atau memiliki semua yang layak. untuk bisa berkarya Mereka juga tidak perlu harus bersaing secara tidak sehat dan mengidolakan yang lain untuk menjadi luar biasa. Cukup dengan menjadi diri mereka sendiri, mereka bisa menggapai mimpi.

Di sisi lain, ini juga merupakan sebuah pembelajaran bagi para panitia yang turut berpartisipasi, di mana kita tidak boleh meremehkan kepolosan dan ketulusan. Uang yang banyak dan pendidikan yang tinggi serta pengalaman yang banyak tidak menjamin seseorang bisa lebih baik dari yang lainnya. Bila kita sebagai seorang manusia selalu merasa dituntut untuk selalu menghasilkan sesuatu yang mendapatkan :”nilai” di mata manusia yang lainnya, kreatifitas itu bisa berhenti. Kita yang sudah terbiasa menulis pun menjadi terbatas dalam mengungkapkan dan menguraikan imajinasi dan rasa yang ada di dalam kepala dan hati kita. Kepala dan hati yang bersih akan membuat semuanya menjadi lebih mudah dan membuatnya mengalir. Memberikan lebih banyak arti dan manfaat untuk diri sendiri dan juga yang lainnya.

Kami akan mengunjungi tempat mereka beberapa kali dan akan terus memberikan materi-materi yang lebih mendalam agar imajinasi dan kreatifitas mereka semakin berkembang. Buku-buku pertama hasil karya mereka ini untuk sementara disimpan di perpustakaan sekolah agar bisa dibaca oleh yang lainnya, hingga pada saatnya nanti hasil karya mereka akan dibukukukan dan menjadi prestasi tersendiri bagi mereka. Seperti juga yang diungkapkan oleh anak-anak itu, bahwa ternyata menulis dan membuat buku sangat mudah. Malah ada yang berjanji akan membuat 20 buku lagi sebelum kami berkunjung kembali. Hebat, ya!!! Selain itu, tentunya diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia yang lainnya bahwa semua bisa dilakukan. Mereka bisa hidup di bawah garis standard kemiskinan tetapi mereka tidak perlu menjual kemiskinan untuk bisa menjadi lebih baik. Untuk menjadi lebih baik dan memiliki kehidupan yang lebih baik bisa melakukannya sendiri. Kekurangan dan keterbatasan bukanlah sebuah hambatan karena emas yang paling berkilau itu adalah diri sendiri.

Doc. Pungky

Spasi, saya bangga dan salut kepada kalian semua. Teruslah bermimpi dan teruslah menjadi diri kalian sendiri. Teruslah belajar dan teruslah berkarya. Teruslah berbagi dan memberikan banyak arti dan manfaat bagi semua!!! Saya ingin kalian terus meneruskan perjuangan ini dan jangan pernah berhenti!!! Hormat saya untuk kalian semua!!!

Anak-anak SDN 01 Teluk Naga, COCONUT!!! Aku aku aku!!! Kalian sungguh luar biasa!!!

Terima kasih kepada semua yang telah memberikan saya kesempatan untuk turut berpartisipasi. Terima kasih kepada Yayasan Pelita Hati dan SDN 01 yang telah memberikan kami semua kesempatan. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini, yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Terima kasih.

Salam,

Mariska Lubis

Reportase lainnya yang harus dikunjungi:

Teluk Naga, 31 Juli 2010

Belajar Menulis dengan Spasi Owawewow (Dokumentasi Acara Spasi di Teluknaga, 31 juli 2010)

Mencatat Mimpi

3 Agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Seni Menulis and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Anak-anak Daerah Tertinggal Itu Pun Membuat Buku Sendiri!!!

  1. ej-Community says:

    Kami kutip sedikit :
    “Mereka bisa hidup di bawah garis standard kemiskinan tetapi mereka tidak perlu menjual kemiskinan untuk bisa menjadi lebih baik”

    Sungguh luar biasa ya…Tetap semangat buat Spasi dan mbak ML
    Moga tulisannya menginspirasi banyak orang untuk melakukan gerakan sosial u/ kemanusiaan😀

    Jadi terharu…😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s