Kenapa Nggak Kawin-Kawin, Sih?!

Jumlah wanita di dunia ini, tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pria. Kebanyakan dijadikan alasan untuk poligami, tetapi tidak sedikit juga yang justru malah memilih untuk tidak menikah. Bukan menghimbau untuk kemudian tidak menikah tetapi justru saya ingin memberikan contoh bahwa bagaimanapun juga menikah adalah hal yang sangat positif dan sangat dianjurkan.

Dari sisi medis, menikah membuat organ seksual dan hormon bisa terga kesehatan dan kestabilannya. Terutama bagi mereka yang melakukan hubungan seksual yang sehat dengan frekuensi yang sangat dianjurkan, yaitu tiga kali seminggu. Dari sisi psikologis, paling tidak rasa kesepian itu tidak hinggap dan terus-terusan menyesakkan dada!

Saya melakukan wawancara terhadap beberapa orang pria yang sampai sekarang, bahkan di usia senja sekalipun masih belum menikah. Saya ingin membeberkan apa alasan mereka dan apa efeknya bagi mereka agar bisa dijadikan hikmah bagi mereka yang sudah memiliki pemikiran ke arah sana bisa berpikir sekali lagi. Bagi mereka yang ingin menikah tetapi belum bertemu dengan pasangan hidupnya bisa terus berusaha. Dan bagi mereka yang sudah menikah atau akan menikah bisa merasa bersyukur.

Dudi, 49 tahun

“Saya sebetulnya ingin sekali menikah, sayangnya waktu itu saya tidak berani memberontak sehingga sekarang dia menikah dengan pria lain.”

Dudi pernah berpacaran dengan seorang wanita bernama Cynthia tetapi hubungan mereka ditentang keras oleh orang tua Dudi dengan alasan perbedaan suku dan agama. Bahkan ketika Cynthia hamil pun, pernikahan mereka tetap dilarang, sampai akhirnya Cynthia hijrah ke Malaysia dan melahirkan anaknya di sana. Berhubung Dudi tidak kunjung datang, Cynthia kemudian memutuskan untuk menikah dengan seorang pria asal Eropa dan pindah ke negara asal suaminya. Dudi sebenarnya mencari tetapi dia mengakui kalau saat itu dia sangat putus asa sehingga tidak berusaha cukup keras untuk menemui Cynthia. Setelah anaknya berumur delapan tahun, dia baru bisa menemui Cynthia dan anaknya.

“Saya sangat menyesal dan merasa sangat tidak layak untuk menjadi seorang suami. Karena itulah akhirnya saya memutuskan untuk tidak pernah menikah dengan siapapun juga, kecuali Cynthia. Saya akan menunggunya sampai kapan pun juga.”

Soal seks, Dudi merasa tidak ada masalah karena walaupun memutuskan untuk tidak menikah, tidak berarti dia tidak berpacaran dan memiliki pelampiasan. Ada banyak wanita yang hinggap tetapi semuanya angin lalu saja. Seks tetap berjalan, tetapi tidak bisa dibilang karena perasaan cinta. Mungkin rasa sayang ada, tetapi the truth, lebih karena nafsu saja, menurut pengakuannya.

Satu hal yang pasti, ” Saya selalu merasa ada bagian dari diri saya yang hilang, dan rasa penyesalan itu tidak pernah hilang dan benar-benar menjadi beban yang sangat berat, sampai sekarang. Saya tidak tahu bagaimana cara menghapuskannya sepertinya akan terus ada sampai selamanya.”

Brahmantyo, 42 tahun

“Saya belum bisa menemukan wanita yang sesuai dengan keinginan saya.”

Sebagai seorang pria mapan, berwajah menarik walaupun sedikit montok, pintar dan supel, seharusnya tidak sulit bagi Tyo, panggilan akrab Brahmantyo, untuk mendapatkan pasangan. Apalagi ditambah kepiawaiannya bermain piano. Bisa dipastikan ada segudang wanita yang berebut untuk bisa menjadi tambatan hatinya.

“Memang banyak wanita yang cantik, pintar, dan ada juga yang baik hati, tetapi saya selalu  merasa bahwa mereka tidak tulus mencintai saya. Saya merasa ada embel-embel di balik semua itu. Mereka seperti hanya melihat dari luar saja, tetapi tidak mau masuk lebih dalam lagi. Bisa dibilang, bagi saya, kebanyakan dari mereka hanya ingin hidup enak dengan pundi-pundi uang yang saya miliki.”

Paranoid cewek matre adalah istilah yang paling tepat bagi Tyo. Walaupun dia tahu kalau masih banyak wanita yang benardi luar sana tetapi sangat sulit baginya untuk bisa melihat sisi positif dari seorang wanita. Belum apa-apa sudah difensif duluan. Wanita yang benar pun akan merasa malas mendekati pria seperti ini. Tidak ada seorang wanita, sekalipun dia seorang wanita matrealistis, yang mau mendapat cap cewek matre.

“Saya suka iri dengan teman-teman yang sudah memiliki istri dan anak. Terbayang setiap kali mereka pulang ke rumah, selalu ada yang datang menyambut dengan penuh kehangatan. Sementara saya, selalu pulang ke rumah kosong. Paling-paling si Jorgi (Golden Retriever peliharaan Tyo) yang datang.”

Clint, 59 tahun

“Sulit bagi saya untuk bisa jatuh cinta.”

Banyak wanita cantik, seksi, pintar, dan menarik, tetapi tidak ada satu pun yang memenuhi kriteria pria charming asal Jawa ini. Ada banyak sekali kriteria yang harus dipenuhi agar wanita itu dianggap layak untuk menjadi pendampingnya. Misalnya saja soal seksi, dia tidak ingin wanita yang kelihatan seksi, tetapi sensual. Dia tidak ingin wanita yang tomboy tetapi tidak suka wanita yang feminin. Sulit untuk dimengerti karena ini benar-benar masalah selera.

“Saya sempat menjauh dari keluarga dan berkelana ke sana ke mari, saking malasnya ditanya kapan kawin? atau ke mana anakmu?.Tetapi justru hal inilah yang membuat saya akhirnya sadar bahwa saya hanya lari dari masalah dan tidak menyelesaikan masalah.”

Waktu terus berjalan dan usia terus bertambah, sementara tidak ada satu orang wanita pun yang memenuhi kriterianya. Pernah ada yang mendekati, tetapi kemudian ada masalah yang membuatnya tidak mungkin bisa berhubungan dengan wanita tersebut. Alasannya, karena jarak yang terlalu jauh. Bisa bertemu setahun sekali pun sudah bagus. Sekarang ini Clint menderita penyakit prostate, yang bisa saja terjadi karena pipa-nya jarang dibersihkan. Clint memang bukan tipe pria yang bisa melakukan hubungan seks dengan siapa saja, dia cenderung sangat berhati-hati dalam hal ini. Takut, katanya.

“Usia saya sekarang tidak memungkinkan saya untuk menikah, apalagi untuk punya anak. Saya sebetulnya ingin sekali, tapi sudah terlalu terlambat. Seandainya saja saya bisa menjadi muda kembali, saya pasti akan lebih berani mengambil resiko dan tidak terlalu banyak memilih. Saya sangat kesepian.”

Sammy, 51 tahun

“Kesibukan mengejar harta dan ambisi membuat saya jauh dari wanita. Impian untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya, harta sebanyak-banyaknya adalah hal yang lumrah, tetapi kalau sampai melupakan hal-hal yang lain, justru jadi tidak sehat. Saya dulu ingin sekolah dulu, kerja dulu, punya rumah dulu, hidup berkecukupan dulu, baru mencari pasangan. Saya tidak ingin disebut sebagai seorang pria yang tidak bertanggung jawab dengan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan anak dan istri.”

Sampai kemudian tidak terasa waktu cepat berlalu. Sammy yang memiliki perusahaan kontraktor ini seperti keenakan menikmati kesendiriannya. Selama ini dia kurang menyadari karena hidup di lingkungan laki-laki, di mana jarang sekali ada wanita yang ditemuinya. Hampir semua temannya laki-laki, dan kalau ada wanita, kalau tidak keluarga, istri teman, atau anak buah yang usianya masih sangat belia.

“Ambisi, cita-cita, dan impian saya sudah terpenuhi semua, tetapi saya sadar kalau semua ini sia-sia belaka. Inti dari semua itu tidak tercapai karena sampai sekarang saya belum menikah. Rasanya sudah tidak mungkin saya bisa menikah.”

Semua nama yang ada di dalam artikel ini adalah nama samaran. Maklum, tidak ada satupun dari mereka yang mau tampildengan alasan malu. Tidak apa-apa, yang penting Anda bisa bisa memetik hikmah dari pengalaman mereka. Semoga saja semua ini tidak terjadi dalam hidup Anda.

Catatan:

Belum Terlambat, Bila Anda Tidak terlalu berteori dan menggunakan nalar untuk selalu berpikir sesuai dengan logika. Ada hati yang memiliki suara untuk bisa didengar. Suara hati yang paling benar dan paling jujur, yang keluar dari dalam diri Anda sendiri. Fight for yourself. Perjuangkan apa yang Anda pikir patut dan layak untuk Anda dapatkan. Orang lain, bahkan orang tua bisa bicara, tetapi yang menjalaninya adalah Anda sendiri, bukan orang lain. Percaya diri itu harus tetapi jangan sampai kita menjadi sombong. Belum tentu apa yang kita pikir adalah benar. Berkacalah, lihat, dan akui siapa diri kita yang sebenarnya. Punya keinginan boleh-boleh saja, tetapi jangan terlalu banyak mau. Life goes on. So, let it flow.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 13 September 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Kenapa Nggak Kawin-Kawin, Sih?!

  1. dicky says:

    duh nyindir terus cariin yg umur 20 tahunan gadis jujur…siap kaya siap miskin…he 3x..eh jangan lupa wajah tubuh sensual..:)

  2. Pingback: Selalu Ada Harapan untuk Menikah | Bilik ML

  3. crescent says:

    Wah.. Pertanyaan ini udah mulai ditanyakan ke saya disaat saya ultah ke 25 ;P
    Mau gmn ya? Memang belum nemu.. Tp kl ditanya2 gini kesannya saya di buru2 untuk “melarikan diri dari masa lajang saya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s