Aku Pahlawan, Bukan Penghianat Bangsa!

“Aku adalah orang yang sangat nasionalis, yang sangat mencintai negaraku. Bagiku, negara adalah segala-galanya. Semua kuberikan bagi kepentingan negara dan rakyatku.”

Aku memberikan kemudahan bagi rakyatku yang sedang membutuhkan surat-surat dan dokumen penting dalam waktu yang singkat. Mereka tidak perlu menunggu waktu yang lama dan mengikuti proses yang berbelit-belit. Cukup dengan memberikan sedikit uang jasa, mereka bisa dengan segera mendapatkannya. Tidak ada paksaan mengenai pilihan untuk proses singkat dan proses biasa, begitu juga dengan jumlah uang jasa yang diberikan. Bagiku, yang terpenting adalah rakyatku senang. Kalau mereka senang, aku pun ikut senang.Aku juga membantu rakyatku yang sedang menghadapi kesulitan dalam proses hukum. Hukum memang berlaku dan harus ditegakkan, tetapi terkadang justru membuang waktu, tenaga, dan juga uang. Negara juga nanti yang harus menanggung semuanya. Nah, daripada begitu, lebih baik aku bantu saja rakyatku ini. Dengan melakukan ”perdamaian”, semua masalah pasti bisa diatasi dengan lebih mudah.

Aku membantu rakyatku yang sedang kebingungan karena tidak memiliki pekerjaan. Aku meminta pertolongan mereka dan mereka pasti akan menerima imbalannya. Dengan imbalan yang mereka terima, paling tidak, mereka bisa membelikan makanan untuk keluarga. Pertolongan yang aku minta pun tidak sulit, hanya datang ke tempatku berpidato saja. Mereka cukup mendengarkan aku berpidato dan berteriak-teriak memanggil namaku (dan dengan perjanjian tanpa ngorok). Tidak sulit dan benar-benar saling membantu, kan?

Salah satu jalan keluar lagi yang bisa kuberikan kepada rakyatku agar dapat memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar adalah dengan mengirim mereka ke luar negeri. Biarpun mereka hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, ataupun buruh di ladang atau pabrik, namun uang yang mereka terima sangat besar. Cukup untuk memberikan penghidupan yang layak bagi keluarga mereka di kampung. Bahkan tidak sedikit yang pada akhirnya bisa membeli rumah mewah dan sawah serta ladang yang luas. Devisa negara pun bisa terselamatkan dari uang-uang yang mereka kirim dari luar negeri.

Sayangnya, aku memang belum bisa memberikan keselamatan mereka semuanya karena tidak mungkin bagiku untuk memperhatikan mereka satu per satu dari jutaan orang yang berhasil aku kirim. Ya, maafkan aku tapi aku janji akan terus berusaha memberikan yang terbaik.

Aku juga berusaha keras agar pemerintahanku berlaku adil dan bijaksana.
Tidak seharusnya mereka yang berkecukupan dan memiliki kendaraan pribadi sendiri mendapatkan subsidi yang besar dari pemerintah. Subsidi bahan bakar yang tadinya dinikmati oleh mereka lebih baik diberikan kepada sebagian kecil rakyatku yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Uang yang mereka terima, walaupun jumlahnya masih kurang memadai, sangat bisa membantu rakyat kecilku ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Aku sangat mengerti bahwa masih banyak kebutuhan pokok rakyatku yang masih belum terpenuhi dan demi kesejahteraan rakyatku, aku membelinya dari negara lain. Aku tahu kalau sebetulnya negaraku bisa memproduksinya sendiri, tetapi produksi sendiri itu repot dan prosesnya panjang. Untuk bisa mendapatkan kebutuhan kedelai saja, dibutuhkan waktu berapa lama bagi petani untuk menanam dan memanennya. Itu pun kalau berhasil, kalau tidak, bagaimana dengan nasib para pengusaha tahu dan tempe?  Apa mereka harus berhenti produksi karena tidak tersedianya bahan baku? Kalau sampai berhenti, wah, rakyatku bisa menjerit. Lha wong, tahu dan tempe itu makanan murah meriah, enak, sehat, dan hampir setiap hari dikonsumsi rakyatku, kok!

Negaraku sangat kaya akan hasil tambangnya dan semua itu bisa dipergunakan untuk kepentingan rakyatku. Sayangnya, aku dan rakyatku sendiri belum mampu untuk mengolahnya secara maksimal. Mungkin karena pendidikan di negaraku masih belum sebanding dengan pendidikan di negara-negara lain. (Padahal aku sudah berusaha keras memberi contoh dan mengajak rakyatku untuk terus belajar, terutama belajar bahasa asing, seperti bahasa Inggris yang sangat aku kuasai.) Karena aku sangat mengerti akan kondisi seperti ini, aku mengundang orang-orang dari negara lain yang memiliki kemampuan mengolah hasil tambang dengan baik untuk bekerjasama dan melakukan investasi di negaraku ini. Selain hasil tambangnya bisa diolah dan dimanfaatkanuntuk kepentingan bersama, lapangan kerja pun jadi terbuka luas. Rakyat di sekitar lokasi pengolahan hasil tambang juga ikut makmur karena mereka akan terkena dampak positifnya.

Aku berusaha keras agar rakyatku tetap bermoral dan bermartabat. Aku melarang segala jenis bentuk kejahatan, perjudian, minuman keras, dan juga perbuatan asusila. Media televisi adalah salah satu sarana yang aku pergunakan untuk mendoktrinasi rakyatku tercinta ini dengan cara yang halus. Telenovela dan sinetron yang selalu memberikan masukan bahwa perbuatan-perbuatan tak bermoral dan bermartabat itu pasti akan ada ganjarannya. Sedangkan bagi mereka yang bermoral dan bermartabat pasti akan mendapatkan hikmah dan hidayahnya. Mengenai rumah dan mobil mewah, itu hanya sekedar bumbu dan sifatnya hiburan belaka. Lagipula siapa yang tidak senang membayangkan bisa hidup seperti lakon yang mereka tonton di telenovela dan sinetron itu?

Aku juga memberikan kemudahan bagi mereka yang ingin beribadah seperti menunaikan ibadah haji yang merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang sudah merasa mampu. Dengan segala keterbatasan kuota yang aku terima, aku berusaha untuk bisa memberikan jalan keluar. Harga yang harus dibayarkan oleh mereka yang ingin beribadah ini terpaksa harus sedemikian besarnya, tetapi apa yang mereka dapatkan memang sebanding. Mereka mendapatkan fasilitas yang nyaman, katering yang enak, dan tidak perlu ketakutan untuk kekurangan sesuatu apapun. Lagipula, apalah artinya uang bagi mereka yang ingin beribadah?

Semua ini hanya sebagian kecil dari darma baktiku bagi negara, bangsa, dan rakyat serta saudara-sauraku yang tercinta. Masih banyak lagi yang aku lakukan demi mereka. Sudah sepatutnya aku mendapat kehormatan sebagai seorang pahlawan. Hanya mereka yang tidak mengerti, yang ingin membuat negara ini kacau dan hancur, serta ingin menggulingkan akulah yang menyebarkan fitnah dan memberiku gelar sebagai seorang penghianat bangsa.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 13 September 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Aku Pahlawan, Bukan Penghianat Bangsa!

  1. Anto says:

    Salah satu jalan keluar lagi yang bisa kuberikan kepada rakyatku agar dapat memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar adalah dengan mengirim mereka ke luar negeri. Biarpun mereka hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, ataupun buruh di ladang atau pabrik, namun uang yang mereka terima sangat besar.

    menjadikan mereka transmigran saya rasa jauh lebih terhormat,,

    salam

  2. aldy says:

    Ahh, andai negera itu seperti negera ku….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s