Kepedulian Semu Mereka yang Mengaku Sebagai Saudara

"Family That Preys"

JUJUR saja, berapa banyak di antara kita yang lebih senang bercerita alias curhat dengan teman dibandingkan dengan keluarga sendiri. Berapa banyak juga yang merasa lebih banyak dibantu teman dibandingkan dengan keluarga sendiri. Berapa banyak yang merasa disisihkan oleh keluarga. Saya yakin pasti banyak sekali!

Masih ingat film serial teve “The Brady Bunch” atau “The Huxtable”? Ada nggak, sih, sedikit perasaan iri atau paling tidak keinginan yang sangat mendalam untuk bisa memiliki keluarga seperti itu? Akrab, saling membantu, saling berbagi, dan yang paling penting adalah memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam saling menyayangi antara ayah, ibu, anak, dan saudara. Sungguh indah dan luar biasa. Seandainya saja semua keluarga bisa menjadi seperti itu….

“Kalau kita lagi di atas, semua juga datang. Saudara dari ujung antah berantah pun datang dan mengaku saudara. Coba kalau kita lagi susah kayak begini! Orang tua, kakak, dan adik juga kalau bisa nggak deket-deket, deh! Baru bilang mau datang saja sudah ketakutan dipinjami duit! Apalagi kalau beneran datang ke rumahnya?” keluh Awang yang baru saja usahanya bangkrut dan habis-habisan karena tertipu.

“Mana ada, sih, yang ingat kalau mereka juga pernah kita bantu? Bukannya nggak ikhlas, tapi rasanya jengkel aja!”

“Kalau memang saya bisa, sih, saya juga pengennya pindah ke rumah sendiri. Mau ngontrak, kek, mau di kampung, kek, mau di gang senggol, kek, saya nggak peduli. Tapi kondisinya bagaimana? Kasihan anak-anak. Uang buat sehari-hari saja nggak cukup, bagaimana saya mau pindah?” curhat Linda yang baru saja kehilangan mata pencaharian alias dipecat dan sekarang ini numpang tinggal di rumah orang tuanya.

Begitu juga dengan suaminya yang sekarang ini sama-sama pengangguran. “Malu sebetulnya sama keluarga. Nggak tahan dengan sikap menghina dan sindiran mereka. Sebagai kakak paling tua, rasanya, kok, saya cuma sekedar kakak. Nggak ada yang namanya rasa hormat sama sekali!”

“Saya memang bukan anak yang patut dibanggakan keluarga. Hidup saya habiskan untuk hal-hal percuma. Mana rumah tangga saya berantakan lagi! Keluarga pun sudah malu menerima saya, biarpun sekarang ini saya sudah tobat dan mencoba untuk bisa terus jalan yang lurus. Jadi orang luruslah, istilahnya,” cerita Danang yang pernah masuk penjara dan panti rehabilitasi ketergantungan narkoba.

“Saya bisa mengerti, tetapi biar bagaimanapun juga, saya, kan, tetap anak. Saya tetap adik dari abang-abang saya. Apa memang sebegitu hinanya saya, sampai-sampai lebih baik mereka pelihara anjing dan ayam dibandingkan menerima saya masuk ke dalam rumah mereka?”

“Paling terasa kalau ada acara keluarga. Anak saya, kan, banyak, sementara saya nggak punya kendaraan sama sekali. Mau pergi naik angkutan umum jauh. Tidak mungkin saya membawa anak-anak itu jalan kaki sebegitu jauhnya. Tapi kalau saya nggak datang, nggak enak juga. Dibilangnya macam-macam. Kalau punya duit buat naik taksi, sih, nggak masalah. Ini minta tolong dijemput sama adik sendiri saja, kok, kayak orang ogah-ogahan gitu? Suka nggak enak hati, jadinya!” kata Melani yang “baru” tiga tahun belakangan ini terpaksa harus hidup amat sangat sederhana dan harus membesarkan tiga orang anaknya sendirian. “Saya, sih, lebih sering memilih untuk diomongin macam-macam daripada dianggap ngerepotin!”

“Sedih banget kalau ibu menyuruh saya dan suami untuk makan makanan ala kadarnya yang tersedia di lemari. Tak jarang itu adalah makanan sisa kemarin. Sementara yang lainnya boleh makan makanan lain yang enak. Diumpetin! Biar saya kagak ngambil! Padahal kalau tahu pun saya nggak akan ambil kalau memang tidak ditawari. Memang bukan punya saya, bagaimana?” cerita Tiur yang juga terpaksa harus kembali ke rumah orang tua setelah bangkrut habis-habisan. “Saya sebetulnya bersyukur dengan apa yang saya terima. Masih untung bisa makan, kasarnya, kan, begitu! Yang penting anak-anak sajalah! Saya, sih, nggak terlalu mikirin! Cuma kalau sedih, boleh, kan?!”

Berbagai kisah dan cerita yang berbeda namun ada satu omongan yang sama, “Memangnya kita mau hidup susah kayak begini?! Kita bukannya nggak usaha! Kita juga sampai pusing dan stres memikirkan bagaimana caranya untuk bisa memperbaiki hidup. Semua usaha sudah kita lakukan dan nggak pernah berhenti untuk terus berusaha. Mbok, ya, ngerti sedikit kenapa? Menolong orang lain bisa, tapi kenapa kalau nolong saudara sendiri, kok, susahnya minta ampun. Kayak orang nggak ikhlas saja!”

Menangis saya saat menuliskan cerita ini. Di mana hati nurani, ya? Menolong dan membantu saja harus sok pakai nalar segala! Memang susah banget, ya, kalau pakai hati? Ini barangkali yang dibilang susahnya jadi orang susah.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 24 September 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Kepedulian Semu Mereka yang Mengaku Sebagai Saudara

  1. ruddabby says:

    ya begitulah dunia saat ini. kebanyakan melihatnya hanya materi mbak ML. Oh ya saya masukkan blog mbak jadi link di blog saya. cech

  2. bilikml says:

    hai cech… menyedihkan banget ya bila materi sudah menjadi “Tuhan”.. hiks…

    wah makasih cech… gimana ya caranya memasukkan punyamu untuk di link ke blog saya juga?!

  3. L.H says:

    Mariska, seumur hidup saya punya motto “jangan lihat saudaramu untuk minta tolong” , saya ingat dulu, sepupu yang kaya raya kalau beli pecel sama mama saya yg jualan dipinggir jalan, dia selalu ambil uang kembalian yg jadi hak nya, sampai saya harus tukar uang pd sesama pedagang untuk mengembalikan receh kembaliannya, tapi dia selalu membayarin semua temannya yang sekalian jadi pembeli, padahal uang yg harus dia keluarkan sampai berpuluh kali lipat uang kembalian yg hanya receh.

    jangan berharap dikasih orang, makan ngak makan berdiri dikaki sendiri aja.! jangankan saudara diminta tolong jemput, anak sendiri aja ogah-ogahan untuk melakukannya, mendingan naik Damri cuman Rp 20.000,- sekali jalan dari airport, hati sdh sennag daripada liat muka org yg nyebelin karena merasa terganggu aktivitasnya.

    • bilikml says:

      Yah memang begitulah yang sering terjadi ya Mbak. Lebih baik semuanya dilakukan sendiri, karena seringkali saudara justru yang paling menuntut pamrih dari apa yang telah mereka berikan. Belum lagi omongan yang keluar dari mulut mereka, seringkali lebih menyakitkan hati. Bicara tentang cinta dan kasih sayang tetapi cinta dan kasih sayang itu hanya untuk diri mereka sendiri, bukan untuk diberikan. Sungguh saya sangat sedih bila semua ini terjadi.

  4. Mariska hrs sabar, bukan keluarga nggak mau bantu. Sekarang memang lagi susah. Barangkali Mariska hanya melihat ekonomi keluarga dari luarnya, tapi tidak melihat lebih dalam. boleh-boleh saja spertinya punya duit, tapi kenyataanya banyak hutang. Sekarang di negeri ini, apa saja dpt dikredit. Mungkin Mariska lebih bahagia dari keluarganya yg lain wlp keadaan ekonomi sangat sulit, karena nggak punya hutang. Yg lain kali dikejar hutang, begitu Mariska minta bantuan, dari mulutnya keluar komat-kamit, utk menutupi bahwa sesungguhnya ia lebih susah dari Mariska. Sabar Mariska….jangan putus asa, yg penting Mariska dan keluarga sehat. Orang sehat makan apa saja semuanya daging dan akan jauh dari penyakit. Kesehatan memberi kita kesempatan utk bangkit kembali. Dan perbanyak ibadah,Allah akan memperhatikan org yg tdk bersungut-sungut. Jadi mulai hari ini Mariskan jangan bersungut-sungut, percayalah Allah akan membantu

  5. ralat : maksud saya menjadi daging

    • bilikml says:

      Hmmm… ini bukan masalah pribadi satu dua orang tetapi masalah kebanyakan yang terjadi umum dan ini menyedihkan sekali… tulisan ini ditujukan untuk memberikan pandangan betapa nilai rasa persaudaraan bahkan darah daging sendiri sudah pupus karena materialisme di mana semuanya dinilai dalam bentuk materi semata… bila terhadap saudara sendiri begini, bagaimana kepada bangsa dan negara serta seluruh saudara kita di tanah air?!

      terima kasih ya atas masukannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s