Feodalisme Gaya Baru

"Ningrat" Illustrasi: commons.wikimedia.org

KATANYA anti feodal, tapi kenapa kelakuannya feodal banget, ya? Merasa memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Merasa lebih layak “dipandang” dibandingkan dengan yang lain. Merasa harus yang paling dihormati. Mungkin ini yang disebut feodalisme gaya baru.

Seorang bapak mengeluhkan soal anak perempuannya yang pacaran dengan pria yang status ekonominya dianggap jauh lebih rendah.

“Saya hanya tidak mau anak saya susah, kok! Saya sudah bekerja mati-matian demi kebahagiaan anak saya. Masa semuanya harus hancur begitu saja? Mana mungkin anak itu bisa memberikan kebahagiaan seperti yang saya berikan? Harusnya, kan, dia dapat suami yang lebih dari saya?!” kata si Bapak ini dengan muka merah padam. “Lagipula siapa tahu berniat jahat? Bisa saja, kan, dia niatnya mengambil harta keluarga saya? Soalnya, dia juga anak paling besar, adiknya banyak, bapaknya sakit-sakitan. Dia pasti butuh uang banyak, kan?”

Oke… terus…???

“Anak saya sarjana. Sebentar lagi lulus S2. Di keluarga saya tidak ada yang tidak sarjana. Saya sendiri S3. Masa, sih, saya harus punya menantu yang cuma lulusan D3 doang? Nggak pantas rasanya?! Apa kata keluarga saya nanti?!” lanjut si Bapak.

Sewaktu mendengarkan omongan Bapak ini, saya, kok, jadi seperti flash back, ya? Membayangkan cerita ketika masih zaman penjajahan dan zaman keningratan masih berlangsung di negeri ini.

Kamoe itoe… toeroenan ningrat, Ndoek!!! Inget!!! Ningrat!!! Jadi, kamoe haroes berjodoh sama pria yang sederajat. Bagoesnya lebih. Bibit, bebet, bobot, itoe penting!!! Apa nanti kata orang? Moso toeroenan Raden Mas Ngabei dan Raden Ajeng berjodoh sama anak orang biasa? Maloe akoe!!!”

Sama, kan, ya? Bahasanya saja yang beda. Yang satu soal gelar kebangsawanan, yang satu lagi soal gelar pendidikan. Apa bedanya, toh?! Urusannya status!!! Bukan isi dari gelar itu sendiri ataupun isi dari kepemilikan gelar pendidikan. Feodal banget, kan?

Bicara bibit, bebet, dan bobot, saya sebenarnya sepaham. Hanya saja, bukan dilihat dari status, tetapi lebih kepada kepribadian. Pacar anak Si Bapak contohnya. Dia mungkin ingin punya gelar sarjana, namun apa daya, dia tidak memiliki cukup uang untuk bisa mendapatkannya. Tetapi dia menjadi tulang punggung keluarga. Banting tulang demi orang tua dan adik-adiknya. Apa ini tidak bisa dibilang sebagai orang yang penuh tanggung jawab? Mentalnya juga menurut saya cukup luar biasa. Berani memacari anak orang kaya, dan tidak merasa minder, itu poin lebih, lho!!! Kalau ada maksud lain di luar itu, ya, saya juga nggak tahu!!! Saya hanya mencoba melihat sisi positifnya saja. Kalau negatif terus, sih, semua juga nggak pernah ada yang bener?!

Saya justru pengen ketawa berbahak-bahak mendengar omongan si Bapak. Huahahahahahaha…. Bagaimana tidak?! Teori dan prakteknya, kok, beda banget!!! Teorinya, dia adalah orang yang berpendidikan dan sangat menentang feodalisme, yang dianggapnya bisa menghancurkan. Dia juga menganggap dirinya sebagai orang yang modern karena bisa sukses, memiliki uang banyak, memiliki keluarga yang utuh, dan bergelar S3. Giliran harus menghadapi kenyataan, kenapa jadi feodal dan primitif, ya? Bingung saya?! Apa keblinger kali, ya?! Labil banget, sih?!

Menjadi orang yang konsisten dan memiliki pendirian memang sulit. Apalagi kalau sudah dipenuhi dengan rasa ego yang tinggi. Punya gelar ningrat, gelar pendidikan, dan uang yang banyak tidak menjamin seseorang menjadi manusia yang lebih baik dan bijaksana. Seringkali urusan hati nurani dikalahkan oleh yang katanya disebut sebagai “nalar”. Menjadi manusia yang logis dianggap lebih modern dibandingkan dengan manusia yang tidak logis. Padahal, kalau dipikirkan matang-matang, yang logis bisa jadi tidak logis dan yang tidak logis bisa jadi logis. Yang logis pasti ada tidak logisnya dan yang tidak logis pasti ada logisnya. Coba pikirin, deh!!! Hehehe….

Ada lagi, nih, yang bikin saya juga bingung. Kenapa, ya, pendapat dan omongan orang itu jauh lebih penting dibandingkan dengan memiliki jati diri dan kejujuran? Sebegitu pentingnyakah sehingga harus mengorbankan kebahagiaan? Bisa, ya, bisa tidak jawabannya. Tetapi untuk urusan yang satu ini, kok, rasanya norak banget, sih!!!

Ini, sih, cuma uneg-uneg saja! Sekedar sharing pemikiran. Siapa tahu ada yang berpikiran sama atau bisa memberikan masukan. Makasih, ya!!

Salam,

Mariska Lubis

27 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Feodalisme Gaya Baru

  1. Dodi says:

    Hapus segala bentuk feodalisme di Indonesia !!! Termasuk yang sering dilakukan para pejabat yg gila hormat !!!

  2. Agung says:

    Halo mba, saya ngasi komentar sedikit ya mba
    saya punya ade cewe, orang2 bilang dia cantik (saya sendiri ngelihat nya ga cantik haha)
    kemaren dia sempat pacaran dengan seorang yang berbeda agama.
    bapak saya melarang habis – habisan, tapi ibu saya sih gpp.
    tapi kalo saya sendiri melihat dari sudut pandang yang lain.
    saya pribadi tidak suka sama pacar nya tersebut. ok anggap lah saya seorang feodal, iya saya feodal, karena saya jg sangat ingin ade saya hidup ga terlunta – lunta nanti dikehidupan nanti.
    bukan masalah dia beda agama, atau dia bukan keluarga ninggrat, tapi tanggung jawab terhadap diri sendiri, itu jauh lebih penting dari pada status sosial atau agama menurut saya.
    gmana coba cowo yang ga punya tangung jawab terhadap diri sendiri, bisa bertanggung jawab sama pasangan nya.
    nb : padahal cowo nya tajir loh mba (tajir dari duit bonyok)

    • bilikml says:

      terima kasih untuk ceritanya….

      tanggung jawab itu masalah yang lain lagi dan wajar bila dipertanyakan dan dikhawatirkan. harta yangberlebih juga kedudukan dan status tidak menjamin mereka bertanggung jawab. berilah pengertian kepada adikmu dan juga orang tuamu untuk membahasnya dari sudut pandang tanggung jawab ini, jangan memaksakan, biar adikmu yang menentukan sendiri pilihannya. semakin dipaksakan akan semakin berontak dia.

  3. L.H says:

    wah bahasan yang keren dan berani say…………

    untuk saya yang mulai dalam periode, ngincar calon mantu, BIBIT, BEBET, BOBOT itu bukan memasukkan katagori harta dan status, tapi lebih pada silsilah kesehatan jiwa dan raga calon mantu ini.

    contohnya, seorang keponakan saya menikah dengan seorang yang keluarganya banyak yang kena sindrom kejiwaan, nah skg setelah berumah tangga 2 atau 3 tahun, mulailah yang biasa dikeluarganya terjadi, demikian juga pada dirinya. makanya saya bilang sama anak-anak, jika naksir seseorang apalagi berniat hidup bersama, coba lihat dulu sejarah kesehatannya, bukan berarti kita anggap diri sebagai “orang yg super sehat”, tapi jika sdh tau apa masalah yang bakal muncul, mungkin sdh mempersiapkan diri sebelum mengikatkan diri sebagai pasangan hidup, seperti ikut konseling pranikah, memeriksakan hormon atau kesehatan sperma dan kondisi rahim, karena ketika kita menikah dan lahirlah generasi penerus, tentu kita harus bertanggung jawab pada anak yang kita lahirkan kedunia ini.

    salam sayang untuk mu,
    LH

    • bilikml says:

      terima kasih mbak sudah berkenan mampir… yah memang sulit tetapi semua itu adalah pilihan… sebagai orang tua memang kita sebaiknya mengingatkan tetapi biarlah itu semua menjadi dia sendiri yang menentukannya… semua resiko dan tanggungjawab seharusnya dia tahu dan berani menghadapinya…

      salam hangat selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s