Fakta Tentang Kelainan Kejiwaan Seksual dalam Masyarakat

Kasus Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari seharusnya menjadi bukti yang sangat nyata dan sangat kuat atas bagamana keadaan masyarakat Indonesia sesungguhnya. Bukan dari perilaku melakukan hubungan seksual dengan berganti pasangannya saja, tetapi dari kondisi kejiwaan seksual masyarakat yang menyaksikannya. Berapa banyak yang berebut ingin menyaksikannya? Berapa banyak yang melihatnya lalu terangsang dan melakukan kegiatan seksual sampai mencapai orgasme? Siapa yang “sakit”, sih?!

Bahkan menurut Rafael Don Bosco, seorang pembicara pada acara launching buku saya tanggal 17 Juni yang lalu, yang juga seorang wartawan istana, mengatakan bahwa bahkan pada saat Presiden bicara pun para wartawan yang ada di sana sibuk bertukar video yang membuat heboh tersebut. Mengirimkannya kepada yang lain. Bukankah ini juga sama dengan telah melakukan sexting?! Menurut Gus Sholah, tokoh masyarakat yang juga sekaligus pemuka agama, pada saat yang sama juga menyinggung masalah ini. Melakukan penyebaran gambar adegan seksual kepada yang lain, kan, namanya sexting bukan?! Dan bukankah sexting itu salah, juga bisa masuk dalam kategori sakit jiwa bila dilakukan tanpa rasa bersalah?!

Tidak usah menampik, menyanggah atau berbohong dengan mengatakan kalau tidak ingin melihat video yang heboh tersebut. Ngaku saja, ya! Terus terang saja beberapa kawan meminta kepada saya, karena saya dipikir mereka pasti memilikinya. Ya, seorang kawan mengirimkannya ke saya tanpa saya memintanya dan saya tidak mau mengirimkannya kepada yang lain. Bagi saya, ini sudah melanggar peraturan, di mana sudah jelas disebutkan bahwa barangsiapa yang menyebarkannya bisa mendapatkan hukuman. Saya tidak mau dihukum, biarpun tidak ditangkap, saya tidak mau didera rasa bersalah karena telah membantu menyebarkan ini semua. Saya juga tidak mau melanggar etika yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, di mana bila saya menyebarkannya, maka sama saja berarti saya telah membantu membuat rusak masyarakat. Saya tidak mau merusak generasi masa depan hanya karena kebodohan dan kecerobohan. Siapa yang tahu kalau saya memberikannya kepada yang lain lalu membuat anak-anak teman dan sahabat saya melihatnya?!

Bila memang ada yang merasa tidak bersalah dengan melakukan ini semua, menurut saya luar biasa sekali. Kenapa?! Berarti memang sudah benar-benar tidak takut dengan apa yang namanya peraturan dan benar-benar sangat egois. Tidak mementingkan kepentingan orang banyak, dan malah mungkin merasa senang dan bahagia bila sudah membuat orang lain menderita. Orgasmenya dicapai atas penderitaan orang lain juga, sadar disadari, diakui ataupun tidak diakui. Ini sadis banget!!! Mungkin seharusnya diperiksa apakah sudah masuk ke dalam kategori penderita sadomasochism atau belum? Bisa jadi!!!. Soalnya, ini benar-benar perlakuan yang sangat sadis, biarpun tidak dilakukan secara fisik, tetapi sadis secara mental dan kejiwaan.

Lain lagi dengan yang senang menyaksikannya. Apalagi kalau sampai melakukan kegiatan seksual. Orgasmenya pun dilakukan dengan menyaksikan video ini. Bukankah ini sama saja dengan kelain jiwa yang disebut dengan vouyeurism?! Senang mengintip adegan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang lain, dan mencapai orgasme dengan mengintip. Biarpun tidak mengintip secara langsung, tetapi video ini, kan, dibuat untuk pribadi, dan siapapun yang melihatnya, berarti telah mengintip kegiatan yang sangat pribadi sifatnya. Nah, mau mengaku nggak?!

Lebih hebatnya lagi, kemudian terjadilah penghukuman massal terhadap mereka bertiga. Mereka habis-habisan dicerca, dihina, dan dimaki-maki. Bahkan tak sedikit yang mengatakan mereka patut untuk dihukum rajam, disiksa, dan dimasukkan ke dalam neraka. Nanti dulu!!! Siapa yang menghukum di sini?! Masih percaya dengan Tuhan atau tidak?! Apakah Tuhan mengajarkan umatnya untuk berperilaku sedemikian kasarnya terhadap manusia lainnya?! Apakah Tuhan tidak pernah memaafkan umatnya?! Siapa yang merasa Tuhan di sini?! Kalau memang merasa Tuhan, kenapa, dong, memberikan hukuman manusia?! Bukankah hukuman dari segala cerca, hinaan, dan makian itu sudah sangat luar biasa beratnya?! Bahkan mungkin lebih berat dari hukuman dari penjara dan rajam sekalipun. Mereka bukan hanya kehilangan muka, tetapi mereka sudah kehilangan banyak sekali!!! Sadar diri dululah, siapa kita dan apa kita ini!!! Jangan-jangan justru kita yang seharusnya mendapatkan hukuman penjara dan siksa neraka itu!!!

Jujur juga pada diri sendiri, apa kita juga tidak pernah berbuat salah?! Apakah kita juga tidak pernah berhubungan seksual dengan yang bukan pasangan sah kita?! Apakah kita juga pernah berselingkuh?! Apakah kita juga pernah ”membayar” dan ”menjual” kenikmatan seksual?! Apakah kita juga tidak pernah berbuat yang tidak senonoh?! Apalah kita ini memang suci?! Apakah kita ini memang ”normal”?! Apakah kita memang benar-benar taat beribadah dan taat terhadap hukum? Apakah kita benar-benar bermoral dan beretika?! Apakah kita memang seorang pahlwan?! Ngaku, deh!!! Berani nggak?! Hebat kalau berani!!!

Memang paling gampang menuduh yang lain. Lebih seru lagi memberikan hukuman kepada yang lain. Sepertinya ini memang sudah menjadi tradisi atau bahkan budaya barangkali. Menuduh yang lain untuk menutupi kesalahan yang dilakukan, lalu memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada yang lain agar tidak ikutan dihukum. Ini, sih, bukan masalah penakut menurut saya. Memang sudah tidak benar sama sekali. Pantas saja kalau sekarang keadaan semakin semrawut. Jujur dan mengaku bersalah saja tidak mau apalagi harus bertanggungjawab. Waduuuhhhhh!!!

Terus terang saja, keadaan sekarang ini benar-benar merupakan sebuah kejadian yang sangat luar biasa bagi saya. Saya sudah lama sekali menduga bahwa hal ini akan segera terjadi, mengingat sebelum-sebelumnya sudah sering juga terjadi namun yang paling menghebohkan pasti akan ada waktunya. Benar saja, terjadilah!!! Ini merupakan sebuah bukti kuat bagaimana keadaan psikologis masyarakat kita yang sebenarnya. Susah memang untuk mau mengakuinya bila keadaan psikologis yang menyimpang ini diidap oleh lebih banyak masyarakat. Kalau lebih banyak yang ”sakit” daripada yang ”sehat”, semuanya bisa jadi berputar balik. Yang sehat dianggap sakit, dan yang sakit merasa sehat banget. Benar kata Foucalt,  sakit jiwa memang sangat mempengaruhi peradaban!!! Kacau, deh!!! Lalu apa yang bisa dipegang dan dijadikan patokan?!

Jangan sampai juga kita kemudian menjadi pesimis menghadapi masa depan. Oleh karena itulah, mulailah dengan ”JUJUR’!!!! Pada diri sendiri dululah. Seperti yang saya ungkapkan juga bahwa semua harus dimulai dari diri sendiri dulu. Tidak ada yang bisa mengubah yang lain bila diri sendiri pun tidak mau berubah. Tidak pernah ada damai bila tidak ada damai dalam diri sendiri. Tidak ada juga yang bisa menjadi sehat bila diri sendiri tidak mau juga menjadi sehat. Jadilah diri sendiri!!!

Lihatlah segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Jangan pakai kaca mata kuda!!! Bila memang ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat, belajar dan belajarlah terus. Pikirkan segala sesuatunya dengan menggunakan akal yang sehat dan dengan menggunakan hati nurani. Logis itu bukan berarti mengenyampingkan hal-hal yang tidak logis. Rasional juga bukan berarti menghilangkan hal-hal yang tidak rasional. Tidak ada yang menjadi hebat bila terus meremehkan hal-hal yang kecil dan tidak memliki rasa hormat.. Tidak ada yang bisa melakukan sesuatu yang berharga dan bernilai bila apa yang telah diberikan oleh-Nya sebagai rahmat dan anugerahpun tidak dihormati dan dihargai.

Manusia adalah manusia. Kita bukan Tuhan. Manusia sama di mata Tuhan. Semoga kita semua mau menjadi manusia yang seutuhnya. Maafkan kami semua, ya, Tuhan!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

23 Juni 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Fakta Tentang Kelainan Kejiwaan Seksual dalam Masyarakat

  1. Devi says:

    M…setuju banget …mereka itulah sebenar-benarnya Marquis de Sade…dan…who are they to judge??? setuju 1000% tuklisan ini..Dari dulu saya gak suka ribut-ribut soal video porno ini…dan alSAN SAYA SAMA DENGAN KAMU…Apakah kita sedemikian sucinya untyuk mrnghukum mereka? Dan..saya sangat prihatin dengan masa depan ketiga anak muda ini…Sebagai manusia tentu mereka melakukan kesalahan…Bukankan Allahpun berkata bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan?? Tapi karena semua orang melakukan kesalahan..maka menurut saya sangatlah tidak pantas kita melakukan penghukuman massal terhadap mereka..Lebih baik jika mereka dibimbing agar tidak salah lagi…Waaahhh…aku memang fans kamu deh M…muaccchhhh…love yah!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s