Moral Panic, Ya?

LAGI pada bingung, kan, apa yang sebenarnya terjadi di negara kita? Politik amburadul. Ekonomi berantakan. Budaya carut marut. Sosial tak karuan. Seks pun tak jelas. Mau kemana kita?

Rasa-rasanya wajar kalau saya merasa bahwa sekarang ini kita sedang dalam posisi kepanikan moral. Iya, nggak sih? Kita sudah tidak lagi bisa menjelaskan nilai-nilai serta keinginan kita sendiri. Kita sudah merasa terancam malah. Ya, bagaimana tidak, sudah bingung harus bagaimana juga. Kalau membenahi pun sudah nggak tahu lagi harus mulai dari mana. Mau berbuat benar saja bingung, benar nggak, sih? Mau adil juga bingung. Apalagi mau jujur!!!! Saking udah ruwetnya, nih, semua punya definisi masing-masing atas apa yang mereka anggap benar, apa yang mereka anggap adil, dan apa yang mereka anggap jujur. Semuanya jadi relatif, deh!!! Bubar saja negara ini!!!

Kayaknya, kita harus mengevaluasi ulang semuanya, deh! Definisinya juga harus dibuat lebih jelas. Jangan hanya separo-separo, tapi semua nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa kita. Nietsche banget, nggak sih?! Hehehe…. Habis kalau nggak begitu, kita nggak akan punya patokan. Semuanya jadi seperti kabut awan yang menyelemuti tubuh dan pikiran kita semua. Mending kalau awannya putih. Ini, sih abu-abu!!! Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, diumpetin di mana, ya?

Berhubung saya sukanya melihat dari urusan seks, saya mencoba untuk menelaah kepanikan moral ini, lewat kaca mata seks. Boleh, dong, ya?! Soalnya, keadaan seks sekarang ini, menurut saya, sudah bisa masuk dalam kategori “fork devils”. Ya, sudah mengancam keadaaan sosial, politik, dan budaya kita, dan tentu saja mengancam masyarakat Indonesia secara umum dan keseluruhan.

Ada beberapa hal yang bisa kita cermati mengapa sampai bisa terjadi kepanikan moral ini. Ada banyak ciri-cirinya yang jelas banget bisa kita baca.

Keprihatin dalam seks, sudah jelas mudah terbaca. Kita bisa melihat banyak kasus. Tenaga Kerja Wanita kita, deh! Berapa banyak yang diperkosa oleh oknum di luar negeri. Pulang-pulang hamil!!! Yang meninggal… wah, buanyak banget!!! Tapi, bagaimana dengan sikap pemerintah kita? Bikin gemas saja!!! Belom lagi urusan penyiksaan dan penyimpangan perilaku seksual yang ada di negeri kita ini. Insest!!! Pelecehan!!! Pelacuran!!! Poligami!!! Semakin tidak jelas!!! Bukannya dicoba untuk dicari solusinya bersama, eh, malah diabaikan begitu saja. Dianggap seperti debu tak bertuan!!!!

Pengelompokan atau pengekslusifan diri juga kelihatan sangat jelas. Masing-masing kelompok merasa yang paling benar. Menurut saya, sih, ini terjadi karena untuk “kepentingan” pribadi atau sekelompok orang saja. Bukan untuk kepentingan bersama. Lihat saja demo anti Miyabi atau pengrusakan ATM Kondom di sejumlah lokalisasi. Apa betul, ini atas nama dan kepentingan negara dan bangsa? Kok, rasanya tidak objektif sama sekali!!! Negara, kita, kan sangat beraneka ragam penduduknya. Beda agama, beda suku, dan beda budaya. Tetapi tetap satu, kan? Jadi harusnya “satu”-nya ini yang diutamakan. Ini yang lebih penting.

Makanya, karena terpisah-pisah, akhirnya tidak ada satu pun yang memiliki kekuatan penuh. Dengan mudahnya dilibas dan dikalahkan oleh kelompok lain yang memiliki pandangan berbeda. Coba kalau kita bersatu, seperti misalnya mendukung Gerakan untuk para penderita HIV dan AIDS. Jadi lebih kuat, kan?! Hanya saja, sebaiknya, gerakan ini bukan berbentuk sekedar dukungan belaka, tetapi juga sama-sama memikirkan bagaimana cara penganggulangannya. Ada lagi yang lebih penting menurut saya, mencari jawaban atas “Mengapa, ya, sampai bisa sampai tersebar penyakit ini?”. Dikaji dan terus diolah, agar yang muncul bukan hanya seputar permukaannya saja, tetapi lebih kepada inti permasalahannya.

Ini juga tujuannya agar tidak ada pihak-pihak yang saling tuding atau saling menyalahkan. Ini, sih, salahnya si Anu! Salahnya si Itu! Salahnya si Ini! Malah tambah nggak jelas saja!!! Kita jadi tidak bisa melihat semuanya dengan lebih jernih dan jelas. Keburu pakai emosi, sih!!! Egois juga!!! Apalagi kalau sudah ngomongin dosa dan tidak dosa. Kalau menurut saya, sih, ini urusan Tuhan. Rahasianya Tuhan. Kembalikan saja semuanya kepada-Nya. Kita ini manusia, kok! Tidak berhak untuk merasa paling suci ataupun paling benar. Jangan mendahului Tuhan-lah!!!

Nah, media juga suka memperparah situasi dan kondisi. Mereka suka mengekspose hal-hal yang bisa menambah kepanikan di masyarakat. Memang penting untuk diketahui, tetapi mbok, ya, netral kenapa?! Yang jelas juga, dong! Saya masih ingat ada yang mewawancarai seorang ibu yang anaknya baru saja tewas akibat diperkosa. Pertanyaannya, kok, “Apa Ibu merasa sedih?!”. Gimana, sih!!! Nggak mutu banget!!! Jangan suka mendramatisis keadaan, deh!!! Bantu cari solusinya!!! Siarkan dan beritakanlah acara-acara yang lebih bermutu dan mendidik. Kalau bagaimana kemudian dibuat menjadi menarik, ya, pintar-pintarnya orang kreatif, dong! Banyak, kok, yang mampu!!!

Sulit memang mengatasi kepanikan moral ini. Tidak mudah sama sekali!!! Lewat tulisan ini, saya ingin sekali mengajak pembaca semua, untuk bisa sama-sama mencari solusi yang terbaik. Mencari jawaban yang terbaik. Ini semua buat kepentingan kita bersama. Bukan hanya sekarang, tapi juga untuk generasi kita selanjutnya. Mau, kan?

Salam,

Mariska Lubis

6 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s