Freedom of Expression?!

Illustrasi: fnzasyailendra.blogspot.com

SAMA-SAMA menyerukan kebebasan berekpresi dalam bercinta, tetapi, kok, beda banget, ya?!

Jim Morrison. Umbar, liar, sembarangan. Lihat saja kelakuannya waktu konser di Inggris. Sampai dibubarin segala!!!

John Lennon. Bebas, politis, spiritual. Masih ingat, kan, foto telanjangnya dengan Yoko Ono di atas tempat tidur?

Freddy Mercury. Tertutup, homoseksual, berontak. Secara tidak langsung ingin membuat eksistensi homoseksual diakui dan diterima.

Will Smith. Banyak gaya, senang dipuja, lurus. Hanya menikahi satu perempuan hebat yang sangat dicintainya di antara jutaan wanita lain yang tergila-gila dengannya.

Anda termasuk penganut aliran yang mana? Hehehe… Kayaknya susah, ya, mengakui ikut aliran yang mana. Kombinasi kali, ya? Kalau di rumah, spiritual, tertutup, dan lurus. Tapi kalau sudah keluar pagar rumah, jadi liar, bebas, berontak, dan banyak gaya. Ngaku, deh!!! Bagaimana, ya, dengan generasi muda sekarang ini? Yang ceritanya selalu meneriakkan “Freedom of Expression”. Wuihhhh!!! Hebat bener, ya?!!!

Menurut saya, sih, generasi muda sekarang sulit untuk bisa digeneralisasi. Masalahnya, masing-masing sudah memiliki keberanian untuk menjadi dirinya sendiri sesuai dengan keinginannya. Ditambah lagi dengan gap sosial, gap pendidikan, gap ekonomi, dan gap spiritual, menjadikan mereka sangat bervariasi. Hanya saja perbedaannya terlalu jauh. Bagaikan bumi dan langit. Satu persamaannya, sama-sama melupakan jati dirinya yang memiliki budaya bangsa sendiri.

Kalau yang bebas… bebas banget…!!! Kalau yang agamis… kuat juga!!! Terlalu ekstrim, kayaknya. Mereka tidak lagi mau tahu yang lain. Dua-duanya saling menyalahkan dan menganggap buruk satu dengan yang lainnya. Keukeuh sumeukeuh dengan yang itu-itu saja!!! Jarang, tuh, ada yang mau berpikir terbuka dan berpikir panjang serta jauh ke depan. Mentok!!! Yang moderat ya, moderat juga… sampai terlalu moderat dan cuek dengan sekitarnya!!! Semua juga diterima dan ditelan mentah-mentah!!! Bingung jadinya!

Saya yakin bukan hanya saya saja yang memikirkan masalah ini. Pembaca juga pasti banyak yang pusing, kan? Sama kita, ya!!! Masalahnya, adalah mau ke mana mereka nanti? Apa jadinya mereka nanti? Bagaimana nasib dan masa depan bangsa kita nanti?

Saya sebetulnya ingin mengembalikan semuanya ke kepribadian bangsa Indonesia. Sebagai sebuah bangsa yang memiliki budaya dan pemikiran yang sangat mendalam atas perilaku sosial masyarakatnya, termasuk juga tentang perkawinan dan seks. Saya paling tidak suka dengan gaya yang sok kebarat-baratan tetapi sangat juga menentang aliran yang sok ketimur-timuran atau ketimur-tengahan. Kita punya pribadi sendiri, kok. Kenapa harus ikut-ikutan?

Bangsa Indonesia, menurut saya, sejak dahulu kala, sejak awal pertumbuhan budaya di Indonesia, seks selalu berhubungan erat dengan spiritual. Bukan agama, lho!!! Spiritual!!! Di mana keindahan dalam bercinta diekspresikan lewat alunan spiritual yang sangat kuat dan kental. Menyebarkan energi positif dalam jangkauan frekuensi yang sangat luar biasa, yang seharusnya tidak pernah hilang tergerus masa. Bisa kita lihat dari tata cara perkawinan adat yang sampai sekarang ini tetap ada walaupun sudah kurang dipahami makna dan artinya.

Mandi air kembang tujuh rupa dari tujuh sumber mata air yang berbeda, contohnya. Ini melambangkan bahwa setiap orang yang akan menjalani perkawinan haruslah memiliki hati yang suci, bersih, tulus, dan sangat ikhlas. Tidak ada niat buruk ataupun niat lainnya selain menjalani sebuah perkawinan dalam ikatan yang suci, baik untuk mereka sendiri, keluarga, dan masyarakat. Hmmm…. indahnya!!!

Persis seperti lirik dalam lagunya Sting yang berjudul “My Sacred Marriage Vow”. “My sacred marriage vow… will never spoken… my sacred marriage vow… can’t be broken…” Yang bagi saya artinya adalah, ikatan pernikahan yang sakral, tidak perlu diucapkan atau diungkapkan hanya sekedar dalam bentuk sertifikat saja, begitu juga dalam bercinta… maknanya sangat dalam lagi, sehingga pernikahan dan percintaan yang kita lakukan itu bersifat sakral dan tidak akan pernah menjadi sia-sia. Romantis banget, nggak, sih????

Saya yakin juga bahwa ini semua tidak bertentangan dengan agama apapun, aliran manapun, dan pemikiran apapun juga. Malah sepertinya bisa membuat negara kita ini menjadi lebih harmonis, maju, dan berkembang. Hanya saja barangkali pemikiran saya ini terlalu idealis, terlalu berlebihan, terlalu tidak masuk di akal. Buat saya, tidak penting, karena hatilah yang akan menjawab semuanya.

Saya tidak akan pernah bosan berkata, ”Marilah kita sama-sama membangun negeri tercinta kita ini dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat demi masa depan kita bersama”. Karena ini semua adalah tanggung jawab saya juga.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 11 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi, Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Freedom of Expression?!

  1. bhayangkara says:

    Mhn dkirimi artikel2 menarik ya. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s