Mandi Bareng?!

BLUS!!! Pyor! Semua wanita, pria dan anak-anak yang turut serta dalam rombongan mandi sore bersama membuka sarung ataupun pakaian yang mereka kenakan. Kecuali saya. Saya hanya bisa melongo di pinggir kali dan bukannya membuka, tetapi malah justru memegang sarung yang saya kenakan lebih erat lagi.Katanya dipisah? Tapi, kok ada banyak laki-laki juga di sana? Gimana mau buka sarungnya?

Tah eta pamisahna (tuh, itu, pemisahnya)” kata seorang wanita yang saya tanya sambil menunjukkan tumpukan batu yang tingginya hanya sebatas lutut.

Yang kayak gitu dibilang pemisah??? Nggak, deh!

Akhirnya saya pun memutuskan untuk kembali ke tempat semula. Sebuah dusun di perkampungan masyarakat Baduy Luar yang sangat jauh dari peradaban. Biarpun capek karena harus nanjak di jalanan tanah berbatu, tetapi daripada daripada, ya mendingan-mendingan.

Sesampainya di atas, saya pun segera kembali ke pondokan tempat saya menginap. Saya biasa menginap di rumah salah satu warga di sana yang memang menerima wisatawan dari luar Baduy.

“Pak, ceunah dipisah? Eta mah ngan batu ditumpuk! Kumaha iyeu?” (Pak, katanya dipisah? Itu, sih, hanya batu ditumpuk! Bagaimana ini?) saya bertanya kepada lelaki pemilik pondokan itu.

Eneng… eneng… eta mah kumaha mikirna we atuh! Mun mandi mah mandi we, tong mikir nu sejen.” (Neng… itu, sih, bagaimana mikirnya saja! Kalau mau mandi, ya mandi saja, tidak usah mikir yang lain) jawab lelaki itu sedikit meledek.

Duar!!! Rasanya kepala ini baru dilempar batu sebesar rumah mendengar jawaban lelaki itu. Malu banget! Memang seharusnya betul, kalau niatnya mandi, ya mandi. Kenapa harus mikir yang nggak-nggak. Dasar orang kota! Otaknya kotor!

Saya akhirnya tetap mandi juga di kali, tapi pakai baju renang. Pikiran kotornya tidak bisa hilang juga, tuh! Hehehe… Tapi kemudian saya merenung di pinggir kali, membayangkan apa yang ada di benak orang-orang itu dan membandingkannya dengan saya. Sebenarnya siapa yang modern, siapa yang primitif, sih?! Saya atau mereka?

Mereka dibilang primitif karena hidup dan tinggal jauh dari kehidupan modern. Jangankan buku, sekolah pun dilarang. Tidak punya WC. Rumah dari bambu. Tidak ada listrik. Bahkan makan daging pun mereka jarang sekali. Paling-paling ikan asin dan daging ayam pas lagi ada hajatan besar. Pokoknya jauh berbeda sekali dengan kehidupan kita pada umumnya.

Sementara itu, mereka masih bisa berpikir bahwa segala sesuatunya harus dilihat dengan pikiran yang terbuka dan hati yang jernih. Bahkan sindiran lelaki tadi, menurut saya sangat luar biasa. Bisa dibilang sangat modern. Dalam sekali arti dan maknanya. Di kota yang mengaku modern dan berpendidikan, jarang sekali saya bisa bertemu dengan orang seperti itu.

Pusing memikirkan ini dan takut tidak bisa enjoy lagi, saya pun kemudian memutuskan untuk segera kembali dan mengobrol dengan penduduk di sana. Seru sekali! Ada banyak pengetahuan yang bisa saya dapat dan jauh dari persepsi saya sebelumnya. Maklum, banyak yang bilang orang Baduy itu jago mistiklah, tidak beradablah, wah pokoknya maca-macam, deh! Tapi ternyata tidak! Mereka sangat indah, menawan, dan sungguh luar biasa.

Dasar otak kotor, setelah ngobrol sana-ngobrol sini, saya pun mulai nyerempet masalah seks. Hehehe… Ingin tahu! Soalnya rumah di daerah ini sangat kecil dan kamarnya pun bisa dipakai rame-rame. Siapa tahu sama seperti mandi rame-rame di kali juga. Who knows?

Si eneng mah kumaha? Ma’ enya “pidamelan” nu kitu di hareupeun budak? Jiga nu teu baleg pisan!” (Si eneng, saya maksudnya, gimana? Masa “kerja” yang kayak begitu di depan anak? Kayak orang nggak waras saja!)

Oops!

Pan aya saung di huma!” (Kan, ada pondokan di ladang!)

Hebat! Top banget, deh, mereka! Saya benar-benar kagum. Soalnya di Jakarta yang rumahnya besar-besar dan banyak kamarnya saja, ada yang suka berhubungan intim rame-rame. Tak sedkit juga yang melakukannya di depan anak kecil. Bahkan berhubungan intim dengan anak kecil! Rame-rame pula!

Yah, ini sih buat perenungan saja. Siapa tahu ada yang mau ikut bertanya pada diri sendiri “Apa kita ini layak disebut modern atau lebih pantas dibilang primtif?”. Mumpung mau Idul Fitri, di mana kita harus menjernihkan hati dan pikiran

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 20 September 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Mandi Bareng?!

  1. linoki says:

    lam kenal u mu mbak mariska lubis ku suka itu

  2. ffeebbyy says:

    lovely, jadi sebenernya siapa yang primitif dan siapa yang modern? orang yang menyebut dirinya “modern” malah berpikiran sempit dengan menjadikan materi sebagai tolak ukur modernitas. Dan pukulan hebat yang harus diterima adalah–> mereka yang disebut primitif nyatanya memiliki pemikiran yang jauh lebih modern.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s