Tukeran Suami, Dong!

“SAYA suka suami situ! Boleh, ya! Suami saya hebat lho, mainnya!”

“Sebulan saja. Atau kita coba seminggu dulu? Gimana?”

Kira-kira begitulah inti percakapan dua orang wanita yang sedang berpesta ria di alun-alun kota Indramayu ketika saya sedang melakukan Tour de Sex keliling Jawa beberapa tahun yang lalu. Saking syoknya, kepala saya langsung pening dan mata berkunang-kunang. Enak bener ya, bisa tuker-tukeran suami!

Beberapa orang pria terlihat sudah mengenakan selendang melingkar di leher mereka. Menurut pemandu yang menemani saya, itu adalah simbol bahwa pria itu sudah “ditek” oleh wanita yang ingin mengajaknya menjadi suami atau bercinta. Lantas di mana suami-suami wanita itu? Para istri tentunya sibuk mencari pengganti suami.

“Oh, mereka juga ada di sini. Menunggu siapa wanita yang tertarik dengan mereka.”

Gubrak!

Esok harinya saya meminta sang pemandu untuk mengajak saya berkeliling ke kampung-kampung untuk melihat “kebenaran” dari cerita malam itu. Saya pun diajak berputar-putar mengelilingi beberapa kampung yang letaknya tidak begitu jauh dari kota. Dan setelah saya tanya sana-sini, ternyata memang benar.

“Itu, mah, sudah biasa, nok (panggilan untuk wanita di daerah Indramayu dan sekitarnya)! Sudah tradisi! Tos ti dituna (sudah dari sananya)!,” jawab seorang kakek yang saya temui di sebuah warung.

Rasanya hampir tidak percaya kalau ada wilayah di Indonesia ini yang memiliki budaya seks segila itu. Tapi, kalau memang sudah begitu faktanya, mau bilang apa lagi. Saya pun kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Kuningan, yang tidak jauh dari kota Indramayu. Kali ini, istri seorang teman saya, mengajak saya bertandang ke kampungnya. Setelah basa-basi sedikit, saya pun langsung menuju ke topik pertanyaan seputar perilaku seks di daerah itu.

“Kalau di sini, mah, kebalik sama di Jakarta. Di sini istri yang punya suami tiga!

Teng-tong!

“Yang penting punya duit! Mau berapa juga bisa!”

Sebegitu parahnya???

“Kan, di sini, mah, perempuan yang nyari duit.”

Kacau!

“Kalau nggak percaya, yuk, ke rumah sebelah. Dia suaminya tiga.”

Saya pun langsung setuju dan begitu sampai di depan rumah itu, terlihat dua orang pria sedang duduk di beranda.

“Itu suami yang kedua dan ketiga.”

Alamak!

Nu kahiji (yang pertama) tinggal di rumah yang lain.”

Oke, deh!

Sayangnya sang istri sedang pergi belanja ke kota, jadi saya tidak bisa tanya-tanya lebih lanjut lagi. Tapi saya tidak kehilangan akal, saya meminta dibawa ke rumah lain yang punya kasus sama.

“Oh, aya (ada)! Di sebelah sana, tapi suaminya masih dua.”

Masih dua?!

Lagi-lagi saya kecewa karena ternyata sang istri sedang menjaga toko kelontong yang letaknya agak jauh dari kampung itu. Yang ada hanya anak-anaknya saja.

“Nah, kalau itu anak-anak siapa?”

“Ya itu anak-anaknya!”

“Anak dari yang mana?”

“Teu teurang abdi (Nggak tahu saya)!”

Puifff!!!

Kali ini bukan pusing, tapi mual yang melanda. Terbayang oleh saya bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang kebingungan mencari tahu siapa ayah kandung dari anaknya. Tapi mungkin mereka nggak pikirin, ya?!

Ini cuma sebagian kisah dari Tour de Sex saya, masih banyak budaya seks lain di daerah lain yang tidak kalah mengerikannya. Tapi terlalu panjang untuk diceritakan, bisa jadi satu buku sendiri!

Intinya adalah Indonesia memang kaya sekali akan budaya yang beraneka ragam, termasuk budaya seksnya. Pertanyaannya, apakah kita mau mengakuinya atau kita terlalu malu untuk mau mengakuinya? Satu lagi, apa Malaysia berminat juga mengklaim budaya seks ini sebagai bagian dari milik mereka? Hehehe…

Menurut saya, sebaiknya kita jangan pernah mengingkari apapun yang kita miliki. Baik buruknya sesuatu, pasti selalu akan ada hikmah yang bisa kita petik. Dan jangan pernah bicara kalau itu adalah akibat dari pengaruh budaya asing, karena itu adalah asli budaya kita. Lebih baik kita berkaca pada diri sendiri dulu dan benar-benar menyelami, merenungkan, dan belajar memikirkan masak-masak atas semua budaya dan sejarah bangsa yang kita miliki ini untuk menjadi bekal masa depan bangsa yang lebih baik lagi.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 18 September 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tukeran Suami, Dong!

  1. Zamzami says:

    Bagus juga penelusurannya, tapi kecenderungan untuk terlalu jauh mengambil jarak antara peneliti dengan kenyataan di lapangan (manusia) yang diobservasi juga gak perlu dipaksakan muncul. Toh yang ditulis itu juga “justifikasi”, “penghakiman nilai”, bahkan mirip “induksi palsu”.
    Juga , kenapa harus menceritakan reaksi peneliti pribadi? Kalau seks juga menjadi bagian pribadi, ungkapan mual atau muntah dari seseorang yang menemukan kenyataan “unpopuler” itu tidak akan bisa menjadi dasar penilaian untuk orang lain.
    Akhirnya, signifikansi “Tour” itu juga tidak nampak tajamnya. Alih-alih menyuarakan kejujuran, tapi yang terjadi justru membiasakan diri untuk menjustifikasi keburukan diri, sehingga kemudian tampak seperti hal biasa yang wajar saja.

  2. Nurul Amin says:

    khazanah budaya Ketimuran, terutama tentang seks di dunia timur, sudah jauh lebih maju daripada di barat. Bahkan jauh sebelum islam masuk budaya tersebut mungkin sudah ada.
    Ketika Islam masuk, terutama di tanah Jawa, cara yang dipakai bukan cara penaklukan, melainkan asimilasi budaya. Barangkali saja, asimilasi budaya islam dan hindu-budha ketika itu belum mampu memupus budaya seks ini sampai ke akarnya. hehe😀

    • bilikml says:

      Banyak faktor yg mempengaruhi perilaku dan budaya, seks sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola pikir serta pendidikan. Agama jg berpengaruh ttp harus dilihat faktor2 lainnya, kita lihat saja di negara2 yg bahkan sangat agamis pun, budaya seks mereka tetap saja amburadul kok.

      Di dalam mempelajari seks, kita harus memasukkan semua unsur dalam kehidupan. Hanya dengan cara itu kita bisa objektif dan membantu untuk mengatasi masalah yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s