Yang Penting Dapat Komisi

JABATAN bukan direktur. Gaji resmi cuma dua juta rupiah. Ditambah dengan bonus dan tunjangan-tunjangan, paling besar dapat tiga setengah juta rupiah. Tapi, kenapa rumahnya bisa besar banget, ya? Pembantunya saja ada tiga orang. Mobilnya pun ada lima! Ketiga anaknya juga sekolah di sekolah swasta yang mahalnya minta ampun. Belum lagi  kalau istrinya belanja. Bisa setiap hari ada saja yang dibeli. Kok, bisa ya?

Ya, bisalah! Di negeri ini apa, sih, yang tidak bisa?! Jangan prasangka korupsi dulu loh! Ini murni urusan komisi.

Dalam dunia bisnis, sistem komisi memang berlaku dan merupakan sesuatu yang wajar terjadi. Bantu jual mobil saja bisa dapat komisi! Jumlahnya juga lumayan, bisa buat beli beras di rumah. Bantu jual tanah, bisa dapat komisi lebih lumayan lagi. Bisa buat DP (down payment) beli motor! Apalagi kalau dapat komisi proyek? Wah, kalau proyeknya besar, dapat dua setengah persen saja, sudah bukan lumayan lagi. Apa juga bisa kebeli! Semuanya bisa tinggal tunjuk!

Makanya, tidak heran kalau banyak orang yang kerja tanpa mengandalkan gaji dan memilih usaha sampingan sebagai seorang perantara alias broker. Yang dikejar memang komisi. Entah komisi dari transaksi apa, pokoknya ada transaksi.  Lihat saja para broker yang setiap hari nongkrong di hotel-hotel mewah di seputar Jakarta yang bicara soal duit milyaran rupiah dari hasil transaksi penjualan batu bara atau bijih besi. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya bisa beberapa kali lipat gaji! Modal pun bisa dianggap tidak ada. Cuma modal cuap-cuap, pulsa, bensin, dan bayar kopi di kafe!

Apalagi komisi bisa masuk dalam kategori halal selama memang ada barang yang dijual berikut penjualnya dan ada barang yang mau dibeli berikut pembelinya. Bukan hanya sekedar bualan belaka. Tidak haram, kan, kalau dapat komisi penjualan? Anggap saja pembagian keuntungan. Jumlah yang didapat si pedagang pun pasti jauh lebih besar. Jika dianggap biaya sekalipun, harga barang yang ditawarkan pun akan naik. Tidak menjadi masalah selama memang ada yang mau beli. Toh, tidak ada satu pihak pun yang dirugikan di sini. Sama-sama diuntungkan. Si pedagang bisa menjual barang dagangannya, si pembeli bisa mendapatkan barang yang dia butuhkan, dan yang mempertemukan antara pedagang dan pembeli itu,  sang broker, dapat komisi.

Soal komisi bukan hanya soal satu atau dua orang saja yang diuntungkan, tetapi ada juga negara yang bisa jadi kaya raya hanya dengan mengandalkan komisi. Singapura, contohnya. Negara kecil yang tidak memiliki sumber daya alam apapun ini, bisa kaya raya gara-gara komisi. Berapa banyak transaksi jual beli antara produsen atau pembeli dari negara kita yang melewati broker di Singapura sehingga bisa melakukan transaksi dengan produsen atau pembeli dari negara lainnya? Apalagi negara-negara di luar sana, banyak yang lebih percaya dengan broker dari Singapura, dibandingkan dengan yang dari Indonesia sendiri. Semakin kayalah mereka!

Bila dilihat dari sisi jumlah uang yang diterima, sistem komisi memang enak. Sayangnya, gara-gara komisi, orang juga bisa dibikin bangkrut. Kalau harga barang harus dinaikkan gara-gara komisi, otomatis pembeli pun harus membeli dengan harga yang lebih mahal.

Misalnya saja soal pengadaan barang untuk sebuah perusahaan. Untuk beli kertas sajalah. Perusahaan itu seharusnya bisa membeli dengan harga, katakan, seratus rupiah, tetapi karena si pedagang memperhitungkan komisi, harganya naik jadi seratus lima puluh rupiah. Uang komisi itu belum tentu diterima oleh karyawan perusahaan tadi, tetapi diterima oleh sang broker, yang berhasil menjual kertas  ke perusahaan itu.

Itu baru kertas, bagaimana dengan pengadaan barang-barang lainnya? Jika ada alternatif barang yang lebih murah, perusahaan pasti akan membelinya. Tetapi bagaimana kalau tidak ada?

Jumlah pengeluaran perusahaan itu jadi besar dan bisa membengkak, sehingga ongkos produksi pun naik. Ongkos produksi naik, harga jual pun jadi lebih tinggi lagi. Masih untung kalau hasil produksinya berupa barang-barang pokok yang memang dibutuhkan sekali oleh masyarakat, seperti beras. Harga tinggi sekalipun tetap dibeli orang. Tetapi kalau tidak ada yang mau membeli dengan harga tinggi atau bahkan pas-pasan? Dijual murah rugi, tidak dijual, modal hilang begitu saja. Pilihannya maju terus dengan modal seadanya atau dengan tambahan modal baru atau bangkrut. Apalagi sekarang sudah masuk era perdagangan bebas, sampai kapan perusahaan itu mampu bersaing dengan hasil produksi dari negara-negara lain yang harganya bisa lebih murah dan memiliki kualitas lebih tinggi?

Itu baru satu perusahaan yang bangkrut, bagaimana kalau terjadi di hampir seluruh perusahaan di sebuah negara? Siapa yang akhirnya ikutan bangkrut? Perusahaan-perusahaan itu tutup, negara tidak mendapat penghasilan, masyarakat kehilangan pekerjaan, yah, tinggal nunggu bangkrutnya negara saja, kan?

Broker yang kecil seperti itu saja sudah bisa membuat bangkrut sebuah negara, apalagi broker-broker  besar yang tidak pandang bulu, yang tidak punya etika, dan tidak bermoral.   Apapun yang bisa dijual, mereka jual. Tidak peduli barangnya apa atau apa akibatnya. Selama masih bisa mendapatkan komisi, tidak menjadi masalah. Bahkan negara pun, kalau bisa dijual,  mereka pasti akan jual!

Contohnya bahan bakar. Pasti banyak diantara kita yang mempertanyakan soal bahan bakar yang sekarang ini sebagian besar masih diimpor dari luar negeri. Padahal, Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, dan bahkan menjadi salah satu anggota organisasi negara-negara penghasil minyak di dunia. Herannya lagi, kalau kita mengimpor, kenapa kita mengekspor bahan baku minyak mentah ke luar negeri? Kenapa kita tidak memproduksinya sendiri? Logikanya, kalau kita bisa memproduksinya sendiri, harga bahan bahar bisa lebih ditekan. Kalau perlu, kita  bisa mengekspor bahan bakar yang sudah jadi ke luar negeri dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga bahan baku minyak mentah.

Alasan jumlah pemakaian yang sangat besar atau ketidakmampuan memproduksi sepertinya sama sekali tidak masuk logika. Teknologi bisa dibeli dan jumlah ilmuwan serta para ahli di negara kita sangat besar. Memang perlu investasi dalam jumlah besar, tetapi demi keuntungan jangka panjang, seharusnya layak dilakukan. Masalahnya hanya mau atau tidak mau saja. Tapi, kalau ada yang berani memberikan alasan komisi, pasti tidak akan ada yang bingung lagi!

Kita ekspor bahan baku minyak mentah ke luar negeri. Broker dapat satu komisi dari penjual, dalam hal ini negara kita. Lalu kita mengimpor lagi bahan bakar dari luar negeri. Broker dapat komisi lagi dari negara lain yang menjual bahan bakar ke negara kita. Sementara kalau kita produksi sendiri dan langsung dijual ke masyarakat, broker tidak dapat komisi. Kalau kita mengekspor bahan bakar yang sudah jadu ke luar negeri, broker paling-paling hanya dapat satu kali komisi. Lebih enak mana, satu kali komisi atau dua kali komisi?
Pertanyaannya, kenapa para pemimpin di negara kita ini mau dipermainkan oleh para broker itu? Atau siapa broker itu, sampai bisa mempermainkan negara?

Jadi, jangan heran kalau banyak broker yang bisa hidup mewah dan berkecukupan. Memang enak, kok, jadi broker. Mau negara bangkrut atau tidak, bukan masalah. Yang penting, bisa dapat komisi!

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 13 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Lain-lain, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s