Narcist

NARCIST banget, deh!!!

“IYA, emang saya narcist!!! So, what?! Pede aja lagi!!! Mending narcist daripada minder!!!”

Familiar dengan kata-kata di atas? Sepertinya memang dalam beberapa tahun belakangan ini istilah “narcist” menjadi sangat populer. Tapi apa semua pada tahu arti sebenarnya? Apa sejarahnya? Sebagian, sih, ngakunya belajar dari Nietche (biar kelihatan elit), tapi kayaknya banyak juga yang belom tahu, deh!!! Suka geli sendiri jadinya. Hehehe

Adalah seorang pemuda dalam mitologi Yunani bernama Narcissus. Tampan dan sangat senang memuja dirinya sendiri. Dia dikutuk untuk jatuh cinta dengan bayangannya sendiri yang terpantul dari kolam saat dia berkaca. Tidak bisa menahan diri, akhirnya dia pun pergi dan berubah menjadi bunga. Bunga yang bernama Narcisussus. Sejumlah pakar dunia menulis dan memperkenalkan istilah narcist, narcissism, narcissistic, dan narcissist, seperti Sigmund Freud, Nitche, Mastersen, Derber, Popper, dan masih banyak lagi.

Namun yang pertama kali menggunakan istilah “narcissism” adalah Paul Nache pada tahun 1899 dalam sebuah studi yang membahas soal perbedaan persepsi. Sedangkan yang pertama kali menghubungkannya dengan dunia psikologi adalah seorang psikiatri bernama Otto Rank. Dalam buku yang diterbitkannya pada tahun 1911, dia menyebutkan ada istilah ini ada hubungannya dengan rasa percaya diri dan pemujaan terhadap diri sendiri. Narcissim sendiri, sekarang ini, selalu dihubung-hubungkan dengan rasa percaya diri dan rasa ego terhadap diri sendiri. Lebih ke arah pengkelasan diri. Merasa lebih baik, lebih pintar, lebih cantik, lebih hebat, dan mengelompokkan diri ke dalam satu kalangan tertentu.

Elite pastinya!!! Mau menang sendiri melulu!!! Ini berlaku untuk diri sendiri maupun sekelompok orang tertentu. Dah banyaklah, ya, contohnya!!! Setiap orang pada dasarnya memang narcist. Narcist yang sehat, lho!!! Ini juga kata si Freud. Adanya hal ini disebabkan sebagai refleksi atau reaksi alami seorang manusia untuk menjaga dirinya dari rasa sakit. Cinta terhadap diri sendiri yang kuat, membuat seseorang kuat menghadapi orang lain. Walaupun ada cinta yang harus diberikan kepada yang lain, tetapi cinta itu tidak seharusnya membuat orang menjadi sakit, kan?

Kalau rasa narcist-nya berlebihan, alias ketinggian, ini bisa disebut tidak sehat. Punya masalah dengan kepribadian. Terlalu berlebihan menilai diri sendiri dan selalu membutuhkan yang namanya pujian dan pujaan. Bagaimana dengan orang tua yang seringkali memuja-muja dan mengagung-agungkan anaknya? Apa ini bisa disebut narcist??? Hehehe.

Katanya, nggak, tuh!!! Ini adalah sebagai ungkapan rasa sayang orang tua terhadap anaknya saja. Justru orang tua yang mengabaikan anaknya dan merasa lebih hebat terus dari anaknyalah yang patut dipertanyakan ke-narcist-annya. Menurut seorang pakar psikologi, Hotchkiss, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang menjadi sangat narcist. Yaitu rasa malu yang berlebihan, berkhayal kelewat jauh, arogan yang tinggi alias terlalu gengsian, penolakan terhadap keadaan diri yang sebenarnya, merasa bahwa dirinya sangat spesial dan sangat berharga, terlalu dieksploitasi, dan tidak bisa memiliki batasan yang jelas antara dirinya dan orang lain. Banyak juga, ya, penyebabnya!!! Jadi takut, nih!!! Pembagian atau klasifikasi dari orang-orang yang narcist berbeda-beda. Ada yang membedakannya berdasarkan rasa empati dan simpati terhadap orang lain, ada juga yang membedakannya berdasarkan perilaku sosialnya di dalam masyarakat. Tapi semuanya sama saja menurut saya, intinya sama-sama tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain dengan cara yang baik dan benar. Di mana-mana banyak musuhnya!!!!

Beda lagi dengan cross-cultural narcissim. Menurut psikoanalis Joan Lachkar, yang menyebut ini sebagai sebuah fenomena, adalah rasa kebanggaan terhadap bangsa dan negaranya yang menunjukkan rasa nasionalisme dan menunjukkan rasa kebanggaan atas jadi dirinya. Kalau yang satu ini, rasanya kita perlu banget, ya?! Kekurangan sekali, deh!!! Sekarang kurang lebih sudah lebih tahulah ya soal narcist ini!!! Jadi, nggak perlu ada lagi perdebatan soal yang ini narcist yang ini bukan atau narcist itu penting atau tidak. Pastinya, semua hal selalu ada baiknya dan ada juga buruknya. Marilah kita sama-sama melihatnya dari berbagai sisi pandang yang berbeda agar kita menjadi manusia yang lebih dewasa, pintar, dan bijaksana. Amin.

Salam,

Mariska Lubis

20 okt 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s