Seri Mariska Lubis 2: Sex Juga Relijius

“Ndol, cari udara segar yuk”, ajak Engkong Ragile setelah puas berfoto-foto.

Dari foto yang serius dengan mbak Mariska dan pak Pray, sampai acara foto-foto rada berbau pemaksaan oleh Engkong kepada neng Flora. Kagak tau apa ya si Engkong kalau ‘pengawal’ neng Flora panas dingin ngleliat cara Engkong ber foto ria. Mosok Engkong mesti diajarin cara foto yang cool, calm en confident ala Srondol sih. Hihihiih.

Rada mengerikan memang, walau sebenarnya foto itu lebih menguntungkan jeng Vira dan Engkong saja  daripada buatku sendiri yang mesti berbagi aura bintang kepada mereka. Bukan maksud narsis lo ya. Sekedar mengingatkan saja kenyataan ini kepada mereka. Heheheh

“Kemana Kong? Ngapain?”, tanyaku heran mendengar ajakan dadakan Engkong

“Loh, gimana sih? Sesama ahli hisap, masa nggak ngerti kalau sekarang sudah waktunya berhisap. Ngerti ora kowe Ndol!”, kata Engkong rada galak.

“Oh, sip-sip Kong. Nggak masalah kong. Kalau itu setuju dah!”, kataku menurut.

Ya gimana gak nurut. Ajakan Engkong memang tepat sasaran. Kurang lengkap rasanya kebahagiaan ini tanpa upacara perdamaian ala Indian Amerika jaman dulu. Bahkan asyiknya lagi, acara pipa perdamaian ini di temani kang Yusep, mas Arif dan Mbak Mariska sendiri yang sebenarnya masih sangat capek banget sehabis acara launching resminya

Walau sempat muter-muter nggak karuan mencari lokasi upacara perdamaian yang cocok. Akhirnya ditemukanlah sebuah lahan yang cukup nyaman, yaitu kafe Amadeus. Sebuah kafe di salah satu area FX Plaza pun resmi diduduki untuk sementara. Walau sempat rada hujan rintik-rintik, acara penghisapan pun berlangsung dengan lancar. Selancar acara launching buku mbak Mariskan Lubis dan selancar kemenangan 4-1 team andalanku Argentina Vs Korsel yang digelar di kafe itu pada layar proyektornya itu.

……

MALAM JUMAT, 23.45 WIB

“Bapak mimum apaan disana pak? Kopi juga?”, tanya istriku sambil membuka-buka bukunya Mbak Mariska Lubis.

“Nggak buk, cuman beli lemon tea saja. Itu saja minumnya nunggu Engkong ama mbak Mariska duluan”

“Kok mesti nungguin engkong ama Mbak Mariska pak?”

“Loh, ya memang begitu aturannya. Murid tidak boleh ngeduluin gurunya.”

“Aturan apa sih pak?”

“Aturan ‘kehormatan’ ala Jawa buk. Ajaran almarhum bapaknya bapak dulu”

“Emang ajarannya gimana pak? Emang penting pak?”

Hmm, sepertinya istriku perlu di jelaskan lebih detail. Karena selain harus hormat dan patuh dengan orangtua, seorang laki-laki itu juga dianggap terhormat bila sudah mampu menghormati 5 tingkatan kehormatan yaitu:

Pertama, Hormat kepada Alloh, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan alam semesta ini. Tidak terbayang nikmat yang telah Dia berikan.

Kedua, Hormat kepada Nabi Muhammad, yang telah mengajarkan pengenalan kepada Alloh dan cara bersyukur atas segala nikmatNya.

Ketiga, Hormat kepada Khalifah (Pemimpin) yang telah mengatur negara ini sehingga kita mudah menjalankan ajaran Alloh yang disampaikan kepada Nabi atas fasilitas-fasilitas dan kenikmatan yang diberikan.

Keempat, Hormat kepada Guru, yang telah mengajarkan tentang Nabi Muhammad dan ilmu-ilmu mengenal Tuhan dan kepatuhan kepada aturan-aturan hidup dan kehidupan.

Nah, Engkong dan mbak Mariska itu termasuk guru yang harus di hormati. Yang telah mengajarkan teknik menulis agar bentuk dan isi tulisan jadi lebih baik. Itu salah satu wujud kita bersyukur atas nikmat kecerdasan dari Tuhan.

“O begitu tho pak? Trus yang ke 5 nya apaan pak?”

“Oh kalau yang kelima sini buk bapak jelasin. Sini sini mendekat lagi”, kataku meminta istriku makin mendekat.

Istriku pun mendekat, sangat dekat sehingga aku bisa mendekatkan bibirku ke telinganya untuk berbisik menjawab tingakatan ke 5 itu.

“Iiiih pak, geli ah”, katanya sambil menahan geli.

“Mau di kasih tahu nggak!” kataku kesal.

“Mau-mau…hihihih”, jawabnya masih kegelian.

“Yang ke 5 adalah hormat kepada Mertua”

“Loh kok mertua pak, kenapa?”, tanya Istriku mendadak binggung.

“ Ya karena mertualah, seorang laki-laki akhirnya bisa merasakan nikmatnya ‘surga dunia’ “.

“Iiih Bapak”, kata istriku tersipu-sipu.

“Belum lagi tahu nggak buk, ternyata Mbak Mariska Lubis selain menempatkan sex sebagai sesuatu yang tidak porno juga menempatkan sex secara relijius loh”

“Relijius gimana sih pak? Kok kayak pengajian saja”

“Loh, gimana nggak relijius. Launching bukunya saja hari kamis sore hari. Tahu kan maksudnya?”
“Enggak”, jawab istriku binggung.

“Maksudnya, sehabis pada beli bukunya mbak Mariska. Malemnya lagsung sambung ke sunah Rosul. Gitu buuuk. Jadi, ayok buk, sunah Rosul biar mas dapat bersyukur atas nikmatnya surga dunia”.

“Halah bapak!”, jawab istriku sambil mengeluarkan jurus cubitan mautnya.

Jadilah malam sehabis acara launcing bukunya mbak Mariska Lubis menjadi malam penuh amalan sunah yang relijius. Amalan sunah yang pastinya penuh dengan adegan yang bakal kena sensor kalau di ceritakan disini.

……….

Bersambung ke seri 3…

[Bekasi, 21 Juni 2010]

Oleh: Hazmi Srondol

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Buku Mariska Lubis, Mariska Lubis and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s