Seks Telah Membuat Anak Saya Buta

Illustrasi: www.lightstalkers.org/BUTA dalam arti yang sebenarnya. Mata yang tertutup dan terpejam dan tidak bisa menikmati indahnya dunia. Gelap.

Seorang pria berusia menjelang empat puluh tahun yang sukses dalam berbisnis datang menemui saya.

“Ika, anak saya sudah lahir.”
“Selamat, ya!!! Perempuan?”
“Iya. Terima kasih.”
“Kok, baru punya anak, nggak happy, sih?”
Diam. Tertunduk. Menangis.
“Kenapa? Ada apa?”
“Anak saya buta.”

Sama. Diam. Tertunduk. Gundah.

“Semua salah saya, Ka!!! Semua ini salah saya!!! Kenapa harus dia yang mendapat hukumannya? Kenapa, Ka??? Kenapa???” berulang kali diucapkan dari mulutnya ditemani uraian air mata yang terus menetes tiada henti.

Pria itu sebetulnya orang yang baik, menurut saya. Dia sangat mencintai istrinya. Dia berjuang mati-matian menghentikan kebiasaan buruknya di masa sebelum menikah. Jajan!!!

Masih ingat saya sewaktu dia pernah bermimpi dan berkhayal bahwa adalah cita-citanya bisa “mencicipi” dan “merasakan” perempuan dari seluruh suku bangsa yang ada di dunia ini. Kalau bisa gratis, tapi kalau nggak, bayar pun nggak masalah. Yang penting tahu rasanya!!!

Sebelumnya saya pikir dia hanya bercanda. Eehhh, nggak tahunya beneran, lho!!! Sampai-sampai dia mendapat julukan sebagai pria “60 kilometer”. Maksudnya, setiap menempuh perjalanan enam puluh kilometer ke luar kota, dia harus mampir. Entah ke warung remang-remang, lokalisasi, pinggir rel kereta api, pasar kembang, pokoknya nggak milih-milih banget!!! Jorok!!! Bahkan, menurut salah seorang temannya, yang pernah pergi ke luar kota bareng pria itu, asal ada perempuan yang nongkrong malam-malam di pinggir jalan dan mau aja, pasti diembat juga!!! Nggak peduli masih remaja, ibu-ibu, malah nenek-nenek pun dia cobain juga!!! Sinting!!!

Tak heran bila kemudian dia menderita penyakit kelamin. Name it, lah!!! Mulai dari gonorrhea sampai sipilis. Semuanya sudah pernah kena, tuh!!! Nggak kapok-kapok lagi!!! Masih untung nggak kena AIDS, katanya. Busyet, deh!!! Masih ada untungnya juga, ya???!!!

Sampai kemudian dia bertemu dengan wanita yang dia nikahinya sekarang. Seorang perempuan yang sangat baik hati dan mau menerima dia apa adanya. Setelah tiga tahun menikah, istrinya itu pun hamil. Dan anak ini, adalah anak pertama mereka. Sediih rasanya hati ini.

Saya tidak bicara soal karma atau hukuman Tuhan di sini. Saya hanya melihat memang ada kemungkinan ini semua terjadi akibat perilaku buruknya di masa lalu. Penyakit kelamin ada yang bisa disembuhkan total, tetapi ada juga yang terus ada di dalam tubuh. Virus itu terus tinggal dan menetap di dalam tubuh. Hanya saja, dia tidak menampakkan diri, tetapi bersembunyi. Dan yang paling parahnya adalah, bisa ikut masuk ke dalam tubuh pasangannya saat mereka sedang bercinta, lewat sperma yang dikeluarkan.

Virus yang diam-diam menghanyutkan ini bisa “memakan” sel-sel yang ada di dalam janin. Merusak sel-sel yang seharusnya tumbuh dan berkembang, dan menjadikan seorang anak bisa lahir dalam keadaan tidak sempurna secara fisik. Biasanya yang paling sering terjadi adalah kebutaan, tuli, dan down syndrom.

Kita tidak boleh menilai bahwa semua orang tua yang memiliki anak seperti itu pasti berperilaku buruk sama seperti pria itu!!! Ini hanyalah salah kemungkinan yang bisa terjadi akibat perilaku seks yang tidak sehat. Ada segudang penyebab lainnya, seperti masalah gizi, penyimpangan gen, dan faktor kondisi ibu saat hamil dan melahirkan, yang bisa menyebakan ini semua terjadi. Penelitian dan riset masih terus dilakukan di seluruh dunia untuk bisa mencari penyebab-penyebab lainnya.

Menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi, menurut saya juga tidak berguna. Malah justru membuat semuanya menjadi blur. Blunder. Nggak karuan. Lebih baik menerima bahwa anak yang merupakan titipan Tuhan ini, baik sehat ataupun kurang sempurna ataupun apapun juga, adalah sebuah anugerah yang sangat luar biasa. Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan di balik semua ini, tetapi yakinlah bahwa setiap insan manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki maksud dan tujuan. Janganlah melihat mereka sebagai anak yang kurang tetapi sebagai “anak yang istimewa”. Berikanlah segala yang terbaik dan terindah bagi anak-anak ini. Jadikanlah mereka sebagai anak-anak yang berhasil dan sukses menjalani kehidupannya.

Pikirkan dan renungkan. Ambillah hikmah dari cerita fakta ini.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 15 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Seks Telah Membuat Anak Saya Buta

  1. Kurtubi says:

    untung cuma buta mbak ML
    coba kalau lebih buruk dari itu..😀

  2. Iwan Loe says:

    Untung diceritain ama mba ML, smoga banyak para “jajan’ers” yg bertobat yah.
    Hehehe😉 nice posting mba.
    Selamat Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s