“Lebih Enak Jadi Pelacur,” Katanya

CUMA modal “buka” dagangan saja, dapat duit banyak. Tidak perlu bersusah payah ataupun banting tulang untuk bisa mendapatkannya.

“Ya, iyalah, Mbak. Kalau lagi rame, saya bisa dapat lima juta sebulan!”
Lima juta sebulan di tahun 1995 sama dengan berapa ya sekarang? Hitung sendiri, ya!
“Kalau jadi pembantu, paling gede juga cuma nopek (dua ratus ribu, maksudnya).”
Jauh banget, ya, bedanya!
“Mana capek lagi! Nyapu, nyuci, ngepel, nyetrika… blom lagi kalau majikannya pelit dan galak. Ogah beneer!”

Pada saat itu, saya bersama beberapa orang kawan melakukan bakti sosial di daerah lokalisasi Kalijodo, Jakarta Barat, yang baru saja terkena musibah banjir. Maksud kami datang ke sana untuk memberikan bantuan yang datang dari para dermawan yang baik hati menyumbangkan makanan, pakaian, dan obat-obatan. Sama sekali tidak terpikir oleh saya bakal bisa ngobrol dengan salah seorang pelacur yang memang mangkal dan tinggal di sana.

Persis seperti apa yang diceritakan oleh Kang Karman (nama samaran), seorang kawan yang sekarang memiliki sebuah kedai kopi di kota Kembang Bandung.

“Waktu tahun 1993-an saja “bintang”-nya pelacur di Bandung bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp, 9 juta per bulan. Bisa lebih kalau dia mau.”
“Wah, tahu dari mana, Kang?”
“Saya pernah pacaran, tuh, sama salah satu bintang di sana. Hehehe…
Waduh, pantesan tahu!

“Sayangnya uang itu habis nggak keruan. Sebagian besar memang untuk menanggung biaya keluarga, tetapi sebagian lagi untuk bersenang-senang.”
Mungkin ini yang dibilang orang duit haram, ya. Besar tapi nggak jelas larinya ke mana.
“Mereka juga susah dibilanginnnya! Sudah keenakan jadi pelacur. Gampang duitnya!”

Singkat cerita, saya kemudian ngobrol dengan seorang pelacur di sana. Namanya Marni, asal dari sebuah kota di daerah Jawa Barat. Bila melihat dandanan dan caranya bergaya, tidak akan ada yang percaya bahwa dia masih berumur 14 tahun. Badannya yang terbilang cukup bongsor dengan bedak setebal 2 cm dan gincu merah menyala, saya pun mengira dia sudah berumur 21 tahun.

“Bapak yang bawa saya ke sini, Mbak!”
Tega benar, tuh bapak! “Memangnya setiap bulan kamu kirim berapa ke kampung?”
“Yah, paling sedikit 2 jutalah. Kalau kurang dari segitu nanti Bapak datang dan marah-marah lagi.”
Stress banget, nggak sih, dengernya…
“Saya pernah dipukulin Bapak gara-gara hanya bisa ngasih sejuta! Habis lagi sepi juga di sini.”
Benar-benar saya nggak habis pikir? Gila kali, tuh, Bapak, ya?
“Makanya saya takut , Mbak!”

Naluri saya pun langsung bicara. Bagaimana kalau saya angkat dia sebagai adik saja. Kebetulan saya hanya tinggal sendirian di rumah. Kalau hanya untuk biaya hidup dan sekolah, sih, ayah saya pasti tidak akan keberatan membantu. Saya juga punya penghasilan sendiri yang cukup lumayan saat itu.

“Kamu mau nggak ikut saya?”
“Ke mana, Mbak?”
“Ke rumah. Kamu temani saya tinggal di rumah. Nanti kamu bisa sekolah dan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari di sini.”
“Jadi pembantu?”
“Bukan, jadi adik saya! Selain sekolah, kamu tidak perlu mikirin makan dan tempat tinggal. Kalau kamu mau, kamu juga bisa membantu toko bunga saya.”
“Memangnya saya bisa dapat berapa sebulan? Kalau kurang dari dua juta, mendingan saya di sini saja, Mbak!”

Geram. Sedih. Marah. Jengkel. Bercampur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus bicara apa lagi, saya pun langsung pergi meninggalkan dia. Kayaknya percuma saja, ya! Tuntutan ekonomi dan rasa ketakutan yang sebegitu besarnya membuat seseorang, terutama anak, bisa membuat mereka jadi seperti itu. Kasihan!

Apa mereka nggak mikir bahwa ada masa depan yang sedang menanti? Apa mereka masih akan laku atau tidak. Apa mereka tidak terkena penyakit atau tidak. Apa mereka ingin punya keluarga atau tidak. Tidakkah mereka ingin hidup lebih bahagia nantinya? Atau memang mereka nggak mau pikirin, ya? Gimana nanti aja, kali ye!

Sekali lagi, kalau sampai terjadi seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Orang tua? Keluarga? Mucikari? Atau Pemerintah? Sepertinya semuanya salah, ya. Memangnya para pelanggan mereka juga nggak salah? Kita sebagai saudara satu bangsa dan satu tanah air juga nggak salah? Kita yang bisanya hanya mencibir dan menghina mereka, jarang ada, tuh, yang berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini. Paling-paling hanya protes, kritik dan demo doang. Demonya nggak jelas lagi apa tujuannya! Demo untuk kepentingan mereka dan kita bersama atau hanya untuk kepentingan diri sendiri dan sekelompok orang saja.

Bantu mikirin, ya! Saya sangat berharap ada di antara pembaca yang bisa membantu.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 24 September 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to “Lebih Enak Jadi Pelacur,” Katanya

  1. Bahagia Arbi says:

    Saat UU anti pelacuran dibuat, seharusnya pemerintah kita membuat lagi Undang-Undang utk menyuruh orang menghormati mantan pelacur…org hanya bisa mencibir, pd hal perempuan2 itu juga para wanita yg butuh suami.

  2. bainsaptaman says:

    sebenernya ……

    Bukan LEBIH ENAK ……..

    mungkin … SALAHKAH AKU ………… mb ML….

    Ekonomi …. emang selalu jadi alasan dan ini emang bener ….In the heart, they actually cry and hate of what they are doing …….
    Always like ur post …everywhere

  3. Lia Agustina says:

    Miris ya Mbak… 😦
    Tapi hidup memang penuh pilihan…

  4. wahh… ini yang lagi reka tangani mbak.
    mengeluarkan mereka dari lingkaran setan dan lingkaran alasan pemiskinan yang menjadikan mereka seperti itu memang sangat susah.
    karena walaupun kita sudah berupaya, tetep aja mereka balik lagi balik lagi kayak gitu.
    biasanya kalau orang tuanya yang menjual mereka. kalau udah dimasukin ke panti rehabilitasi sosial atau rumah perlindungan dan mereka udah dapet penyuluan, kemudian dikembalikan ke rumahnya lagi, biasanya sangat besar kemungkinan untuk mereka kembali lagi melacurkan diri.
    dikembalikan lagi biasanya karena mereka yang meminta, sedangkan kami pekerja sosial tidak bisa memaksa mereka untuk harus pulang kemana2 nya.
    kemudian, masih banyaknya faktor permintaan dan penawaran, terus sindikat2 yang masih banyak berkeliaran.
    lagi2 pasti semuanya soal permasalahan ekonomi dan sampai kapanpun alasan standar itu yang biasanya jadi pemicu mereka untuk kembali lagi ke lingkaran setan.

  5. Fajar says:

    JCC = Jangan Cuma Comment

    let’s do it….

    kita bisa selamatkan generasi Indonesia agar jadi lebih BAIK…..

  6. pryatin says:

    yah aku ga bisa berkta apah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s