Colak Colek?! Please, Deh, Ah!

JANGAN coba-coba mengganggu kalau tidak mau kena tinju. Jangan colek-colek kalau nggak mau ditendang! Hancur baru tahu rasa!

Salah seorang adik saya pergi berangkat ke Jakarta dari Bandung menggunakan kereta api. Di dalam kereta berkenalan dengan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Cerita punya cerita, ternyata tujuan mereka searah. Mereka pun kemudian memutuskan untuk naik taksi bareng setibanya mereka di sana. Biar irit ongkos, pikir adik saya. Maklumlah, waktu itu dia statusnya masih mahasiswa.

Setelah beberapa waktu di dalam taksi, tanduk pria itu pun keluar. Dia mulai meraba-raba paha adik saya. Spontan dia langsung bereaksi. Sopir taksi diminta menghentikan kendaraannya. Dia pun menghajar pria itu habis-habisan. Mana adik saya itu tinggi besar, mantan pemain American Football dan gulat lagi! Eh, ditambah lagi dengan tendangan pak sopir taksi. Habis, deh! Babak belur!

Bandingkan dengan cerita ketika saya masih kuliah di kampus Grogol dulu. Seorang mahasiswa dari Fakultas lain mencolek saya. Saya marah, dan langsung menampar, menendang, dan meninjunya sampai dia pun tergeletak di atas lantai.

“Mau kamu bilang saya perek, kek, pelacur, kek, apa, kek, terserah! Tapi jangan pernah nyentuh saya sedikit pun!”

Belum puas. Saya pun melambai-lambaikan tangan ke arah “penonton”, sambil teriak-teriak, “Maling…. Maling….!!!!” Kebayang, kan, apa yang terjadi selanjutnya.

Jahat! Iya! Tapi itu reaksi spontan! Siapa suruh dia kurang ajar?!

Apa ada perbedaan antara kedua cerita di atas? Tentunya selain yang satu gara-gara gay nggak tahu diri dan satu lagi karena pria nggak punya nyali.

Banyak pria yang jengkel dengan kelakuan kaum gay ataupun transeksual yang berbuat tidak “pantas” kepada mereka. Sayangnya, banyak pria yang tidak sadar kalau mereka juga sering membuat jengkel kaum perempuan bila mereka melakukan hal yang sama terhadap perempuan. Malah ada satu orang pria yang benar-benar keterlaluan, menurut saya.

“Kalau itu, kan masih normal! Kalau gay, sih…. Iiihhhhh!!!!”
Oh, normal ya? Colek-colek perempuan dibilang normal?
“Jijik lagi! Kalau kamu dicolek pria, kan, masih bisa menikmati! Anggap saja itu pujian!”
Menikmati??? Pujian???
“Aah… awalnya doang sebel, tapi kalau lama-lama juga suka! Iya,kan?”
Sumpah! Jengkel banget!

Sejak saat itu saya tidak pernah bisa menerimanya sebagai teman lagi. Yah, ala kadarnya saja. Cukup kenal. Ngobrol? Ogah banget!

Ini bukan masalah perbedaan jenis kelamin atau perbedaan pilihan hidup. Murni karena rasa saling hormat-menghormati yang seharusnya benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin dihormati, kita juga harus terlebih dahulu menghormati orang lain. Sebuah resep jitu turunan dari nenek moyang yang harus terus kita lestarikan.

So, please, deh, ah! Tahu diri sedikit kenapa?!

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 02 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Colak Colek?! Please, Deh, Ah!

  1. Dodi says:

    Jadi yang bisa dicolek cuma sabun colek doank donk mba ? hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s