“Mbak, Saya Mau Bunuh Diri. Apa yang Harus Saya Lakukan?”

LHO, kok, aneh! Mau bunuh diri tapi nanya apa yang harus dilakukannya. Minum Baygon, loncat dari jembatan, potong nadi, kan, bisa?!

Itu isi dari sebuah email yang masuk ke tempat saya. Datangnya dari seorang pria berusia 23 tahun, mengaku tinggal di daerah Kelapa Gading Jakarta, berinisial J.

Pasti ada yang salah dari orang ini, pikir saya. Saya pun segera membalas emailnya sembari mencantumkan alamat YM saya, dan memintanya untuk sesegera mungkin bicara dengan saya. Bukannya mau jadi malaikat penolong, bukan juga jadi setan pembantu, tapi saya ingin tahu saja apa motivasi dia menulis email tersebut.

Saya masih ingat waktu itu sekitar pukul delapan malam ketika tiba-tiba ada yang minta di-add. “Nah, ini dia!”  saya pun segera meresponnya. Benar saja, dia langsung bilang, “Mbak, ini saya, J. Yang tadi mengirim email ke tempat Mbak.”

Singkat cerita, dia ternyata sedang patah hati. Pacarnya kabur dengan pria lain. Dia tidak bisa menerimanya. Alasannya, dia merasa bahwa perempuan itu hanya pantas menjadi istrinya, bukan dengan pria lain. Hanya dialah pria paling layak di dunia ini untuk menjadi suami perempuan itu. Benar-benar aneh ini orang!

Apa yang membuat dia bisa berpikir bahwa hanya dia yang paling layak menjadi suami seorang perempuan yang jelas-jelas meninggalkannya? Kalau memang yakin, kenapa harus dia yang bunuh diri? Apa ada orang yang dibilang layak jadi suami bila hanya gara-gara patah hati doang mau bunuh diri? Terbalik, deh, ah!

Berjam-jam kami chat. Sampai jam empat pagi! Dari yang awalnya keukeuh sumeukeuh (keras hati) mau bunuh diri, sampai akhirnya dia bilang sendiri, “Rugi amat perempuan itu, ya, tidak memiliki saya sebagai suami. Belum tentu pria itu bisa memberikan yang lebih baik dari saya.”

Lega hati saya karena pada akhirnya dia sadar bahwa bunuh diri bukanlah solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah, walaupun dari awal saya sudah yakin bahwa orang ini hanya gertak sambel doang alias cuma asal ngomong, tidak benar-benar niat bunuh diri. Mana ada, sih, orang mau bunuh diri bilang ke sana ke mari. Pakai tanya pula apa yang harus dilakukannya. Dia hanya butuh teman untuk curhat saja. Mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hati dan pikirannya. Selesai.

Dua minggu kemudian, muncullah si J ini lagi saat saya sedang on-line. Saya pun segera meresponnya kembali. Tadinya saya pikir dia hanya sekedar ingin say hello atau paling tidak curhat lagi, tetapi ternyata dia langsung bilang, “Mbak, saya mau potong penis saya ini. Pisau sudah di tangan saya. Apa saya bisa mati kalau penis saya dipotong?”  Gila, nih, orang! Benar-benar gila!

“Kalau kamu mau potong, potong saja! Mati, sih, nggak! Tapi kamu bakal menyesal seumur hidup!”

“Saya tidak akan pernah menyesal, Mbak! Barang saya ini hanya untuk dia! Hanya dia yang berhak menikmatinya. Sekarang dia sudah tidak ada lagi. Buat apa saya menyimpannya???”

“Silahkan! Itu haknya kamu, kok, untuk menentukan siapa yang boleh menikmati, siapa yang tidak. Barang-barang kamu! Tapi apa kamu juga tidak mau menikmatinya?”

“Maksud, Mbak?”

Saya pun kemudian menceritakan apa yang bisa dinikmati dari “barang”-nya itu. Dinikmati dia, maksudnya!

Akhirnya, dia pun mengalah dan berjanji untuk berpikir ulang atas pemikiran dia sebelumnya. Saya juga meminta dia untuk segera menemui seorang psikolog, yang kebetulan tante saya sendiri, agar bisa mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Dia pun setuju.

Itu adalah chat saya dan dia yang terakhir kalinya. Tidak ada juga email yang dikirimnya lagi. Saya tanya tante apakah J sudah datang atau belum, tetapi tante saya bilang tidak pernah. Pernah saya coba mengirimkan email, tapi dia tidak pernah membalas juga. Saya tidak tahu bagimana kemudian dia. Yang tidak saya habis pikir adalah kenapa orang ini meminta bantuan bila dia tidak mau dibantu. Hanya orang sakit jiwa saja yang bisa berbuat demikian. Manusia normal seharusnya dengan senang hati dibantu. Manusia normal juga yang selalu berkeinginan untuk bisa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik. Toh, demi kebaikan dirinya sendiri. Bukan untuk saya ataupun untuk orang lain. Mudah-mudahan saya tidak harus berhubungan dengan orang seperti itu lagi. Jujur saja, takut!!!

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 25 September 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s