Seks Sebagai Senjata

Illustrasi: blogs.app.com

Saya sebetulnya kurang suka dengan kata senjata. Memberikan konotasi negatif yang bisa disamakan dengan kekerasan, tapi memang begitulah pada kenyataannya. Seks memang senjata yang sangat ampuh untuk merayu, menggoda, memaksa, dan bahkan membunuh.

Seks yang digunakan sebagai senjata bekerja dengan sangat halus dan sulit untuk diketahui, terutama bila kita mengabaikan arti seks yang sesungguhnya. Apalagi bila hanya berkutat pada masalah hubungan seksual semata saja.

Sudah sejak lama seks digunakan sebagai senjata. Sering dengar, kan, cerita dan kisah tentang bagaimana seorang puteri cantik belia yang dinikahkan dengan pangeran ataupun raja dari negeri seberang?! Daya tarik seksual dan juga permainan seks yang digunakan adalah senjata dalam taktik untuk mendapatkan apa yang dianggap sebagai “persahabatan dan perdamaian” dan sangat mungkin untuk mendapatkan kekuasaan.

Seks memang sering dijadikan senjata dalam sebuah peperangan. Baik itu hanya seputar persaingan ataupun di dalam hal yang sifatnya lebih prinsip juga ideologi. Ujung-ujungnya tidak lain adalah kemenangan dan juga kekuasaan. Sudah banyak juga yang berhasil. Jarang yang gagal. Ini menurut pendapat saya, ya.

Kita ambil contoh saja rayuan dan godaan yang dilakukan oleh para “Politikus Seks” yang memanfaatkan “Sensualitas Politik”. Di mana mereka menggunakan daya tarik seksual mereka untuk mendapatkan kemenangan dalam pemilihan umum. Ini bukan sesuatu yang salah bila dilakukan oleh mereka. Namanya juga usaha. Yang harus kemudian dipikirkan adalah kenapa mau terkena rayuan dan godaan mereka?! Ampuh, ya, senjatanya. Bila mereka kemudian terpilih, siapa yang sebenarnya juga patut dipertanyakan?!

Seks sebagai senjata juga digunakan untuk memaksa. Kita bisa melihat kasus yang terjadi pada perang di Bosnia dan juga saat perang antara Suku Tutsi dan Hutu. Pemerkosaan yang terjadi pada saat perang itu bukanlah sebuah kebetulan, tetapi memang merupakan sebuah strategi di dalam berperang. Menjatuhkan mental lawan yang lainnya dengan cara memberikan teror yang sangat mengerikan. Siapa yang tidak takut diperkosa?! Masih ingat kasus yang terjadi di negara kita pada kerusuhan Mei tahun 1998?! Kebenaran atas pemerkosaan itu memang masih banyak yang mempertanyakan, tetapi dengan mendengarnya saja sudah merinding, kan?!

Ini bukan hal yang aneh untuk dilakukan dalam peperangan. Sudah sangat biasa. Bisa dibilang jahat dan kejam, tapi memang perang itu demikian, kan?! Apa ada perang yang menyenangkan?! Ada, sih, perang di atas tempat tidur dengan yang tercinta. Hehehe

Yang paling kejam diatara penggunaan seks sebagai senjata adalah untuk membunuh. Bukan dalam arti kata kemudian menghilangkan nyawa orang dengan menggunakan seks namun membunuh manusia secara perlahan dengan membuatnya menjadi tidak manusia. Secara tidak sadar dan perlahan dibuat lupa bagaimana manusia seharusnya.

Saya pernah membahas tentang “Membunuh Hasrat Seksual” sebelumnya. Di mana dengan membunuh hasrat seksual sama saja dengan membunuh karakter dan pribadi seseorang. Begitu juga dengan yang pernah saya tuliskan dalam Konspirasi Seks dan Politik Ala ML . juga “Dan” Antara Seks Politik ala ML. Membunuh kebenaran dan memutarbalikkannya dengan pembenaran sehingga membuat semuanya menjadi berantakan. Seperti yang sekarang ini sedang terjadi di negara kita. Sudah berapa banyak yang menjadi korban?! Kita semua adalah korbannya bukan?!

Dalam hal digunakan untuk membunuh, seks sangatlah luar biasa hebatnya. Jangan pernah lupa, ya, bagaimana satu suku di Amerika Selatan bisa sampai habis oleh senjata yang bernama seks. Ini menjadi sangat penting, terutama mungkin bagi saya pribadi, karena saya menginginkan negara ini bisa terus dapat bertahan dan tidak pernah hilang oleh dan dengan apapun juga.

Mungkin ada yang berpikir bahwa, kita berbeda karena kita bukan hanya satu suku. Kita adalah negara yang besar dan memiliki jumlah penduduk yang banyak serta berbagai macam suku yang beragam. Namun di mata saya, justru inilah yang paling memudahkan semuanya menjadi sebuah kehancuran. Seks telah digunakan sebagai senjata namun berapa banyak yang menyadarinya?! Berapa banyak juga yang tahu namun tidak mau mengakuinya?! Tulisan saya tentang poligami mungkin bisa dijadikan salah satu contoh penggambarannya.

Kita juga tidak perlu jauh-jauh untuk melihat bagaimana seks masih sangat dilecehkan dan disepelekan. Di Kompasiana ini sajalah. Sering saya melihat dan juga merasakan bagaimana masih saja nilai atas diri menjadi sebuah hal yang sangat penting dengan kemudian menudingkan jari kepada yang lain yang dianggap tidak sama, berbeda, dan bahkan menjerumuskan. Apalagi untuk urusan seks, ya. Tidak bisa saya salahkan juga, karena memang semua ini adalah akibat dari apa yang sebelumnya dilakukan. Karena kini adalah yang lalu juga. Sekarang kita harus memikirkan apa yang kini untuk nanti. “Seks dan Masa Depan” juga bagaimana menjabarkan “Seks dan Masa Depan (sebuah masukan)” itu sendiri.

Sama juga halnya dengan yang mengatasnamakan kebebasan dan kemudian menjadikan seks sebagai bulan-bulanan dan juga cenderung melecehkan. Saya juga tidak bisa menyalahkan karena ini adalah akibat kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang seks yang sebenarnya. Secara tidak sadar justru telah menjerumuskan diri sendiri dan juga dengan yang lain dengan telah dimanfaatkan oleh para pengguna senjata seks itu sendiri.

Janganlah kita melihat seks dalam sebuah pandangan dan pemikiran yang sempit. Seks bukanlah sesuatu yang sepele ataupun patut diremehkan. Seks adalah sumber kekuatan yang sangat luar biasa. Seks bisa menjadi apa saja dan bisa menghasilkan apa saja karena seks tidak akan pernah lepas dari kehidupan kita sebagai manusia dan juga makhluk hidup. Seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri.

Marilah kita semua merenungkan kembali siapa dan apa diri kita yang sebenarnya. Kenalilah diri sendiri dan selalulah jujur terhadap diri kita sendiri. Jangan pernah menjadi yang lain tetapi jadilah diri sendiri. Hanya dengan ini seks yang digunakan sebagai senjata bisa dilumpuhkan.

Semoga bermanfaat!!!

Salam,

Mariska Lubis

5 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Jiwa Merdeka, Perubahan, Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Seks Sebagai Senjata

  1. Iya…coba lihat Cleopatra yang berhasil menaklukanJulius Caesar dan Octavianus agar tetap mempertahankan tahta dan menjaga negaranya tetap aman…clever…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s