Membayangkan Bagaimana Hidup Tanpa Seks

Waduh!!! Belum apa-apa saja saya sudah sakit kepala duluan. Bagaimana mungkin saya bisa hidup tanpa seks. Bisa langsung kurus dan kering kerontang. Apa enaknya hidup tanpa seks?! Lagipula, apa mungkin hidup tanpa seks?!

Saya mendapatkan inspirasi untuk membuat tulisan ini dari pertanyaan seseorang, “Mbak ML, kenapa, sih nulisnya tentang seks melulu?! Apa nggak bisa nulis yang lain?! Apa Mbak sudah ketergantungan seks?! Apa nggak bisa hidup kalau nggak ngeseks?!”.

Entah kenapa, setelah dia bertanya, saya kemudian jadi langsung membayangkan hidup tanpa seks. Membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa seks. Membayangkan juga apa yang akan terjadi bila harus hidup tanpa seks.

Saya mempersempit seks yang dimaksud menjadi hanya seputar selangkangan saja. Kenapa?! Karena dari pertanyaan yang saya tangkap, seks yang dimaksud olehnya adalah memang seputar selangkangan saja, di mana memang pada umumnya adalah demikian adanya. Persepsi tentang seks tidak jauh dari seonggok daging di belahan paha.

Saya memulainya dengan membayangkan bila kelamin ini tidak ada. Berarti semuanya sama. Tidak ada perempuan ataupun pria. Semuanya sama. Bagaimana, ya jadinya?! Bagaimana kemudian manusia bisa memiliki keturunan?! Bagaimana juga bisa meneruskan kelangsungan hidup manusia?! Apa harus jumlahnya terbatas?! Kalau memang dibatasi dari dan dengan hanya penciptaan pertama, berarti hanya ada Adam dan Hawa saja. Lantas, bila memang Adam dan Hawa harus juga tidak ada perbedaan kelamin, kepada siapa kita bisa menyuruhnya?! Apakah bisa kita menyuruh Sang Pencipta?! Siapakah kita?!

Oke, baiklah, itu tidak mungkin ya. Berarti memang harus ada perempuan dan pria, di mana jenis kelaminnya berbeda. Dengan demikian kelamin itu juga ada. Bila kelamin ini tidak dipergunakan untuk melakukan hubungan seksual, lalu tetap, kembali lagi, dari mana kita bisa mendapatkan keturunan?! Apa ada cara lain untuk mendapatkannya?! Dengan cloning barangkali, ya?! Tapi, ngeri amat kalau semuanya sama?! Lagipula, sejak kapan cloning ini harus dimulai?! Siapa yang melakukannya?! Kembali lagi ke manusia pertama di bumi ini, apakah mungkin mereka melakukannya sendiri?! Mungkin saja, bila memang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Apakah mau diberikan? Itu pertanyaannya!!!

Satu lagi, ya. Bagaimana bila kelamin hanya digunakan untuk memperoleh keturunan?! Ini berarti kelamin hanya digunakan pada saat reproduksi saja. Pertanyaannya, kapan kita bisa tahu kalau kelamin itu bisa digunakan hanya pada saat reproduksi?! Apakah harus ada alarm khusus dalam tubuh manusia yang memberitahukan bahwa “inilah waktunya bereproduksi”. Begitukah?! Sudah seperti mesin saja, dong!!! Lalu, harus dibuang ke mana rasa, hati, dan juga cinta?! Haruskah dihilangkan begitu saja?! Kalau memang harus dihilangkan, lalu apa yang membedakan kita dengan benda mati?! Sama saja, kan?! Hanya bedanya bisa bernafas, bergerak, dan tumbuh saja. Robot juga bisa dibuat begitu. Apa Yang Maha Besar memang menciptakan robot?!

Membayangkan hidup tanpa seks selalu membawa saya kepada Yang Maha Kuasa. Ujung-ujungnya selalu berakhir di sana. Entahlah, apa memang ini kebetulan atau memang karena pikiran dan perasaan saya saja. Seks bagi saya memang merupakan titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri, di mana memang pada ujungnya adalah Sang Pencipta. Saya pernah cerita juga, kan, kalau saya memang menemukan Tuhan lewat seks?

Saya bisa memaklumi bila sebagian ada yang menganggap bahwa ini sangatlah menyesatkan. Namun bagi saya, ini adalah salah satu cara bagi saya untuk mendekatkan diri saya kepada yang telah menciptakan saya. Di mana saya memang merasa menjadi lebih dekat dan kenal dengan-Nya. Apa ini tidak boleh?! Kenapa tidak boleh?! Siapa yang boleh melarang setiap makhluk di dunia ini untuk menjadi dekat dengan-Nya?! Bukankah memang kita harus selalu dekat dengan-Nya?! Dengan cara masing-masing tentunya. Toh, kita semua juga sepakat bahwa hubungan kita dengan Dia adalah hubungan yang vertikal dan langsung.

Oleh karena itu juga, saya tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya seks. Seks bagi saya bukan hanya seputar selangkangan saja. Seks bukanlah hanya sekedar seonggok daging di belahan paha. Seks itu apa? Seks adalah sebuah anugerah yang sungguh sangat luar biasa yang diberikan oleh-Nya, yang patut dihargai dan dihormati. Dijadikan sebagai sesuatu yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan juga seluruh ciptaan-Nya. Semua tergantung bagaimana kemudian kita memikirkannya. Bagaimana seks yang benar?! Bagaimana juga melakukan seks yang benar?!

Semuanya tidak mungkin bisa dilakukan bila kita tidak mau memulainya dengan berpikir yang benar tentang seks itu sendiri. Saya pun ingin mengajak semua untuk sama-sama memikirkannya. Berpikir tentang seks yang benar dan bagaimana melakukan seks yang benar. Tidak melecehkan atau merendahkannya. Darimana saya bisa mengajaknya?! Tulisan adalah salah satu sarana yang saya gunakan. Makanya saya tidak akan pernah berhenti menulis tentang yang satu ini dan semua ini sudah seperti candu untuk saya. Saya sangat ketergantungan terhadap seks, dan memang kita semua demikian bukan?! Masa depan kita semua juga sangat tergantung bagaimana kita memikirkan dan melakukan seks yang benar. Bukankah begitu?!

Bila kemudian saya harus menjadi mati karena saya tidak bisa nge-seks, tidak juga menjadi masalah. Soalnya, ini berarti juga saya memang tidak pernah ada. Begitu juga dengan yang lainnya. Bukan hanya manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan. Semuanya menjadi tidak ada. Kalau memang semua tidak ada, untuk apa juga saya hidup?! Bagaimana juga saya bisa hidup?!

Yah, ini adalah jawaban dari saya. Saya memang tidak bisa membayangkan lebih lanjut lagi bagaimana bila hidup tanpa seks. Saya juga tidak mungkin bisa lepas dari seks. Sekali lagi, seks bagi saya bukan hanya sekedar selangkangan ataupun hanya seonggok daging di belahan paha. Silahkan bila memang mau berpikir hanya seputar itu saja, namun bagi saya, SEKS ADALAH TITIK AWAL KEHIDUPAN DAN KEHIDUPAN ITU SENDIRI.

Tentunya ini semua bukanlah sebuah keyakinan, tetapi hanya sekedar pemikiran dan perasaan saya yang terbatas ini saja. Semoga bisa dipahami, dimengerti, dan juga dimaklumi. Bisa juga menjadi sebuah jawaban yang memuaskan. Semoga, ya!!!

Salam,

Mariska Lubis

Catatan:

Terima kasih telah bertanya, ya?! Saya menanggapnya sebagai sebuah kesempatan bagi saya untuk kembali berpikir dan mencari tahu. Terima kasih.

27 April 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Membayangkan Bagaimana Hidup Tanpa Seks

  1. Inspiring dan mencerahkan…
    Hidup sex, hebat ML…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s