Engkaulah Segalanya Sayang!

KUBERIKAN semuanya. Jiwaku. Ragaku. Bahkan nyawakupun aku rela. Hanya untukmu tersayang.

“Bang, kenapa foto yang ditaruh bukan yang pakai seragam saja?”

“Memangnya kenapa?”

“Man in uniform, hmmm… seksi!”

“Nggak, ah!”

“Kenapa memangnya, Bang? Katanya lagi nyari jodoh?”

“Malu!”

“Lho, kok, malu! Bukannya keren!”

“Justru takut dianggap nggak penting.”

“Oh, ya?!”

Sepenggal percakapanku dengan seorang mantan pilot yang sekarang bekerja sebagai pegawai administrasi di Angkatan Udara Negara Republik Indonesia. Terus terang saja, saya kaget dan sedih mendengarnya.

“Sekarang perempuan mana, sih, yang mau sama pria bergaji rendahan seperti saya? Apalagi kalau mereka tahu kalau saya hanya prajurit biasa. Pegawai administrasi pula! Apa masih ada perempuan sekarang yang mau dan bisa berbangga hati menjadi anggota ibu-ibu Kartika Eka Paksi?”

Sebegitu negatifnyakah pikiran si Abang yang satu ini? Kasihan sekali! Pantas saja sampai sekarang belum dapat jodoh juga! Patut diakui kalau di zaman seperti sekarang ini, banyak yang menganggap bahwa ekonomi dan keuangan menjadi salah satu ukuran “layak” tidaknya seorang pria untuk dijadikan suami. Tak sedikit juga yang kebablasan, seperti yang kita sebut sebagai cewek-cewek matre itu. Tetapi jangan suka menyamaratakan begitu, dong! (Sedikit tersinggung, nih, ceritanya!)

Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih mementingkan dan mengagung-agungkan cinta. Mengorbankan segalanya demi cinta. Kasarnya, makan, deh, tuh, cinta!

Contohnya adalah Cynthia. Sahabat saya yang paling dekat sejak masih kecil. Sebagai seorang perempuan indo, wajahnya yang cantik, tubuhnya yang tinggi semampai, kulitnya yang putih, dan rambutnya yang cokelat dan tebal itu, menarik hati banyak kaum pria. Mulai dari orang asing, indo, Sunda, Jawa, Batak, banyak yang tergila-gila dengannya. Berduit pula! Paling tidak ada harapan untuk menjadi berduitlah! Entah karena orang tuanya tajir suwir-suwir atau mengenyam pendidikan di sekolah bergengsi. Tetapi semua pria itu tidak ada yang “nyangkut”, tuh!

Dia lebih memilih untuk menikah dengan seorang pria turunan Solo yang sangat sederhana, tidak bergelar, dan wajahnya pun biasa banget. Malah sebagian teman-teman saya mengira kalau dia itu preman pasar. Gondrong, hitam, jago berantem, cuek habis, dan amat sangat suka nyeleneh. Nggak banget, deh, pokoknya!

Pertentangan demi pertentangan, duka dan derita, sedih dan nestapa harus mereka jalani bersama. Jangankan teman, orang tua mereka pun sangat menentang hubungan dua sejoli ini. Back Street, judulnya. Bahkan Mario, sang suami, pernah sampai harus mendekam di penjara segala gara-gara dituduh melarikan anak orang. Mereka juga masih harus menunggu anak kedua buah cinta perkawinan mereka besar dulu, baru bisa diterima oleh keluarga Cynthia. Persis, deh, kaya film-filmnya Rano Karno dan Yessy Gusman! Cuma yang ini buntuntya happy ending, dong!

“Mario pria yang sangat bertanggung jawab. Dia sangat berani dan benar-benar punya nyali. Manly! Macho! Dia membuat saya merasa nyaman dan tenang. Dia juga membuat saya merasa sangat dicintai dan dihargai. Dia memang bukan siapa-siapa di mata orang, tetapi dia adalah hidup saya. Belahan jiwa saya. Dia memberikan segalanya untuk saya. Dia mengorbankan hidupnya untuk saya dan anak-anak kami.” Waduh!

Sesak rasanya dada ini mendengar alasan Cynthia memilih Mario sebagai pasangan hidupnya. Romantis, banget, nggak, sih?! Abang sayang, cobalah untuk menjadi orang yang postitif. Janganlah menilai segala sesuatunya hanya dari kebiasaan dan pandangan umum semata. Masih ada cinta murni yang tulus dan bersih di luar sana. Memang tidak mudah, tetapi ada, Bang! Banyak, Bang! Apalagi yang bisa ikutan pakai seragam.  Wah segudang, Bang! Berbanggalah hati. Jadilah diri Abang yang seutuhnya. Mengabdikan diri kepada nusa dan bangsa adalah bukti bahwa Abang memiliki jiwa seorang patriot sejati, yang bukan hanya bisa memberikan segalanya bagi negara, tetapi juga bagi keluarga dan orang-orang tercinta.

“Bang, mulai besok, fotonya ganti yang pakai seragam, ya!!!”

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 04 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Engkaulah Segalanya Sayang!

  1. wongbulu says:

    Maztab blog.., klise.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s