Perawan Oh Perawan

DIJAGA atau dibuang-buang. Disimpan atau dijual. Dihormati atau disia-siakan. Atau… hmmm… dinikmati? Perawan!!! Nasibmu Nduk…, Nduk!!!

“Kak, banyak sekali jerawat kakak?”
“Iya, dong! Tandanya banyak pacar itu!”
“Yang betul, kak?”
“He-eh!”
“Waaahhhhhh!!! Kakak hebat!”
“Hitung saja ada berapa?”
“Satu…. Dua…, Tiga…, Empat….”
Teruussss….

Berbinar-binar wajah salah satu adik saya tercinta yang saat itu masih berumur sekitar sepuluh tahun. Mungkin dia pikir, kakaknya ini, hebat banget kali, ya! Bisa punya banyak pacar gitu, lho! Pasti keren!!! Populer!!! Hebat!!! Senyum menghias bibirnya sepanjang hari dan saya yakin dia cerita banyak ke teman-teman di sekolahnya, “Eh, kakak saya pacarnya banyak, dong!” Hehehe…. Mau saja dikibuli.

Beberapa hari kemudian.

“Kak, are you still a virgin?”
Whaaattttt???!!!! Ya, iyalah!!!”
Really?”
Definitely!!!”

Wajahnya kali ini tampak terkejut sekaligus sedih.

Then…, you are not as cool as I thought….

Ya, ampun!!! Bisa-bisanya dia berpikir begitu???!!!

Mungkin wajar kalau dipikir-pikir lagi sekarang. Waktu itu dia masih kecil dan tinggal di salah satu kota di Amerika Serikat. Di sana masih banyak yang berpikir bahwa seorang perempuan yang sudah menginjak usia remaja, tidak keren alias memalukan, bila masih perawan. Wong, anak umur 13 tahun saja banyak yang sudah tidak perawan lagi. Masa ini sudah umur 15 tahun masih perawan juga?! Gitu kali mikirnya, ya?

Itu dulu. Sekitar tahun 80-an. Sekarang sudah berbeda. Banyak perempuan di sana yang sudah menyadari arti pentingnya sebuah keperawanan. Bukan dari segi agama tetapi lebih kepada segi medis dan psikologisnya. Sudah seperti trend di mana keperawanan menjadi simbol kekuatan seorang perempuan untuk menjadi seseorang yang memiliki pendirian, pintar, dan hebat. Gara-gara film “Beverly Hills 90210”!!! Barangkali??!!! Baguslah!

Lain padang lain belalang. Di Indonesia lain lagi ceritanya. Keperawanan sudah seperti sebuah keharusan. Lumayan mahal pula harganya! Mulai dari Rp. 250 ribu sampai ratusan juga rupiah. Kalau nggak percaya, tanya saja sama mereka-mereka yang menjual keperawanan anak gadisnya demi segepok uang Atau tanya kepada mereka yang suka membeli keperawanan para gadis polos muda belia. Ya, orang-orang tak punya hati itu!!!

Bahkan tak jarang juga pria menceraikan istri yang baru dinikahinya, bila menurutnya sudah tidak perawan lagi di malam pertama. Seperti kasusnya almarhum penyanyi bertubuh montok yang sempat heboh karena menceraikan istri keempatnya hanya gara-gara dituduh sudah tidak perawan lagi. Pathetic!!! Menyedihkan!!! Picik!!! Egois!!! Ya, Tuhan… kasihanilah dia! Maafkanlah dia!

Saya tidak menyarankan perempuan untuk tidak menjaga keperawanannya, tetapi mbok, ya, kelewatan benar?! Sampai sebegitu hinanyakah perempuan yang sudah tidak perawan? Kesalahan bisa saja terjadi. Kecelakaan mungkin saja dialami. Apakah tidak ada cinta dan rasa penerimaan yang sesungguhnya dan setulus-tulusnya dalam sebuah perkawinan? Lagipula apa bedanya dengan pria yang sudah tidak perawan? Kenapa kalau perempuan dianggap hina sedangkan pria dianggap biasa? Toh, sama-sama sudah tidak perawan?! Chauvinis buanget, sih!!!!!!!

Pembenaran selalu ada di mana-mana. Agama. Moral. Status. Padahal kalau kita pelajari lebih jauh lagi, mau dari sisi pandang mana pun juga, tidak pernah ada satu pun yang mengajarkan bahwa perempuan boleh dihina hanya karena sudah tidak perawan lagi. Hanya manusia picik saja yang kemudian menjadikan ini sebagai alasan.

Janganlah kita menjadi manusia berpikiran secetek itu! Bukalah hati dan pikiran kita seluas-luasnya. Berusaha keraslah untuk menjadi manusia yang positif. Ujung-ujung dari masalah ini, kan, adalah sebuah perkawinan. Di mana harus ada rasa cinta, ketulusan, keikhlasan, dan penerimaan yang mendalam atas setiap pribadi yang kita jadikan suami atau istri. Kalau nggak, buat apa juga kawin?!

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 08 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Fakta & Kenyataan, Perubahan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Perawan Oh Perawan

  1. jack says:

    saya juga tidak setuju kalau ada yang menghina perempuan karena sudah tidak perawan. Namun menurut saya mbak, agama apapun melarang pemeluknya untuk berzina, dan melepas keperawanan/keperjakaan pada yang bukan suami/istrinya itu juga berzina.
    Karena pergaulan bebas sekarang ini, keperawanan tidak begitu dihargai, malah banyak perempuan yang (maaf) tidak perawan balik nantang, “emang laki-laki masih perjaka?”
    Saya yakin sekali, laki-laki yang belum pernah melepas keperjakaannya akan sulit menerima perempuan yang tidak perawan, begitu juga sebaliknya. Lalu darimana dia tahu pasangannya sudah tidak perawan atau perjaka lagi? Laki-laki atau perempuan yang baik, dia akan berani bercerita tentang aibnya itu kepada pasangan yang akan siap menikahinya, dan siap menerima resiko dari keterusterangannya itu. Diterima atau ditolak.
    Kasus kayak gini pernah dialami teman saya, ketika dia mencari jodoh, dia berkenalan dengan seorang perempuan dan ketika ingin ke tahap yang lebih serius (berencana menikah) lalu dia mempertanyakan hal itu? Perempuan itu dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak perawan lagi karena saat sekolah dulu, ia pernah melakukan hal itu dengan pacarnya. Teman saya pun akhirnya tidak melanjutkan hubungan itu. Teman saya bilang kepada saya, memegang tangan perempuan saja saya tidak pernah, saya hanya ingin mendapatkan pasangan yang seperti saya, yang tidak pernah disentuh oleh laki-laki lain. Saya yakin karena teman saya ini memang tidak pernah pacaran.

    laki-laki yg baik tidak akan menghina perempuan yang sudah tidak perawan, begitu juga sebaliknya. Jika salah satunya menolak dengan cara yang baik, menurut saya itu bukan penghinaan, itu hak orang untuk memilih kan mbak…

  2. bilikml says:

    hmmm… sungguh sangat menyedihkan bila fisik itu mengalahkan rasa yang ada di dalam hati… itulah yang sebenarnya ingin saya ungkapkan… bahwa kenapa status keperawanan dalam bentuk fisik yang dipertanyakan… bukan memaknai perawan itu sebagai kesucian hati… itu yang lebih sulit bukan?!

    penyesalan selalu datang belakangan dan terkadang juga kita manusia suka lupa bahwa anugerah cinta itulah yang sebenarnya membuat kita menjadi manusia… sementara fisik itu hanyalah sementara…

  3. nons says:

    Menurut saya yang salah di sini memang kita terlalu mengagung2kan keperawanan sedangkan kita tidak memahami kepada siapa hendaknya kita menyerahkan keperawanan kita. Kita hanya diberi tahu oleh yang sebagian orang bilang ‘moral/agama’ bahwa keperawanan/keperjakaan diberikan kepada suami/istri sah kita. Tapi apakah kita mencintai seseorang yang menjadi suami/istri kita? Apakah kita sungguh2 ingin menikah karena cinta kepada orang tersebut? Atau hanya karena udah supaya ada tempat penyaluran hasrat sex yang sah?? (Dalam hal ini suami/istri). Harusnya kita memberikan pengetahuan tentang safe sex and cinta. Bukan tentang menahan nafsu saja. Makanya banyak yang menikah muda atau melakukan sex bebas tanpa tahu akibat nya yang justru jadi lebih fatal. Kita harus juga bisa menerima kenyataan di sekitar kita yang sekarang sudah banyak sex bebas tapi banyak orang2 yang masih menutup mata terhadap hal ini. Alias munafik.

  4. Pingback: Masih Perawan, Tapi…. | Bilik ML

  5. apakah masih bisa dibilang perawan walau cuma ML satu kali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s