Perempuan Usia 35 Tahun Ke Atas Tak Lagi Menggairahkan? Ah, Masa?!

Mariska - More

The "More" Sexy The Marrier Your Life... Long Lasting Love For Lust😉

“Usia saya sudah 36 tahun tapi masih merasa seksi saja, tuh!!! Yakin saja!!! Hahaha….”

Perempuan memang seringkali takut menjadi tua dan bahkan sudah seperti momok di dalam persepsi dan pandangan bahwa semakin tua semakin tidak menarik. Apalagi pria pun memang pada fakta dan kenyataannya banyak yang lebih suka dengan “daun muda”. Sehingga kemudian, perempuan yang sudah berusia di atas 35 tahun banyak yang merasa tidak menggairahkan lagi, padahal inilah yang membuat mereka menjadi tidak menggairahkan lagi. Iya, kan?!

Di dalam sebuah Talk Show yang diadakan oleh Majalah More pada hari Jumat, tanggal 9 Oktober yang lalu, saya diundang untuk menjadi “teman bercerita” para tamu yang datang. Acara yang bertema “Re-Ignite The Sexiness in You“ ini memang ditujukan untuk bisa saling bertukar pikiran antara sesama perempuan usia 35 tahun ke atas tentang kehidupan seksual masing-masing. Fokus utamanya, apalagi selain bagaimana agar bisa tetap memiliki gairah dan menggairahkan.

Sewaktu diajak, saya langsung tertarik sekali. Masalahnya, memang ini menjadi masalah yang sering terjadi. Ada banyak sekali pertanyaan dari pria dan perempuan tentang gairah seksual yang dikirimkan lewat pesan di FB, SMS, ataupun email baik ke saya langsung ataupun ke beberapa media tempat saya biasa menulis. Pertanyaan yang paling umum ditanyakan oleh pria adalah “Kenapa istri saya seperti kehilangan gairah?!” dan yang ditanyakan oleh perempuan adalah “Kenapa saya seperti tidak lagi memiliki gairah?!”. Nah, klop banget, kan?!

Di satu sisi, menurut saya, perempuan usia 35 tahun ke atas seharusnya menjadi lebih menarik karena mulai pada usia ini, perempuan jauh lebih matang. Dia sudah tahu apa yang diinginkannya, sudah jelas arah dan tujuan hidupnya, dan juga sudah banyak tahu bagaimana untuk mendapatkan semua yang diinginkannya itu. Secara financial dan kedudukan pun, bagi yang bekerja, biasanya sudah dalam posisi yang lumayan mantap. Jadi, sudah sepatutnya memiliki rasa percaya diri dan keyakinan atas diri yang penuh.

Oleh karena itulah, biasanya banyak pria yang tertarik dengan perempuan yang seperti demikian. Tidak perlu basa-basi ataupun harus lagi “mengajari”. Sudah sama-sama tahu saja, jadi tidak perlu repot. Lagipula, memang pada dasarnya pria membutuhkan seorang “ibu” dan perempuan matang bagi pria, secara tidak sadar menjadi menggairahkan karena bisa menjadi sosok seorang ibu yang bisa memberinya kehangatan dan kelembutan.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa di dalam budaya masyarakat Indonesia, masih ada kesenjangan antara pria dan wanita. Bukan dalam urusan “derajat” yang saya maksudkan di sini, tetapi lebih kepada kesetaraan di dalam berpasangan. Perempuan cenderung melihat pasangan prianya “lebih” berhak dan sementara perempuan sudah seharusnya lebih menerima. Sehingga kemudian terbawa sampai ke urusan tempat tidur. Pria harus lebih dominan karena tugas perempuan hanya melayani saja. Kepuasan di dalam bercinta pun kemudian hanya menjadi milik pria semata.

Selain itu, persepsi perempuan yang nakal, binal, liar, dan agresif di tempat tidur sama dengan perempuan “murahan”, itu juga kerap ada di dalam benak dan pikiran. Perempuan yang merasa baik-baik tentunya tidak ingin mendapatkan predikat seperti itu. Jadilah kemudian mereka lebih pasif dan cenderung menutup diri. Bahkan malah banyak sekali yang berpura-pura dan berbohong atas apa yang sebenarnya diinginkan. Orgasmenya pun banyak yang palsu, kok!!! Uh-ah-nya di mulut saja!!! Yang penting cepat selesai!!! Hehehe….

Berdasarkan riset dan penelitian, 90% perempuan yang tidak pernah melakukan eksplorasi terhadap tubuhnya dengan melakukan masturbasi sebagai salah satu sarananya, tidak pernah mendapatkan atau merasakan orgasme. Mereka menjadi tidak tahu dan tidak kenal tubuh mereka sendiri dan tentunya termasuk titik-titik sensualitas yang bisa membuat mereka tahu di mana dan bagaimana caranya mendapatkan kepuasan di dalam bercinta. Apalagi bila kemudian menikah, tidak juga mau jujur dengan pasangan dan atau mendapatkan pasangan yang juga tidak mau membantunya menemukan tempat dan cara yang paling tepat.

Oleh karena itulah, bila kemudian bila ada suami yang selingkuh, saya tidak bisa langsung menilai itu adalah kesalahan suami. Bisa jadi memang urusan ranjang dan gairah inilah yang menjadi salah satu penyebabnya. Biar bagaimanapun juga, pria memiliki testosterone 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan perempuan, sehingga gairah seksual mereka jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Sudah biasa bila pria berpikir tentang seks dua kali dalam sehari, sih! Ngaku, deh!!!

Begitu juga bila ada istri yang berselingkuh, saya juga tidak bisa menyalahkan langsung perempuan itu salah. Bisa jadi pria yang menjadi suaminya itu tidak bisa memberikannya kepuasan dalam bercinta. Bukan soal ukuran dan goyangannya, tapi memang harus benar-benar bisa membuat bumi berguncang dan bergetar!!!  Setahun dua tahun mungkin masih bisa ditahan atau ditutupi, lama-lama, siapa yang tahan?! Iya, kan?!

Komunikasi dan kejujuran memang menjadi sangat penting di dalam hal ini. Eksplorasi di dalam bercinta sebaiknya dimulai dengan saling terbuka di dalam menemukan dan mencari titik-titik sensasional di dalam tubuh masing-masing. Sama-sama mencari dan sama-sama memandu. Bila memang tidak orgasme, ya, bilanglah belum, lalu sama-sama mencari cara untuk bisa menemukannya.

Untuk bisa menambah kehangatan, jangan juga pernah lupakan yang namanya romantisme di dalam bercinta. Terkadang kita terlalu larut dan hanyut dengan keadaan, apalagi keadaan seperti sekarang ini, sehingga kita seringkali melupakan bahwa yang namanya romantisme di dalam bercinta itu sangatlah penting. Perempuan senang, kok, dirayu dan dimanja. Pria juga senang dipuja dan dibelai. Sama saja, perempuan dan pria, karena memang pada dasarnya pria dan perempuan itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan di sanalah kecocokannya. Saling mengisi dan saling memberi serta menerima. Kan, begitu?!

Lima menit saja setiap hari luangkan waktu untuk saling bercerita tentang diri masing-masing akan sangat membantu. Jangan cerita urusan anak, kantor, atau yang lainnya. Benar-benar “antara kita” saja. Semua ini agar sama-sama bisa saling kenal dan sama-sama tetap merasakan cinta yang ada. Selalu membangkitkan gairah untuk bisa selalu bersama dan bercinta selalu tentunya.

Mengenang masa-masa indah saat masih berpacaran dulu atau dengan saling bertukar surat cinta bisa membuat suasana berubah. Suratnya jangan lewat email atau chat dan SMS, ya! Surat yang dibuat dengan tulisan tangan tentunya akan memiliki arti yang berbeda.

Saya selalu membayangkan mulai dari mencari kertas dan pena, lalu usaha untuk menuliskan isi surat itu. Kalau salah, dibuang, dirobek, atau bagaimana?! Kalau sudah jadi, bagaimana perasaannya sewaktu membacanya kembali?! Bagaimana juga sewaktu mau dikirimkan?! Pokoknya, detail-detail dari surat itu dibuat sampai kemudian dikirimkan menjadi sesuatu yang sangat berharga sekali. Aaaahhhh, seksi!!!

Makanya saya tidak pernah membuang satu pun surat yang pernah dikirimkan kepada saya. Bagi saya, semua itu adalah kenangan yang tidak akan pernah boleh hilang. Apalagi bila diperoleh dari seseorang yang amat sangat dicintai, ya?! Terbayang pada satu hari nanti, duduk berdua bersama, lalu membuka kotak surat bersama. Membaca kembali semua kenangan indah itu berdua dan bersama lagi. Duh jadi berkhayal!!! Hahaha….

Ya, itu hanya salah satu contoh saja, tetapi masing-masing tentunya memiliki cara masing-masing. Tidak perlu sama tetapi harus benar-benar merupakan diri sendiri dan buah dari kejujuran. Percuma juga memaksakan diri karena tidak akan memberikan banyak arti.

Mariska -Majalah More Belly Dancing

Belajar nih... hehehe...

Cara lain yang juga bisa dilakukan adalah dengan “out of the box”. Keluar dari zona nyaman agar tidak terjebak dengan rutinitas keseharian yang membosankan. Eksplorasi bisa menjadi lebih luas dan tentunya dengan melakukan hal-hal baru, adrenalin menjadi terpicu kembali. Libido pun akan semakin tinggi dan gairah pun akan mengiringi tentunya. Salah satunya, seperti yang dilakukan pada acara talk show tersebut, adalah dengan mencoba belajar Tari Perut alias Belly Dancing.

Jujur, baru pertama kali saya belajar menari seperti itu. Bergoyang, bergetar, berputar. Waduuuhhhh!!! Gila banget!!! Seksi habis!!! Saya yang baru belajarnya saja merasa bergairah banget apalagi kalau dipraktekkan, ya?! Heboh!!!

Seksi dan menggairahkan itu akan muncul dari dalam diri sendiri seiring dengan hati dan perbuatan kita. Bila diri kita sendiri yakin dan percaya serta mau jujur, kenal siapa diri kita, dan mau terus mengolah diri dan belajar, tidak ada yang tidak mungkin. Gairah itu tidak boleh pernah padam karena itulah yang membuat kita menjadi hidup.

Semoga saja tulisan ini bisa membangkitkan gairah lagi, ya!!! Semangat!!!

 

Salam,

Mariska Lubis

Catatan:

Terima kasih Majalah More untuk undangannya dan terima kasih juga kepada Jakarta Belly Dancing yang sudah mengajarkan saya menari. Lagi, dong!!! Hehehe…

 

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mariska Lubis, Mimpi, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s