Bercinta PunTakut Dibilang Salah (Obsesive Compulsive)

ISTRI saya cuannnnntiiiiik sekali. Bener, deh! Suer!!! Cantik!!! Dipuja banyak pria maupun wanita. Pintar pula. Ibadahnya pun sangat luar biasa. Di mata banyak orang dia adalah sosok perempuan ideal. Anehnya, kok, sulit, ya, buat saya untuk bercinta dengannya? Takuuuuuttttt banget, deh!!! Takut dibilang salah!!!

Saya sendiri kadang-kadang bingung. Nafsu, sih, nafsu!!! Suami mana yang nggak tergoda melihat tubuh indah molek berbaring di atas tempat tidur. Tapi begitu dia mengucap satu kata saja… nafsu itu hilang lari terbirit-birit ditelan angin malam. Dia, kok, bisa tiba-tiba berubah jadi kuntilanak, ya? Iiihhhhhhhh!!!! Seraaaaammmmmm!!!!

Yah, nggak usah gitu, deh! Kadang-kadang pulang kerja, makan malam, terus maunya, kan, nonton teve sambil ngobrol yang enak-enak. Santai-santailah. Tapi entah kenapa, bawaannya jadi nggak enak terus. Ada saja kejelekan dan keburukan orang lain yang diceritakannya. Tidak pernah, tuh, ada orang yang baik dan pintar di matanya. Semuanya jellleeeeekkkkk!!! Bodooooohhhhhh!!!! Kecuali yang mendukung dan memujinya, ya!!! Malas dengarnya juga!!! Diam salah, komentar salah juga. Mendingan buru-buru ngacir! Alasan banyak kerjaan atau capek. Beres, deh! Tinggal nunggu kelanjutannya besok pagi saja. Gimana besok, deh!!!

Sama nggak, ya, perasaan saya dengan suaminya Ratu Elizabeth atau si tangan besi Margareth Teacher? Saya yang kalah “set” duluan apa saya memang bodoh, ya? Kalau dipikir-pikir, kan, mana mungkin ada perempuan pintar yang mau dengan pria bodoh. Pasti milih-milihlah!!! Saya memang nggak bodoh, kok. Perasaan saya, lho!!! Saya cuma bingung saja.

Istri saya ini mempunyai kebiasaan yang menurut saya sangat menakutkan. Agresif, difensif, dan sangat berambisi. Waaahhh!!! Kalau harus ngikutin dia terus, bisa-bisa kerjaan saya justru terbengkalai. Bisa gila juga!!!

Dia senang sekali menyerang orang-orang yang dia anggap sebagai musuh atau lawan. Padahal, saya tahu banget, kalau mereka yang diserang itu seringkali tidak melakukan apapun terhadap dirinya ataupun orang lain. Malah banyak pula justru yang berniat baik terhadap dirinya. Kalau dikritik, weleh-weleh… minta ampun, deh!!! Siapa berani mengkritik akan menuai amarah dan caci-maki. Dan demi ambisinya tercapai, dia rela, tuh, melakukan berbagai perbuatan yang saya sendiri menganggapnya “jahat” dan “tidak etis”. Wajar nggak, sih, kalau saya takut???? Please, help!!!!

Saya juga merasa semakin tidak berdaya karena saya merasa gagal menjadi imam dan kepala keluarga. Saya takut kalau sampai suatu hari nanti istri saya kenapa-kenapa atau dikenapa-napain orang. Anak-anak dan keluarga lainnya juga sudah sepertinya bingung dan tak berdaya menghadapinya. Rasa-rasanya, saya mengalami depresi akut. Sampai-sampai…, “adik” kecil saya ini tidak bisa berdiri lagi alias impoten. Bagaimana, dong???!!!

Ada yang merasa sama seperti pria ini??? Hehehe… kalau pun ada jarang, ya, yang terus bisa sampai impoten. Paling cuma impoten rumahan doang!!! Di luar, sih, uhuy!!! Soalnya, dah keburuan cari simpanan yang lain!!! Yaahhhh, daripada tidak terlampiaskan…, mendingan “mendingan”, deh!!! Iya, kan?? Ngaku, deh!!!

Menurut saya, melihat dari gejala istri seperti itu, dia termasuk orang yang memiliki kelainan jiwa. Obsesive compulsive!!! Obses terhadap dirinya yang dianggapnya hebat, pintar, luar biasa, sehingga bila ada yang tidak menganggapnya demikian, dia pasti akan menjadi sangat difensif. Apalagi bila pada kenyataannya, dia memang tidak demikian. Semakin menjadi-jadi, deh! Agresifnya jadi semakin gencar dan semakin berani pula. Di dalam otak dan pikirannya, hanya ada dia, dia, dan dia. Tidak ada yang lain yang lebih hebat dari dirinya.

Biasanya hal ini terjadi pada mereka, baik perempuan ataupun pria, yang ingin sekali menutupi apa yang sebenarnya merupakan kekurangan mereka. Contohnya saja, misalnya dia dulu senang berpakaian dan berpose seksi. Makanya, lalu kemudian dia berubah 180 derajat dan mencoba membuat orang lain berpikir bahwa dia telah tobat dan telah menjadi orang yang sholeh. Dia juga takut dibilang bodoh, sehingga serentetan gelar yang diambilnya itu, tujuannya bukan mencari ilmu, tetapi memang ingin dianggap pintar. Sementara kepintarannya itu sendiri sebenarnya patut dipertanyakan. Hmmm….

Sulit sekali memang untuk menghadapi kenyataan yang ada seperti ini. Rasa bersalah yang timbul menjadi sangat besar dan akibatnya, kebanyakan, sih, jadi ikut lari dari kenyataan. Bukannya tak peduli, tapi takut salah. Bingung lagi. Seperti pria tadi, asyiiikkkk aja kerja terus. Tidak berani menghadapi kenyataan di lapangan. Niatnya, sih, biar nggak ribut dan berantem, tapi malah justru menjerumuskan. Penyebab tidak diselesaikan, masalah pun semakin menumpuk. Stress. Depresi. Dua-duanya akut. Hormon di dalam tubuh menjadi tidak seimbang. Impoten, deh!!!

Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, menurut saya, adalah pergi ke dokter jiwa atau psikolog. Bukan ke seksolog!!! Akarnya harus diperbaiki dulu. Kalau akarnya sudah baik, baru kemudian lanjut ke batangnya. Hehehe…

Sembuhkan diri sendiri dulu, baru ajak pasangan. Kalau bisa langsung berdua, lebih bagus lagi. Hanya biasanya sulit. Mana ada orang gila pintar mau dibilang gila? Berikan pengertian bahwa tidak perlu harus gila dulu untuk pergi ke terapis. Bisa, kan, alasan ingin bisa mesra seperti dulu lagi? Biarkan terapis itu menjadi moderador. Biar semua uneg-uneg dan sesak serta ganjalan yang ada di dada bisa dinilai lebih objektif.

Selamat berjuang, ya, Pak!!! Semoga berhasil!!! Jangan lupa berdoa dan minta petunjuk dari-Nya. Dia pasti akan memberikan jawaban terbaik bagi Anda sekeluarga. Amin.

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 13 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Fakta & Kenyataan, Mimpi, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s