Mutiara Berkilau Tanpa Balutan Sutera

Kilau indah yang membuatnya mempesona tak lagi nampak bercahaya. Sehelai tipis kain sutera menutupnya dengan lembut. Meski tipis dan lembut, tetap saja telah membuat semua kilauan terindahnya itu tak bisa nampak. Semuanya hanya terlihat samar-samar meski semua tahu bahwa yang ada di balik sana adalah mutiara yang sangat indah. Banyak yang berusaha membantu menyingkirkan sutera namun sutera tetap saja akan selalu ada bila bukan mutiara yang menyingkirkannya sendiri. Mutiara yang tak mampu melepaskan balutan sutera yang membalut dirinya akan selalu menjadi mutiara yang terpendam. Sampai kapan mutiara harus terbenam dalam balutan sutera?!

Sepenggal kalimat saya temukan dalam sebuah catatan lama, ”Bagiku, dirimu adalah mutiara yang terbalut sutera. Alangkah indahnya bila diriku bisa membantu dirimu untuk membuka balutan sutera itu. Aku ingin melihatmu bersinar dan bercahaya seperti memang yang sudah ditakdirkan oleh-Nya untukmu.” Hmmm…..

Sedikit demi sedikit pasir masuk ke dalam cangkang. Diramu dan diolah untuk dibuang. Disimpan dalam kemasan sampai kemudian menjadi keras dan membatu. Saat cangkang dibuka, bukan sampah ataupun batu yang nampak. Kemilau muatiara yang putih dan bersih sangat bercahaya muncul di permukaan. Indah sekali. Memikat siapapun yang melihatnya.

Banyak yang lupa bahwa menjadi mutiara tidaklah mudah. Proses yang dilewati sangatlah panjang. Bukan sehari dua hari tetapi dalam waktu yang tidak singkat. Sangat diperlukan banyak sekali unsur yang membentuknya. Tidak mudah juga untuk memilahnya. Semuanya harus dijadikan satu dalam sebuah kesatuan. Butuh kerja keras dan tekad yng kuat untuk bisa menjadi mutiara yang bersih dan bersinar.

Memang kita seringkali terlalu mudah untuk melihat hasil akhir dan memberikan nilai dari apa yang tampak indah itu. Membuat kita menjadi sangat terpesona sehingga melukan nilai dari proses yang sesungguhnya jauh lebih berarti itu. Lupa juga bahwa sebelumnya hanyalah merupakan remah yang tak nampak. Bahkan hanya merupakan yang terbuang. Masih ingatkah betapa dihina dan disia-siakannya mutiara saat itu?! Pastinya tak ada yang mau mengingatnya. Kalaupun ada, seringkali pada akhirnya hanya menjadi sebuah hinaan yang baru. ”Dulu dia itu begini, lho! Begitu lho!”

Tak sedikit yang sebegitu terpesona pada kemilaunya mutiara sampai ingin sekali langsung menjadi mutiara paling berkilau. Segala cara pun dilakukan selama itu adalah cepat dan singkat. Namun apa yang kemudian terjadi?! Mutiara buatan tak bisa mengalahkan mutiara alami. Tetap Tak jarang yang kemudian memilih jalur cepat. Ingin segera menjadi mutiara, namun apa yang terjadi? Menjadi mutiara namun mutiara yang tak memiliki harga.

Merasa tak bisa menandingi ataupun tak bisa menjadi mutiara, rasa iri dan cemburu pun kemudian timbul. Hasrat untuk bisa menandingi tak bisa lagi dibendung. Bila memang kemudian mau melewati proses untuk menjadi mutiara yang lebih indah, sungguh sangat luar biasa. Yang paling sering dilakukan adalah justru membuang mutiara berkilau itu agar tak lagi nampak cahayanya. Menenggelamkannya ke dasar lautan yang paling dalam. Membuat semua lupa dan tak pernah ingat lagi.

Banyak sekali cara yang dilakukan untuk menghilangkap dan melenyapkan mutiara. Segala daya dan tipu muslihat pun bisa dilakukan. Bahkan dengan menutupinya dengan sutera yang paling lembut agar tak nampak dan tanpa ada yang menyadari bahwa itu sebenarnya hanyalah sebuah siasat buruk dan perbuatan yang tak terpuji. Yang lain melihatnya justru sebagai malaikat yang membantu membuat mutiara tampak bercahaya, namun sesungguhnya secara perlahan mutiara itu ditenggelamkan.

Sungguh sangat disayangkan mutiara itu harus menjadi hilang hanya karena rasa iri dan cemburu meskipun tahu bahwa mutiara yang berkilau itu bisa memberikan banyak sekali arti dan manfaat. Takut tidak bisa menjadi mutiara?! Atau takut tidak bisa menjadi mutiara terindah lagi?!

Para malaikat palsu itupun banyak yang kemudian datang membantu. Mengangkat mutiara kembali ke permukaan. Berkata dan berucap serta mengaku telah memberi pertolongan. Sesungguhnya tidak ada malaikat itu. Mereka hanyalah malaikat palsu yang tetap mengharapkan pamrih. Meminta balas budi atas apa yang telah diberikan. Imbalan jasa atas semua pertolongan yang diberikan.

Sulit untuk menjadi seseorang yang penuh dengan cinta yang memang tulus dan ikhlas. Kita seringkali merasa telah melakukan perbuatan baik dan memang melakukannya, tapi benarkah semua itu memang tulus dan ikhlas?! Bila memang tulus dan ikhlas, surga dan pahala itu pun tak perlu harus diharapkan. Tak perlu harus dihitung dan diperhitungkan. Untuk apa berbuat baik bila tidak ada ketulusan dan keikhlasan di dalam melakukan semua itu. Benarkah surga dan pahala itu memang layak untuk diberikan?! Siapa yang paling menentukan?!

Tidak ada mutiara yang bisa melepaskan diri dari balutan sutera yang lembut bila tidak dirobeknya sendiri. Sutera itu terlalu kuat untuk bisa dilepaskan oleh yang lain. Sudah menempel dan menyatu dengan mutiara. Hanya mutiara sendiri yang bisa melakukannya. Mutiara harus berjuang keras untuk bisa melakukan semua ini bila memang ingin tetap berkilau dan bercahaya.

Tidak ada seorang pun yang bisa mengubah yang lain. Perubahan itu bisa terjadi hanya bila dilakukan oleh diri sendiri, bukan oleh yang lain. Mereka yang membantu hanyalah bisa memberikan sentuhan kasih dan sayang lewat apresiasi, motivasi, dan dorongan. Bahkan lewat berbagai kritikan dan masukan yang pedas yang tak hanya sekedar kritikan dan masukan. Membantu memberikan sedikit terang dalam gelap agar gelap itu bisa menjadi terang dengan sendirinya.

Bila memang demikian adanya, kenapa sulit untuk diakui?! Kenapa tetap selalu merasa seperti malaikat yang terbaik meskipun tahu bahwa tidak ada seorang pun yang memang malaikat sejati?! Apakah karena ini lalu kemudian harus menjadi ada pamrih?! Apakah karena ini semua, malaikat berhak menuntut balas jasa kepada mutiara?! Apakah kemudian cinta pun harus diberikan mutiara kepada malaikat?! Di manakah sebenarnya cinta sesungguhnya?! Di manakah ketulusan itu?! Bukankah segala sesuatu yang diawali oleh niat baik dan ketulusan pasti akan membuahkan hasil terindah dengan sendirinya?! Apakah yang sebenarnya dicari dan diinginkan?!

Kita semua adalah mutiara bila memang kita mau berjuang dan bekerja keras untuk menjadi mutiara. Semua bisa menjadi mutiara terindah bila memang menginginkannya. Teruslah mengasah diri dan jangan pernah takut, ragu, ataupun segan untuk melepaskan diri dari kabut yang menutupi, bahkan sutera yang paling lembut sekalipun. Hargailah mereka yang telah membantu menjadikan kita mutiara, meski ada tanpa ada cinta dan ketulusan. Biar bagaimanapun juga, mereka telah membantu. Jadilah diri sendiri dan berikanlah selalu yang terbaik dan terindah untuk semu. Mutiara tidak harus bulat untuk bisa tetap berkilau dan bercahaya dengan indah. Mutiara ada di dalam hati yang penuh dengan cinta.

Semoga bermanfaat!!!

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

Catatan: Terima kasih kepada seseorang yang penuh dengan cinta dan ketulusan lewat apa yang pernah dituliskannya, mutiara berbalut sutera.

11 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Dari Hati, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s