Seks Luar Biasa dengan Positive Thinking, Positive Feeling, & Believing System

BAGAIMANA dengan hubungan seks Anda sekarang ini?: “Biasa-biasa saja, tuh!!! Nggak bisa luar biasa!!! Masih bisa “on” saja sudah bagus!!! Capek!!! Malas!!!” Kasihan, dweeehhh!!!

Jadi ingat hasil survey yang saya lakukan terhadap pria-pria di kota Bandung. Hmmm… Coba lihat di Frekuensi Seks Menurun? (Kompasiana, 13/09)

Stress memang bikin kacau saja,ya? Masa seks yang sebegitu nikmat, indah, dan luar biasa rasanya itu bisa jadi boring? Reseh, nih, si stress!!! Tapi ya sudahlah, ngapain stress dipikirin? Nanti malah tambah stress pula!!! Tambah kacau dunia!!! Mendingan juga stress kita singkirin saja, yuk!!! Mau?!

Menurut Gagan Pribadi, BAppSc., seorang stress terapis yang bermukim di kota Bandung, “Penyebab utama stres adalah akibat ketidakseimbangan penggunaan otak kiri dan otak kanan. Dan stress yang sudah dalam tahap berat, biasanya tidak disebabkan oleh tekanan sesaat saja, tetapi sudah mulai ada sejak masih saat anak-anak yang bertumpuk sejalan perkembangan usia dan pengalaman.” Oh, ya???!!!

Tahu, kan kalau otak kiri berfungsi sebagai pengatur kegiatan kita sehari-hari, mekanisme kita dalam bekerja, hal-hal yang bersifat teoritis, logis, asumsi, dan matematis, sementara si otak kanan berfungsi pada kegiatan yang berhubungan dengan seni dan imajinasi? Masalahnya, kata pria lulusan Deakin University, Australia ini, “Anak belum tentu suka dengan kegiatan yang dijalaninya. Kebanyakan karena terpaksa atau dibuat terpaksa dengan mendorong anak tersebut untuk mengikuti obsesi yang bukan obsesi dirinya, tetapi obsesi kedua orang tuanya. Ditambah lagi banyak juga tempat belajar seni yang tidak mengajarkan anak menjadi kreatif, tetapi hanya menjadi seorang follower. Dia hanya mengikuti apa yang diajarkan gurunya saja, imajinasinya tidak berkembang.”

Nah, kalau ketidakseimbangan ini sudah mulai terjadi sejak anak-anak, bertambah lagi sewaktu remaja, dan puncaknya waktu sudah dewasa, stress jadinya bertumpuk, deh! Sementara itu karena biasanya hanya otak kiri yang digunakan dengan selalu mencoba berpikir logis, kita jadi selalu merasa berada di dalam zona aman – zona di mana kita tidak lagi mau mengeksplorasi diri dan bertahan pada posisi yang sama. Misalnya sudah menyerah pada nasib dengan tetap menjadi pegawai dan tidak berpikir untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi atau mencari pekerjaan baru karena sudah merasa “aman”. Padahal, menurut ilmu psikologi, justru pada saat inilah kita berada di dalam “Titik Bunuh”, di mana stress akan semakin bertumpuk dan “tinggal tunggu waktunya” yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Cara mengatasi stress adalah dengan menjadi manusia yang lebih luwes. Seperti yang ditulis dalam buku “The Art of Happiness” karya Dalai Lama dan Howard C. Cutler, MD, “Mengembangkan pendekatan yang luwes dalam menghadapi hidup tidak hanya memudahkan kita menangani masalah sehari-hari – ini juga menjadi batu penjuru bagi unsur pokok hidup yang bahagia, yaitu: keseimbangan”. Gampang, kan???

Seperti yang diungkapkan oleh Gagan juga, “Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dengan pemikiran logis dan tidak logisnya.” Oleh karena itulah, kita tidak boleh takut untuk berpikir tidak logis dengan berimajinasi dan bermimpi karena hanya dengan cara itulah kita mendapat keseimbangan otak kiri dan otak kanan. Intinya, bisa bebas berimajinasi!!! Seks seliar apapun boleh, dong, ya dibayangin?! Hehehe….

Di dalam melakukan terapinya, Gagan selalu menyarankan pasiennya untuk selalu menjalankan tiga hal secara bersamaan, (1) selalu berpikir positif; (2) memiliki positive feeling; (3) dan biarkan believing system berjalan.

Berpikir positif atau lebih dikenal dengan positive thinking sudah banyak yang mencoba menjalaninya, apalagi kalau Anda pernah mengikuti pelatihan untuk menjadi sales produk MLM atau asuransi. Banyak, kan, yang pernah mencoba? Di setiap pelatihan yang mereka adakan, positive thinking menjadi santapan utamanya. Kenapa positive thinking ini bisa ampuh, ya? “Soalnya, positive thinking bisa memicu otak kiri kita untuk bekerja secara positif. Gelombang yang dikeluarkan oleh otak kiri yang positif akan membantu kita untuk selalu optimis. Tanpa kita sadari, perasaan optimis itu akan membawa kita menghadapi atau menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Menghadapi orang lain pun kita akan menjadi lebih tenang dan terbuka,” kata Gagan.

Gelombang yang dimaksud di sini adalah gelombang yang selalu dikeluarkan oleh tubuh kita, yang biasa digunakan oleh terapis untuk mengukur tingkat emosional seseorang. Pada keadaan normal, biasanya kita berada di dalam frekuensi antara 21-30 Hertz alias dalam posisi ? (betha), sedangkan bila sudah di atas angka itu, kita berada dalam keadaan tidak normal alias stress. Sedangkan bila frekuensinya antara 7-14 Hertz atau dalam posisi ? (Alpha) , biasanya terjadi saat saat kita sedang berdoa dan merasa sangat tenang dan nyaman.

Positive thinking tidak akan manjur mengatasi stress bila tidak dikombinasikan dengan positive feeling, yang memicu otak kanan untuk bekerja secara positif. Gelombang yang dikeluarkan oleh otak kanan akan membawa kita ke frekuensi gelombang yang lebih rendah sehingga rasa nyaman dan tenang akan lebih terasa. “Berpikir positif akan sesuatu adalah materi atau benda sedangkan memiliki perasaan yang positif adalah rasa. Kita tidak hanya dipicu untuk berpikir optimis tetapi juga merasa optimis. Kombinasi keduanya akan membentuk keseimbangan otak kiri dan otak kanan yang otomatis membantu kita untuk bisa menghilangkan pikiran ataupun perasaan negatif yang ada di dalam otak dan perasaan kita.”

Misalnya saja kita sedang terkena musibah tabrakan di jalan. Reaksi pertama yang biasanya terjadi adalah panik dan sibuk mencari pembenaran atas musibah yang terjadi. “Dia yang salah bukan saya!” atau “Kamu, sih, ngajak ngobrol terus, jadi aja…” atau “Bagaimana kalau dia minta ganti rugi?” Bila kita terus-terusan berpikir seperti itu, kita berarti memicu otak kiri untuk bekerja secara negatif sehingga stress kemudian muncul.

Lain ceritanya bila berpikir positif, kita akan berpikir, “Saya memang salah dan pasti ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini.” Dikombinasikan dengan positive feeling, “Orang itu pasti akan mengerti kalau saya bicara baik-baik dengannya.” Otak kiri dan otak kanan dipicu untuk sama-sama bekerja dan menghasilkan gelombang positif sehingga stress pun tidak akan muncul. Kita akan menghadapi musibah itu dengan lebih tenang. Bukan hanya itu, “Menikmati resiko yang diambil dengan menghadapi orang yang kita tabrak akan memicu hormone endorphin yang ada di dalam tubuh keluar sehingga kita menjadi lebih tenang,” kata Gagan menambahkan.

Nah, yang terakhir adalah untuk believing system, yang merupakan unsur keyakinan atau spiritual kita terhadap sesuatu, baik Tuhan, agama, ataupun benda-benda tertentu yang bisa membuat kita merasa lebih nyaman. Menurut Gagan, “Believing system membantu mengaktivasi otak tengah kita – otak tengah berada tepat di antara otak kiri dan otak kanan; merupakan pusat dari otak dan dalam istilah medis seringkali disebut sebagai “Him” – yang sangat berpengaruh terhadap kinerja otak kanan.”

Seperti juga yang diungkapkan oleh Dalai Lama dan Howard C. Cutler, MD bahwa, “Kepercayaan keagamaan yang dipegang secara kuat dapat memberi seseorang rasa terpanggil yang mendalam, yang dapat memberi makna pada hidupnya. Kepercayaan ini dapat menawarkan harapan ketika seseorang berhadapan dengan kesusahan, penderitaan, dan kematian. Kepercayaan dapat membantu seseorang mengambil suatu perspektif tentang kehidupan kekal yang memungkinkannya berada di luar diri sendiri ketika sedang tertekan oleh masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.”

Mau nyoba? Harus kayaknya, ya?!!! Masa, sih, mau numpukin stress terus-terusan?! Lebih enak mana, stress melulu atau bisa menjalani hidup dengan lebih mudah, tenang, dan nyaman. Mendapatkan seks yang luar biasa dan tidak pernah membosankan!!! Pastinya, kita bakal jadi lebih bahagia, dong!!! Mau, ya?!!!

Selamat mencoba!!!

Salam,

Mariska Lubis

Repost Kompasiana.com 15 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s