Diary Bukan Sekedar Catatan Harian

Matthw Grant pun menulis diary dan betapa pentingnya diary hingga masuk museum dan dibukukan. Jangan meremehkan hal-hal kecil. Illustrasi: http://www.cslib.org/matthewgrant.htm

Seseorang mengingatkan saya akan masa lalu lewat pertanyaannya soal diary. Diary, catatan harian, memang sampai sekarang tetap saya tulis meski tidak berupa cerita lagi. Ada cerita buruk yang membuat saya tidak lagi bisa cerita di sana, dan sekarang saya hanya bisa mengungkapkan rasa dan pikiran yang ada lewat sepenggal kalimat saja. Diary bukan sekedar catatan harian, tetapi sebuah proses dalam kehidupan.

Diary memang identik sekali dengan perempuan. Menjadi teman bayangan untuk bercerita yang selalu mengasyikkan. Sesuatu yang sangat penting di dalam perkembangan psikologis, yang bisa membantu untuk berpikir dan berkembang. Bila dibaca lagi kemudian pun menjadi introspeksi dan kenangan yang indah atas masa lalu. Selain itu, juga menjadi sarana untuk berlatih menulis yang sangat baik. Sayangnya, banyak orang tua dan individu lain yang tidak menghargai hal ini.

Adalah kebiasaan buruk untuk membaca diary seseorang bahkan diary anak sendiri. Apalagi jika kemudian mentertawakan, mengolok-olok, ataupun menuduh yang tidak-tidak. Membuat sedih dan sakit hati juga bisa menjadi trauma yang berbekas bagi yang menuliskannya. Banyak yang kemudian berhenti menulis dan hilang keinginan untuk menulis lagi karena hal ini. Sama dengan membunuh dan mematikan jiwa.

Saya dulu pernah membakar diary saya di hadapan yang membacanya dan memperolok-olok saya. Saya juga pernah marah besar karena dituduh yang tidak-tidak. Apa mereka tahu apa yang sebenarnya saya tulis di sana?! Mereka semua tidak ada yang mau menyadari bahwa tulisan yang ada di dalam diary belum memang itu fakta dan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Khayalan, fantasi, dan imajinasi itu seharusnya diperhitungkan. Sungguh, saya sampai sekarang tidak bisa melupakan waktu dan saat itu.

Apa yang terjadi dengan saya pada saat remaja itu adalah sebuah cerita yang sangat buruk sekali, dan amat sangat membekas di dalam ingatan. Saya tidak akan melupakannya dan tidak mau juga melupakannya. Di dalam benak saya waktu itu bertanya, “Tidakkah kalian menyadari bahwa saya ini seorang penulis yang penuh dengan cerita?! Tidakkah kalian mau juga mengakui keberadaaan dan keadaan saya sebagai seseorang yang senang menulis, senang berkhayal, senang bercerita, penuh dengan imajinasi dan fantasi ?! Meski seringkali itu di luar batasan kalian, apakah itu salah?! SAYA PEMIMPI YANG INGIN JADI PENULIS!!!”

Setelah semua itu terjadi, saya jadi malas sekali menulis. Hilang dan lenyap saja semua keinginan itu. Yah, mungkin karena saya masih marah dan kesal. Untunglah semua itu bisa segera berakhir setelah saya kemudian mendapatkan cara baru untuk menulis tanpa harus diketahui yang lainnya. Buku gambar yang juga menjadi tempat saya mencurahkan rasa, saya gunakan. Kata-kata dan kalimat itu menjadi bias karena bercampur aduk dengan gambar-gambar yang saya buat. Ditambah lagi dengan kertas-kertas yang saya kemudian kumpulkan di dalam sebuah boks. Siapa yang berpikir jauh bahwa boks itu bukan hanya berisi kumpulan sampah bagi saya?! Hmmm…

Bila sampai harus membaca diary dengan alasan ingin tahu apa yang terjadi, seharusnya bertanya pada diri sendiri, mengapa sampai harus membaca diary itu?! Apa yang salah dengan hubungan orang tua dan anak, ataupun saudara?! Seharusnya komunikasi itu terjalin dengan baik bukan?! Bila sampai tidak tahu ataupun tidak mengerti tentang keadaan anak ataupun saudara sendiri, berarti memang ada yang harus diperbaiki. Jangan melakukan pembenaran dengan mengijinkan diri boleh membaca diary orang lain.

Perlu diingat bahwa banyak sekali penulis yang hebat dan terkenal dan menjadi seorang penulis sejati, melatih diri mereka secara tidak sadar lewat diary. Memang banyak orang tua yang masih tidak menginginkan anaknya menjadi seorang penulis karena dianggap bukan sesuatu yang membanggakan dan bukan juga sebuah prestasi atau keberhasilan, namun sebisa mungkin jangan pernah mematikan jiwa yang lainnya, apalagi anak dan darah daging yang diklaim amat sangat dicintai. Memaksakan kehendak dan keinginan pribadi kepada anak bukanlah cinta untuknya, tetapi hanyalah untuk memenuhi hasrat dan ambisi pribadi semata. Anak bukan kita, dia adalah dia, dan dia adalah mereka. Mereka semua adalah cinta.

Cobalah untuk bisa melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda-beda dan jangan pernah beronani ataupun bermasturbasi intelektual sendiri. Sama sekali tidak indah, sama sekali tidak membahagiakan, dan sama sekali tidak membantu kehidupan ini menjadi lebih baik lagi. Ulat yang kecil pun bisa menjadi kupu-kupu yang indah karena cinta-Nya, haruskah kemudian dia kemudian hanya bisa menjadi kupu-kupu tak bersayap di dalam kepompong?!

Di sisi lain, saya juga tadi menyebutkan bahwa saya tidak mau melupakan semua peristiwa itu. Saya memang memaafkan mereka tetapi saya benar-benar tidak mau melupakan setiap detik peristiwa dan kejadian yang saya alami. Memori dan kenangan adalah pengalaman yang merupakan salah satu alasan kenapa kita disebut manusia. Hewan dan tumbuhan tidak memiliki memori seperti manusia, karena itulah memori menjadi sangat penting sekali bagi saya pribadi.

Bila ada sesuatu yang tidak baik, tidak enak, ataupun tidak menyenangkan, semua itu tidak perlu dihapuskan ataupun disingkirkan. Yang terbaik adalah dengan mengendalikannya. Semua itu bisa menjadi positif bila kita bisa membuatnya menjadi positif. Sangat tergantung kepada keinginan dan juga kekuatan hati serta pikiran. Apa yang baik dan apa yang buruk itu pikiran kita sendiri yang membuatnya bukan?! Tergantung cara pandang, persepsi, interpretasi, dan pengalaman juga. Inilah ujian terberatnya di dalam mematangkan diri. Pembelajaran dalam hidup, mampukah?!

Saya menceritakan ini semua karena saya ingin sekali semua menyadari betapa pentingnya sebuah diary. Bukan hanya untuk perempuan saja, tetapi juga untuk semua. Diary bukan hanya sekedar sebuah catatan harian tetapi merupakan ungkapan atas rasa dan pikiran. Juga merupakan sebuah sarana untuk berlatih menulis dan mengendalikan diri. Memang semua itu tidak langsung bisa dilihat hasilnya karena merupakan sebuah proses perjalanan dalam kehidupan. Toh, proses itu sendiri jauh lebih berharga daripada hasilnya sendiri.

TeruSlah belajar dan belajar. Rendahkanlah hati untuk bisa terus belajar. Teruslah menulis dan jadilah SEORANG PENULIS SEJATI. Tidak ada yang tidak mungkin bila memang itu adalah yang kita inginkan dan perjuangkan.

Semoga bermanfaat.

Salam,

 

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mariska Lubis and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Diary Bukan Sekedar Catatan Harian

  1. Mef0611 says:

    The-Price-of-Freedom -The unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro

  2. ej-Community says:

    Kakak saya, Emi namanya, dia juga pernah mengalami hal yang sama masih remaja.
    Ketika itu dia menulis keluh kesah tentang hidup bersama dengan kakak saya yang paling tua.
    Suatu ketika kakak yang paling tua itu menemukan diary kak Emi, dia marah-marah dan menuduh yang tidak-tidak.

    Kak Emi shock dan patah semangat. Dia tidak ingin menulis hal-hal pribadi lagi di buku diary. Padahal saya yang ketika itu masih kecil sudah susah payah membuatnya bisa menulis diary. Gara-gara ulah kakak tertua saya itu, sampai sekarang dia tidak pernah menulis diary lagi, bahkan juga menulis yang lain. Kreatfitasnya menulis benar-benar dimatikan.

    Demikian halnya dengan pacar saya. Ketika SD dia suka sekali menulis diary (menurut penuturannya). Sampai suatu ketika diary nya dibaca oleh teman-teman satu kelas, dan ada beberapa teman yang tidak suka dengan tulisannya. Sejak itu dia tidak mempercayai orang lagi dan dia berhenti menulis diary.

    Saat bertemu saya, saya memberinya semangat untuk kembali menulis diary. Hal ini cukup berhasil sampai beberapa lama, sekitar sebulan dia rutin menulis. tetapi akhir-akhir ini dia sudah tidak pernah menulis lagi.

    memang pengalaman buruk yang didapatkan akibat diary ini bisa menimbulkan trauma yang mendalam, sulit sekali dipulihkan, apalagi jika terjadi berulang-ulang. Dibutuhkan kekuatan mental dan kesadaran penuh bahwa Diary itu penting sekali.

    • bilikml says:

      Sungguh luar biasa dirimu… Teruslah picu semangat semua untuk menulis agar kreatifitas itu tak lagi ada yang bisa mematikannya…

      Salam hangat penuh cinta selalu…e

      • enviroleeb says:

        Kalo sekarang diriku sudah terbiasa, jadi walaupun kadang berhenti, mudah terpicu lagi untuk menulis….
        Sekarang sy ingin menularkan semangat menulis pada orang-orang yang tak terbiasa dan tak suka menulis…ternyata itu sangat susah ya..padahal d kalangan akademik loh..ampunnnn😀

      • bilikml says:

        amin… semoga semua niat baikmu bisa terlaksana… selalu ada pintu bagi yang memiliki niat dan keinginan baik….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s