Enaknya Mikirin Seks

Enak, kan?! Memang enak banget! Banget banget!!! Kalau sampai ada yang bilang nggak enak, berarti ada yang salah, deh! Bisa karena tidak mau mengakuinya atau bisa juga karena memang benar-benar ada yang tidak beres.

Seks memang sangat nikmat. Mau diapakan juga tetap saja nikmat. Selau saja enak. Buat saya pribadi, selain untuk dipraktekkan langsung tentunya, memikirkan tentang seks juga sangat merangsang pikiran saya. Makanya jangan heran, ya, kalau saya selalu bergairah. Memang seluruh tubuh saya ini penuh dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan seks. Cinta juga berhubungan erat dengan seks, kan?! Hehehe….

Banyak yang takut atau malu-malu berpikir tentang seks. Kebanyakan, sih, karena takut tidak mendapatkan “posisi” serta tempat yang “layak” serta tidak bisa diterima dan dimaafkan. Apa posisinya, tempatnya, siapa yang menerima dan siapa yang memaafkannya itu tidak perlu kita bahas, ya?! Setiap orang punya pendapat masing-masing. Hanya setiap orang juga yang tahu jawabannya. Saya tidak mau mengganggunya. Ini murni karena saya juga memiliki segala keterbatasan. Saya hanyalah seorang manusia. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu tapi jangan karena kekurangan kita sebagai manusia lalu diposisikan sebagai media untuk menekan, menghina, dan memperlakukannya sebagai subjek yang rendah dan hina dina. Jangan, dong, ya!  Bukannya, kekurangan itu justru untuk dihargai agar menjadi penopang bagi sisi kekuatan kita sebagai manusia?! Iya, kan?!

Kenapa, sih, saya begitu menikmati berpikir tentang seks?! Mungkin itu yang kerapkali dipertanyakan.

Seks adalah sebuah kunci bagi saya untuk bisa mempelajari lebih banyak tentang banyak hal dengan lebih mudahnya. Seks adalah sebuah kata kunci yang membuat saya bisa menangkap apa maksud dari semua yang ada. Bagi saya, seks bisa dijadikan sebagai landasan dasar semua ilmu yang ada.

Pertanyaan berikutnya pasti, “Kok, bisa?!

Kenapa tidak bisa? Saya cenderung lebih senang memikirkan hal-hal yang sepele dan kecil. Saya tidak memiliki kapasitas untuk memikirkan hal-hal yang besar dan di luar jangkauan saya. Saya tidak mau ribet dan tidak mau bersusah payah untuk memikirkan semua itu. Untuk apa juga? Sudah banyak yang lebih hebat yang bisa memikirkannya, sementara untuk hal-hal yang kecil dan sepele, seringkali dilupakan. Dibuang malah!!!

Bicara soal politik itu sangatlah terlalu besar untuk saya. Saya tidak suka memikirkan bagaimana bila terjadi perang dunia akibat perselisihan antar agama ataupun bila terjadi keributan besar di jalan akibat saling tuding menuding antara partai politik. Saya justru lebih senang membayangkan tentang masalah hubungan seksual para politisi besar. Soalnya, menurut saya, ini sangat berpengaruh kepada keadaan psikologis mereka. Ujung-ujungnya adalah kepada bagaimana mereka bersikap dan menentukan keputusan. Sekarang coba pikirkan, apa yang terjadi bila pemimpin bangsa kita ini tidak pernah mencapai orgasme maksimal dengan pasangannya?! Apakah mereka bisa mendapatkan ketenangan?! Bagaimana dengan hubungan rumah tangga mereka?! Apa ini yang menjadi alasan sering terjadinya kasus korupsi?! Apa pengaruhnya terhadap keputusan yang mereka ambil?! Jangan-jangan memang ada yang tidak beres?! Makanya mereka butuh banyak biaya untuk bisa mencapai orgasme maksimal itu sehingga mereka pun memiliki kepribadian yang berbeda. Tidak lagi memikirkan kepentingan bersama karena kebutuhan dirinya sendiri pun belum terpuaskan. Mungkin saja, kan?!

Begitu juga bila saya harus memikirkan tentang persoalan ekonomi. Waduh, malaslah saya harus berpikir tentang kasus Century. Panjang banget dan tidak akan pernah bisa berhenti. Ujungnya pasti tidak akan jelas. Saya pun memilih untuk berpikir tentang masalah seks yang berhubungan erat dengan perekonomian negara. Para pekerja seksual misalnya. Kenapa mereka sampai bisa menjadi seperti itu?! Apa karena faktor ekonomi atau pengaruh lainnya?! Begitu juga dengan kasus pelecehan seksual yang seringkali harus dihadapi oleh para TKI yang dikirim ke luar negeri. Kenapa, kok, sampai mereka bisa sampai dilecehkan begitu?! Kenapa pemerintah kita tidak mau mengambil sikap yang tegas dalam hal ini?! Apakah memang salah satu bentuk dari bagian “pelayanan” atas barang dagangan?! Mungkin juga, kan?!

Untuk urusan budaya juga saya tidak mau terlalu dipusingkan urusan pencurian hak patent atas barang-barang milik negara kita ini. Saya cukup memikirkan masalah tentang alasan sampai bisa terjadinya kasus poligami atau poliandri di negara ini. Banyak, lho, yang memang sudah sepertinya menjadi sebuah budaya. Mungkin kalau sempat membaca cerita tentang “Serat Centini”, tidak akan terkejut bila sampai ada istri yang bersuami sampai delapan orang. Ratu penguasa di jaman dulu saja bisa sampai seratus suami, kok?! Hebat banget, ya?! Bagaimana caranya?! Saya sendiri sampai sekarang masih bingung memikirkannya. Bagaimana juga dengan sejarah tentang seks lainnya?! Apa jangan-jangan sudah dikubur juga?! Atau sudah dijual?! Kenapa juga sampai bisa dikubur dan dijual?!

Keadaan sosial mungkin lebih jelas memiliki hubungan yang sangat erat dengan seks. Sudah banyak, kan, kasus di mana orang yang mengidap kelainan kejiwaan dan penyimpangan seksual, yang menjadi masalah bagi masyarakat. Seperti yang baru-baru ini saja terjadi dengan Babe. Bagaimana dia, sampai bisa melakukan perbuatan keji dan sampai tidak bisa masuk di akal itu?! Apa hanya dia saja yang demikian?! Bagaimana bila ada banyak yang lain?! Bagaimana juga bila terus berlanjut kepada generasi-generasi berikutnya?!

Untuk urusan Dia, sudah jelas. Saya memang menemukan Tuhan lewat seks. Setiap orang bisa menemukan jalannya masing-masing untuk bisa menjadi dekat dengan Sang Pencipta. Kebetulan saja saya memang lewat seks. Saya merasa seperti menemukan siapa diri saya yang sebenarnya lewat seks. Dengan menjadi lebih tahu siapa diri saya yang sebenarnya, saya merasa menjadi bisa lebih mengenal Dia dan merasa lebih dekat dengan-Nya. Hal ini sudah pernah saya ungkapkan dalam tulisan saya beberapa waktu yang lalu, yang berjudul “Menemukan Tuhan Lewat Seks“.

Yah, masih banyak lagi yang bisa saya hubungkan dengan seks. Banyak banget!!! Kalau saya tulis semuanya, tidak akan cukup seluruh tempat di halaman Kompasiana. Nanti banyak yang protes lagi?! ML, nih, selalu maunya menguasai Kompasiana!!! Ditambah lagi judul tulisan saya yang selalu berhubungan dengan seks. Wah, berabe dong, ya?!

Jadi, buat saya, emang enak mikirin seks. Saya tidak akan pernah mau berhenti berpikir tentang seks. Sayang banget kalau sampai seks dibuang terus-terusan. Biarlah saya saja yang memungutinya kecuali memang ada yang tertarik juga untuk membantu.

Semoga saja, ya!!!

Salam,

Mariska Lubis

16 Februari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial, Perubahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Enaknya Mikirin Seks

  1. Alya Pravita says:

    saya suka sekali tulisan mbak ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s