Antara Oedipus dan Electra

SAMA-SAMA sukanya dengan yang sudah tua!!! Yang umurnya jauh banget, deh!!! Lebih pantas jadi kakek, nenek, ayah atau ibu. Yang seumuran, nggak bakalan dilirik sama sekali! Memang nggak ada hasrat, tuh!

Saya juga bercinta dengan pria yang umurnya jauh tahun lebih tua. Tapi, ini tidak termasuk dalam kategori Oedipus, lho!!! Hehehe…. Kebetulan saja dapatnya yang jauh lebih matang, biarpun sebetulnya keinginan, sih, maunya paling jauh, ya, lima tahun, deh! Nasib… nasib!!! Nikmati sajalah ya!!! Hehehe…

Seorang remaja pria berusia sembilan belas tahun, mengaku ingin sekali punya pacar yang usianya paling tidak seumuran dengan saya. Dia mengaku tidak tertarik dengan perempuan sebaya. Nggak matang, katanya. Nggak seksi!!! Nggak menarik!!! Dia lebih suka dengan tante-tante. Apalagi kalau yang feminin, keibuan, dan jago memasak. Persis seperti ibunya. Hmmm….

Fantasi seksualnya juga mengejutkan. Dia berkhayal bahwa bercinta dengan tante-tante, pasti akan jauh lebih memuaskan. Alasannya, sudah pasti karena lebih berpengalaman. Sudah tahu teknik dan caranya!!! Dia juga yakin banget kalau bisa memuaskan mereka. Alasannya, karena dia masih muda, masih kuat, dan masih bisa bertahan lama. Lebih okelah, kasarnya.

Fantasi ini terus-menerus ada dan terus-menerus keluar setiap kali dia melakukan masturbasi. Makanya, dia kurang suka melihat gambar dalam film atau foto perempuan yang masih muda dan berbadan yahud, seperti pria-pria lainnya. Dia lebih suka yang sudah agak berumur, berpinggul besar, berperut sedikit buncit, dan berpayudara besar. Pendeskripsiannya persis seperti umumnya tubuh ibu-ibu yang sudah memiliki anak dan berumur sekitar tiga puluh atau empat puluh tahunan.
Lain lagi dengan seorang perempuan muda berusia dua puluh dua tahun. Dia berpacaran dengan seorang pria yang sudah berusia lima puluh lima tahun. Jauh banget, kan!!! Kalau alasannya materi, sih, lain ceritanya. Pria ini, toh, biasa-biasa saja. Malah orang tua perempuan ini yang berduit. Dia mengaku cinta, tuh!!! Dia mendapatkan kasih sayang berlebih, katanya. Sudah seperti kasih sayang seorang bapak terhadap anaknya. Nggak tahu, deh, kalau motivasi dari pacarnya itu?! Nggak usah dibahas, ya!!!

Perempuan ini mengaku, sejak kecil memang selalu ingin mendapatkan suami seperti ayahnya. Ayah yang dia anggap segala-galanya. Paling tampan. Paling ganteng. Paling pintar. Paling baik. Paling hebat. Paling paling, deh!!! Super duper!!! Top habis!!! Makanya dia suka ribut sama ibunya. Tak jarang juga sengaja membuat ibunya marah dan sakit hati. Sirik, katanya. Sebal juga. Dia menganggap kalau ibunya tidak pantas menjadi pendamping ayahnya itu. Ayahnya, menurut dia, seharusnya mendapatkan perempuan seperti dirinya. Lebih layak, katanya. Lebih bisa membuat ayahnya bahagia, katanya. Hmmm…

Saya mengambil kesimpulan kalau pria remaja tadi adalah seseorang yang mengalami Oedipus Complex, sementara yang perempuan tadi, mengalami Electra Complex.

Oedipus complex sendiri adalah sebuah perkembangan psikoseksual anak yang menganggap bahwa ayah adalah musuh terbesar mereka. Dalam merebut kasih sayang dan cinta dari seorang ibu tentunya. Bisa terjadi baik pada pria maupun perempuan. Diambil dari sebuah mitos Yunani, di mana Oedipus membunuh ayah kandungnya, yang bernama Laius, dan menikahi ibu kandungnya sendiri, Jocasta. Mirip cerita Dayang Sumbi, ya?

Sedangkan Electra complex adalah sebaliknya. Sebuah perkembangan psikoseksual anak perempuan, yang menganggap bahwa ibu adalah musuh terbesarnya, sedangkan ayah adalah segalanya. Sama juga, diambil dari sebuah mitos Yunani, Electra, anak dari Agamemnon, yang turut serta dalam perencanaan pembunuhan ibu kandungnya sendiri.

Kenapa sampai bisa terjadi???

Menurut Freud, hal ini dimulai pada anak-anak masih berusia antara 3-5 tahun, di mana pada usia ini, mereka baru mengerti ikatan erotis antara orang tua mereka. Perasaan perbedaan dan dibedakan, yang menyebabkan terjadinya sebuah ikatan berbentuk segitiga, ayah-ibu-anak, menjadi akar utama terjadinya kelainan perkembangan mental sang anak. Biarpun sebetulnya tahu, kalau ini memang begitu adanya, tetapi biasanya ada yang namanya superego dan rasa bersalah berlebihan yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Superego yang dimaksud adalah keinginan yang sangat besar untuk bisa menguasai. Sedangkan rasa bersalah disebabkan karena merasa ada keinginan besar untuk bisa menghentikan perilaku tidak baik yang dilakukan oleh salah satu dari orang tua mereka terhadap orang tua yang lain. Misalnya, ayah yang suka kasar terhadap ibunya atau ibu yang tidak memiliki rasa hormat terhadap ayahnya.

Ada beberapa teori lain yang mencoba menguraikan penyebab dari masalah ini. Lacan bilang karena merasa ada kekurangan, misalnya karena seorang perempuan yang pada masa anak-anak merasa tidak memiliki penis seperti ayahnya, sehingga ingin memiliki penis ayahnya itu dengan cara memiliki anak dari ayahnya. Sementara Melanie Klein menyebutkan bahwa bisa jadi akibat depresi pada anak, yang biasanya terjadi akibat ketidakharmonisan rumah tangga dan rasa saling berebut kasih sayang antara kakak dan adik.

Kalau menurut saya, sih, intinya, kita sebagai orang tua harus bisa menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Jangan sampai ada konflik ataupun kekerasan di dalam rumah tangga. Jangan pula ada perbedaan perlakuan antara anak yang satu dengan yang lain. Bila memang ada yang perlu mendapatkan perhatian lebih, sebaiknya diberi penjelasan dan pengertian. Singkatnya, bahagiakanlah anak!!! Buatlah mereka bahagia!!!

Pendidikan tentang seks yang baik dan benar, seperti pengenalan jenis kelamin, juga harus diperhatikan baik-baik. Jangan sampai si anak merasa ada perbedaan yang jauh dan salah persepsi. Kasih sayang dan cinta pun harus bisa diuraikan dan dijelaskan secara bijaksana sehingga bisa dipahami dan dicerna oleh anak dengan lebih baik.

Semoga bisa memberikan manfaat, ya!

Salam,

Mariska Lubis

22 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Antara Oedipus dan Electra

  1. Old man never die, they just fade away…. but they’re always strike back!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s