Harga Cinta Istri Matre

MATERIALISTIS?! Mungkin saja!!! Di dunia yang serba materialislis ini memang kebanyakan bisa dibeli. Tidak hanya berlaku buat para Pekerja Seks Komersial. Banyak di antara kita yang juga melakukannya baik secara sadar ataupun tidak sadar. Ada yang memang suka, tetapi banyak juga yang ogah, tuh!!!

Seorang ibu pernah bercerita, kalau selama lebih dari 25 tahun perkawinannya, setiap kali beliau berhubungan dengan suami, beliau selalu meminta semua lampu di dalam kamar dimatikan. Tapi bukan ini yang membuat saya heran. Beliau mengaku, kalau tidak pernah menolak bila diajak berhubungan intim dengan suaminya. Alasannya bukan karena memang mau juga, tetapi karena setiap kali habis melakukannya, sang suami selalu menyelipkan uang belanja yang jumlahnya lumayan banyak di dompetnya.

“Pasti begitu, Tan?”

“Ya, iyalah!!!”

“Memangnya buat apa?”

“Buat tante belanja, dong! Buat apa lagi?!”

“Kayak ucapan terima kasih, ya?!”

“Kira-kira begitulah! Hehehe….”

“Kalau nggak dikasih, gimana?”

“Ngambek, dong!!!”

“Kenapa ngambek?”

“Dia, kan, sudah enak!!! Giliran tante mana?”

“Memangnya tante nggak enak juga?”

“Hu-uh!!! Lebih enak belanja kali?!”

“Oh!”

Tersenyum saya dalam hati. Apa bedanya, ya, sama Pekerja Seks Komersial? Matre benar, nih, si Tante!!! Bagaimana ceritanya, ya, hubungan mereka bisa seawet itu?! Apa suaminya nggak pusing, tuh! Apa suaminya nggak peduli juga?! Atau jangan-jangan suaminya biasa jajan juga?! Hehehe…. Kacau banget, deh, ah!!! Nggak sehat!!!

Jadi ingat ada seorang teman juga yang sudah pernah ketahuan beberapa kali selingkuh oleh istrinya. Awalnya, sudah dapat dipastikan sang istri marah berat. Minta cerai segala!!! Tapi, terus baikkan lagi, tuh!!! Soalnya, kemudian, teman saya itu pasti membelikan sesuatu untuk istrinya. Mobil Jaguar. Apartemen mewah. Rumah di kawasan elite. Pokoknya semua yang mewah-mewah, deh!!!

Saya pikir, hoki benar teman saya yang satu ini. Hoki karena punya duit banyak, maksudnya!!! Pantas saja kalau dia santai-santai selingkuh sana-selingkuh sini. Sampai sekarang, lho!!! Kalau ketahuan, tinggal beli!!! Beres, dah!!!

Yang menyedihkan justru sang istri. Kok, mau-maunya, ya, diperlakukan seperti itu?! Apa nggak merasa dilecehkan?! Nggak merasa dihina dan direndahkan?! Apa merasa tersanjung kalau dibelikan barang-barang mewah itu?! Hmmm….

Beda lagi dengan cerita yang satu ini.

Seorang wanita bernama Yohana, tergila-gila dengan seorang pria tampan. Semua kebutuhan dan keperluan pria itu, dia belikan. Mulai dari baju, sepatu, dasi, parfum, bahkan sampai celana dalam pun dia belikan!!! Tidak ketinggalan sabun dan deodoran. Wah, pokoknya semuanya, deh!!! Padahal, pria pujaan hatinya itu sama sekali tidak menyukai perilaku ini. Sudah ditolak dengan cara halus sampai kasar, teuteup saja tidak mau berhenti. Ada saja cara yang dilakukannya agar barang ini bisa sampai ke tangan pria itu. Titip ke sahabatnyalah, kirim lewat paket ke rumah orangtuanyalah, malah pernah lewat ibu dari perempuan ini sendiri. Gila, ya?!

Alhasil, bukannya dia mendapatkan pria itu. Dia malah dimaki-maki dan ditinggalkan jauh-jauh!!! Memangnya enak?!

Kalau menurut saya, kasihan juga si Yohana itu. Dia adalah tipe perempuan yang kurang percaya diri. Maksudnya, sih, baik, dengan memberikan perhatian, tetapi malah jadi menyinggung perasaan. “Emangnya saya cowok apaan?!” barangkali ini yang ada di dalam benak pria itu. Didikan orang tuanya juga saya rasa ada yang salah. Bisa jadi orang tuanya memang mendidiknya dengan cara memberi perhatian lewat barang-barang. Mungkin saja, kan?

Saya sebenarnya sedih sekali dengan keadaan seperti ini. Masalahnya, kejadian yang sama sudah seringkali terjadi. Berulang-ulang dan terus berlanjut. Pathetic!!! Muak juga!!! Terkadang saya ingin sekali teriak ke telinga orang-orang macam ini, “Oi!!! Nyadar, dong!!! Malu!!! Kena batunya baru nyaho!!!“. Tapi, ya, mana mungkin bisa?!

Tidak bisa dipungkiri, kita memang butuh uang. Tanpa uang, kita juga repot!!! Hanya saja, ada yang namanya harga diri, yang kalau sudah jatuh, sulit untuk dinaikkan kembali. Bukan hanya di mata orang, tetapi dalam diri sendiri. Memberikan penilaian rendah terhadap diri yang dilakukan secara tidak sadar, dan akhirnya berbuntut kepada kepasrahan terhadap nasib. Ditutupi dengan kebahagiaan semua pula!!! Ya, kebahagiaan materi doang!!! Bukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Saya tidak bisa berharap banyak juga. Hanya saja, siapa tahu, tulisan ini bisa membantu pembaca untuk berpikir kembali apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Apa harapan kita yang sebenarnya. Bagaimana kehidupan kita selanjutnya?

Salam,

Mariska Lubis

30 Oktober 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s