Belajar Tentang Seks

Sudah bukan sesuatu yang aneh lagi bila kita mendengar kata “seks”, maka pikiran kita menjadi tidak jauh-jauh dari hubungan seksual dan kenikmatannya. Sungguh sangat disayangkan sekali bila hal ini terus terjadi. Pikiran kita telah membuat seks yang seharusnya merupakan sesuatu yang benar-benar indah menjadi sesuatu yang sifatnya hanya porno dan merusak saja. Kenikmatannya pun hanya seputar kepuasan fisik dan psikologis semata. Haruskah semua ini terus berlanjut?! Bagaimana dengan kehidupan di masa depan?!

Seandainya saja kita semua mau belajar dan mau mengerti serta memahami apa sebenarnya seks itu, maka segala permasalahan yang harus kita hadapi sekarang ini mungkin bisa diperbaiki dan dibuat menjadi lebih baik lagi. Seks itu tak mesti porno dan seks adalah anugerah serta rahmat terindah yang diberikan oleh Tuhan. Sudah sepatutnya kita semua mau menghargai dan menghormatinya agar kehidupan kita pun menjadi lebih baik, lebih berarti, dan lebih bermanfaat.

Seorang sahabat, Iden Wildensyah, menuturkan pengalaman pribadinya atas apa yang dipikirkan, diketahui, dan dipahaminya tentang seks, sebelum dan sesudah mencoba mempelajari tentang seks secara lebih mendalam. Sebuah sukacita yang sangat luar biasa saya rasakan untuk ini semua dan saya dengan senang hati ingin bisa selalu berdiskusi dengannya.

Ada hal lain lagi yang membuat saya senang. Seorang Kompasiners  yang namanya tidak mau disebutkan bercerita tentang apa yang didapatnya dari belajar tentang seks. Saya ingin  sekali membagikan apa yang diungkapkannya  lewat message saya di inbox, dengan ijin dari dia tentunya. Saya berharap semua ini bisa memberikan inspirasi bagi semua untuk mau belajar tentang seks.

“Membaca tulisan Mariska Lubis yang melihat seks dalam berbagai sudut pandang, rasanya saya ingin menuliskan sedikit saja tentang seks dalam pandangan saya. Seks seperti kata Mariska Lubis, adalah titik awal kehidupan, pembuat dinamika dan bahkan menuntun kepada penemuan atas karunia Tuhan Yang Maha Besar. Seks pada awal saya mengenalnya adalah sebuah proses biologis antara laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa.

Bagi anak kecil, seks itu tabu untuk dibicarakan apalagi dilakukan. Seks dikenal pertama kali SMP kelas 3. Memasuki kelas 3 ini, seks semakin membuat saya penasaran walaupun tidak sampai membuat saya tertarik memperdalamnya hingga jenjang yang lebih jauh, cukup sebagai pelajaran bukan sebagai jurusan yang harus di ambil saat kuliah.

Memasuki usia dewasa, seks bagi saya tetap sebuah kesenangan. Bahkan egoisnya saya, seks dianggap sebagai kesenangan laki-laki atas perempuan. Saya tidak melihat bahwa seks adalah juga kebutuhan perempuan. Saya belum menganggap seks adalah basic need semua manusia apalagi perempuan karena perempuan hanya media pelampiasan saja. Pandangan saya waktu itu masih satu sisi dalam persfektif pribadi saja, masih terseret arus machoism. Saya mengenal seks seperti itu dari bacaan, internet serta penjerumusan senior pada film-film biru yang semakin menegaskan bahwa kuasa seks adalah laki-laki atas perempuan. Walaupun saya sudah mengenal seks, saya tetap memegang teguh bahwa seks bebas bagaimanapun tidak diperbolehkan. Dan bersyukur sampai saya menikah, saya masih memegang teguh pendirian itu.

Memegang teguh pendirian bahwa saya tidak boleh terjerumus seks bebas juga karena saya menganggap bahwa seks adalah jeratan kaum perempuan atas laki-laki. Perempuan menjerat laki-laki dengan seks agar laki-laki tidak berpaling ke perempuan lain selain dirinya yang memberikan kepuasan lewat seks. Saya masih berpikir bebas (bukan seks bebas) saya tidak mau terjerat oleh kuasa perempuan, saya ingin bebas berkelana, berpetualang dan mengaktualisasikan diri dalam berbagai macam aktivitas. Agar saya tetap bebas seperti itu, saya harus menjauhkan diri dari jeratan seks perempuan. Segila-gilanya saya, saya adalah mahluk yang bertanggungjawab dan tidak tega melihat seseorang berkorban walaupun rela dan suka melakukannya. Saya bukan binatang yang dengan mudah meninggalkan pasangan setelah puas melakukan hubungan seks. Saya bukan binatang yang tidak mampu mengendalikan nafsu. Sekali lagi, Saya bersyukur memegang teguh pendirian itu sampai saya menikah.

Menjelang menikah, barulah saya memahami seks lebih dalam lagi. Seks yang saya pahami jauh lebih filosofis bukan lagi sekedar pemuas nafsu tetapi media berpikir. Seks benar-benar menenggelamkan saya pada fenomena berpikir lebih dalam tentang seks. Inilah titik balik saya memahami seks sebagai bagian dari kewajiban suami terhadap istrinya begitu juga sebaliknya istri terhadap suaminya. Bukan sekedar menyalurkan hasrat seksual saja, tetapi lebih dari sekedar itu. Saya berpikir lebih dalam tentang seks.

Garis bawahi kata kewajiban, dalam Agama Islam, hukum itu terdiri dari tiga wajib, sunah dan haram. Dari sini saya berpikir jika seks itu wajib, maka dia tidak mudah dilakukan. Saya selalu membandingkannya dengan kewajiban umat Islam salah satunya Sholat. Setiap ibadah wajib, itu selalu ada banyak rintangannya, dia tidak mudah dilakukan dan kalau dilakukan pahalanya besar. Seks yang wajib tetapi tidak mudah dilaksanakan tersebut karena seks dengan pasangan resmi itu membutuhkan kematangan emosi, suasana yang kondusif dan pikiran yang tenang. Ketiga hal ini mudah dibaca tetapi selalu ada rintangan ketika dilaksanakan. Nah seks yang wajib tentu saja adalah seks yang dilakukan dibawah pernikahan. Sementara seks sunah itu pelaksanaan yang dilakukan mengikuti Rosul.

Sebaliknya dengan wajib adalah haram. Seks menjadi haram ketika dilakukan bukan dengan pasangan yang dinikahi. Seks yang haram disebut dengan zina, dan zina adalah dosa yang paling berat. Sesuatu yang diharamkan selalu berbanding terbalik dengan yang diwajibkan. Dia lebih mudah dilakukan, lebih enteng tanpa godaan dan lebih terbuka untuk melakukan.

Dengan paradigma berpikir tentang seks demikian, saya berani memutuskan menikah muda daripada saya harus terjebak dalam lingkaran seks yang diharamkan. Jujur saya mengapa saya suka tulisan Mariska Lubis karena secara tidak langsung mengajarkan untuk memulai seks dari cara berpikir yang benar tentang seks. Jika seks hanya pemuas nafsu saja, dia dengan mudah akan hilang. Dalam sekejap saja, kenikmatan seks itu dirasakan. Tetapi jika dilakukan dengan berpikir yang benar, dengan pasangan resmi, selain seks menjadi lebih menyenangkan, juga mendapatkan pahala kebaikan.

Terima kasih saya ucapkan kepada Iden Wildensyah dan seorang Kompasianers yang mau berdiskusi dan berbagi tentang ini semua. Selamat ulang tahun juga ya Iden!!! Semoga semua ini bisa memberikan banyak arti dan manfaat bagi semua.

Salam,

Mariska Lubis

5 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s