Harga Diri Seorang Anak Indonesia

Garuda Pancasila - bramvoltage.com

SEPERTINYA sudah waktunya kita mempertanyakan hal yang satu ini mengingat kita sudah terlalu sering mengaku bahwa kita adalah seorang nasionalis yang sangat mencintai bangsa dan negara Indonesia tetapi tetap tidak mau belajar untuk menjadi seorang anak Indonesia yang memiliki harkat dan martabat serta harga diri sebagai anak bangsa.

Contoh yang paling gampang, siapa diantara kita yang lebih bangga memakai baju merek desainer Internasional dibandingkan dengan baju buatan dan hasil karya desainer lokal? Kayaknya lebih keren pakai baju Versace, ya, dibandingkan dengan memakai kain songket dari Sumatra? Padahal, benang emas yang digunakan oleh desainer merek terkenal itu, diadaptasi dari benang emas asal Sumatera yang sering digunakan untuk pembuatan songket.

Ada lagi, nih! Tas yang terbuat dari tali buatan Yogya menjadi laris manis di Amerika dan kemudian menjadi tas bergengsi yang dibeli oleh orang Indonesia. Padahal, kalau dibeli di Yogya harganya relatif jauh lebih murah dan tentunya tidak menguntungkan bangsa lain. Kan, jadi tidak memboroskan devisa negara juga.

Itu baru urusan baju. Bagaimana dengan urusan sejarah bangsa. Seberapa banyak dari kita yang telah membaca buku sejarah bangsa Indonesia dan atau paham tentang sejarah bangsa kita ini. Paling-paling tahunya cuma kita keturunan dari Yunan. Pernah ada Kerajaan Majapahit dan Pajajaran dan Kerajaan Goa adalah Kerajaan tertua di Indonesia. Cukup sampai di situ saja. Tapi, saya mau bertanya, apa ada yang tahu siapakah Prabu Wangi dan Prabu Siliwangi? Samakah orangnya? Yang mana yang bernama Lingga Buana?

Bila memang tidak tahu jawabannya, berarti tidak tahu juga apa yang pernah diucapkannya soal apa yang akan terjadi tentang penyebab perpecahan di negeri tercinta kita ini. Saya tidak akan memberitahukannya. Silahkan mencari tahu sendiri agar semua bisa belajar.

Saya masih ingat ketika banyak sekali aktivis yang mengatasnamakan “korban pemerintah” berkoar-koar di negeri orang tentang kebobrokan Indonesia. Menceritakan bagaimana kekejaman perlakuan pemerintah terhadap mereka. Ada yang bilang sampai direndam di air berhari-harilah. Ada juga yang masuk penjara dan disiksalah. Bahkan tidak sedikit juga yang mengaku-ngaku diusir oleh negara sehingga mencari suaka politik ke mana-mana. Pertanyaan yang pernah saya ajukan pada waktu itu hanya satu, “Berapa uang yang sudah kalian terima untuk bisa bicara seperti ini di negeri orang atau berapa banyak uang yang kalian harapkan bisa kalian dapat dengan bicara seperti ini di negeri orang?”.

Soal hukuman, bagi saya tidak masalah. Seorang penghianat bangsa memang patut untuk dihukum seberat-beratnya. Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang tidak menghukum seorang penghianat bangsa. HAM?! Lebih baik dianggap biadab dengan mengorbankan satu atau segelintir orang saja dibandingkan harus mengorbankan jutaan saudara sebangsa dan setanah air lainnya.

Ini bukanlah basa basi atau omong kosong belaka. Saya sekolah politik di sebuah universitas yang menjadi partai sosialis terbesar di negeri Kangguru. Berkali-kali saya datang dan diundang ke acara yang isinya hanya menceritakan kejelekan dan kebobrokan negara Indonesia oleh mereka yang mengaku anak Indonesia juga. Bagi saya, mereka adalah pecundang dan penakut. Sama sekali tidak punya harga diri. Malah ada seorang aktivis terkenal yang harus saya gampar di muka umum karena menurut saya, dia adalah seorang pengkhianat. Bagaimana tidak?! Dia mengaku sebagai seorang “pahlawan” yang ingin membantu memperbaiki bangsa. Berkoar-koar di mana-mana dan mendapatkan simpati dari banyak pengikut, sampai banyak para pengikutnya yang kemudian harus kabur dari Indonesia karena ketakutan sendiri. Para pengikutnya ini menginggalkan keluarga dan hidup di negeri orang tanpa ada harapan yang jelas. Pekerjaan tiak punya. Makan pun susah. Lalu kemudian, orang yang mereka puja ini datang, dan mendapatkan banyak uang dari kedatangannya. Tapi, apakah dia peduli dengan para pengikutnya ini? Sudah dapat dipastikan tidak sama sekali. Semuanya masuk ke kantong sendiri!!!

Sama juga dengan orang yang mengatasnamakan rakyat untuk mendapatkan posisi. Tidak ada bedanya menurut saya. Tatkala mereka sudah di atas, ketahuanlah semuanya apa niat mereka sesungguhnya. Duniawi memang sangat menggiurkan. Hati dan nurani pun menjadi hilang entah lenyap ke mana. Sudah tidak bisa membedakan lagi mana diri sendiri, keluarga, dan saudara. Apalagi negara!!!

Bila memikirkan semua ini, emosi terus terpicu. Marah!!! Kesal!!! Dendam!!! Yup!!! Saya tidak bisa menyalahkannya sama sekali. Saya juga sama. Namun kemudian, saya berpikir kembali. Apa untungnya marah, kesal, dan dendam bila kemudian hanya diam saja. Terlalu banyak yang mengkritik dan menghujat tetapi tidak mau melakukannya. Berapa banyak orang pintar di negeri ini yang memilih bungkam dan duduk berpangku tangan serta asyik mengkritik di depan televisi? Buanyak banget, kan? Tak heran bila negeri ini tidak maju-maju.

Banyak juga yang turun dan maju tetapi tidak jelas arah dan tujuannya. Terlalu bersemangat sehingga lupa akan tujuan awalnya. Berpikir terlalu besar dan lupa akan hal yang kecil yang justru lebih berarti dan bermanfaat bagi negeri ini. Bicara memang mudah, tetapi untuk bisa menjadi seorang pemenang membutuhkan pemikiran yang jauh lebih matang dan dalam. Jangan salahkan mereka yang lebih berkuasa. Tanya dulu kepada diri sendiri seberapa besar “kemampuan” dan “kekuatan” diri sendiri. Apakah sudah benar-benar mampu? Apakah benar-benar bisa? Apakah semuanya sudah dipikirkan masak-masak? Apakah sudah tahu akibatnya? Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi orang lain yang sebangsa dan setanah air.

Akuilah dan jujurlah pada diri sendiri. Apakah harga diri yang kita sanjung ini adalah benar harga diri seorang anak Indonesia? Seorang anak Indonesia sejati yang memang benar-benar mencintai dan menghargai bangsanya. Seorang anak Indonesia yang berani mengusungkan dada dan berkata “SAYA ADALAH INDONESIA”.

Selamat Hari Pahlawan!!! Hiduplah Indonesia Raya!!! Merdeka!!!

Salam,

Mariska Lubis

6 Januari 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Perubahan, Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Harga Diri Seorang Anak Indonesia

  1. Selamat Hari Pahlawan.. Semoga pahlawan tidak hanya untuk dikenang, tapi diteladani juga sikap dan perjuangannya .. MERDEKA!!!

  2. ale says:

    hmm…jadi pengen baca sejarah lagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s